Dolar Naik Jokowi Turun / Karikatur/Turi Kastolani

Jurnalpublik.com – Pada abad ke 18 Masehi, muncul seorang pemikir kenegaraan di Prancis, yang bernama Jean Jacques Rousseau, dengan teorinya yang paling terkenal adalah tentang kontrak sosial. Dimana dalam teorinya tersebut, Rousseau menerangkan bahwa terbentuknya sebuah negara, adalah karena adanya masyarakat yang mengadakan kontrak sosial untuk membentuk sebuah negara. Oleh karenanya, maka sumber kewenangan dalam sebuah negara adalah berada ditangan rakyatnya.

Teori ini pun kemudian mengilhami orang-orang di berbagai belahan dunia, untuk melakukan revolusi dan mengatur ulang tentang tata kelola negara. Dimana kekuasaan negara-negara yang sebelumnya cenderung feodalisme, perlahan dihapus dan dikembalikan kepada rakyat.

Kemudian rakyat tersebut membentuk satu negara baru, dan memilih orang-orang menempati posisi-posisi dalam negara tersebut, dengan berlandaskan pada satu kontrak sosial yang telah di sepakati bersama. Dan bila kontrak sosial tersebut tidak mampu dipenuhi, maka mandat pun dicabut.

Setelah melewati masa perkembangannya, dan masuk hingga hari ini. Maka model kontrak sosial itu pun kini terus berkembang. Dan bentuknya kini berupa semacam janji-janji kampanye antara calon pejabat dan rakyat. Janji-janji kampanye itulah yang kemudian menjadi pegangan bagi rakyat, untuk melakukan tuntutan-tuntutan politik kepada orang yang dipilihnya.

Jika dalam perjalanannya ternyata janji-janji itu tidak bisa dipenuhi, maka rakyat pun berhak untuk mencabut kepercayaannya pada orang tersebut. Sebab itu artinya dia telah menyalahi kontrak sosial, ingkar janji.

Berdasar pada teori tersebut, jika saya lihat pada situasi negara hari ini. Maka suka atau tidak suka, saya pun dapat katakan bahwa orang yang hari ini duduk sebagai presiden Republik Indonesia, yakni Joko Widodo, adalah orang yang telah ingkar terhadap kontrak sosialnya. Sebab dia telah ingkar janji. Sebab dia tidak punya visi dalam memimpin Indonesia. Dia bekerja tak tentu arah dan serampangan.

Bangsa sebesar dan se strategis Indonesia, kini tengah di pimpin dengan cara amatiran. Mengapa saya mengatakan demikian? Sebab saya membaca kembali daftar 66 janji Jokowi semasa kampanye 2014 lalu, kemudian saya amati kondisi bangsa hari ini, dan saya tercengang, sebab ternyata belom ada satu pun janji kampanye Jokowi yang sudah di penuhi. Silahkan anda cek di Google, semua janji kampanyenya masih tercatat disana. Semuanya masih membeku dan tersusun rapi, tak tersentuh sama sekali.

Bisa kita bayangkan, sudah 4 tahun lamanya Jokowi menjabat, tapi belom ada satu pun janji kampanyenya yang terealisasi. Sungguh ini benar-benar kejahatan yang luar biasa. Memimpin negara tanpa rencana. Janji kampanye, adalah platform bagi presiden dalam bekerja. Janji kampanye itu adalah kontrak sosial antara presiden dan rakyatnya.

Komitmen presiden bekerja untuk rakyat dan bangsa, dapat diukur dari sejauh mana janji kampanyenya terlaksana. Jika janji kampanye tidak satu pun terlaksana, maka jelas presiden bekerja tanpa rencana. Jadi sebenarnya, Jokowi ini sedang bekerja untuk siapa?

Presiden semacam ini, sungguh tidak layak untuk diberi kesempatan kedua. Sebab dia telah meraih kekuasaannya dengan kebohongan. Dia tebarkan 66 janji saat kampanye, kemudian setelah berkuasa, tidak satu pun janjinya yang dipenuhi. Model presiden seperti ini, sangat berbahaya bagi masa depan negara. Sebagai rakyat yang memegang mandat tertinggi atas negeri ini, kita harus memecat/memberhentikan Jokowi. Sebab kontrak sosialnya antara dia dan rakyat, tidak bisa dia penuhi.

Adalah suatu keluguan berat, bila ada yang masih rela mendukung Jokowi berkuasa kembali. Karena memberi kesempatan kedua bagi Jokowi, sama dengan mendukungnya untuk berdusta yang kedua kali. Dan berdusta dalam perkara negara, adalah suatu kejahatan yang sangat luar biasa. Maka jangan pernah lagi memberi mandat pada Jokowi. Karena kekuasaan negara ini terlalu mahal, jika diserahkan kepada orang yang amatiran!

Oleh : Setiyono
(Pengkaji sejarah, hukum dan demokrasi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.