Jakarta, Jurnalpublik.com – Betapa kebanggaan akan sebuah posisi yang sedang diduduki membuat kita lupa sesungguhnya siapa kita. Sehingga membuat kita berlaku dengan cara yang tidak seharusnya, membuat kita bersikap dengan cara yang tidak semestinya, pada orang lain.

Memandang orang lain rendah dan menunjukan bahwa kita tinggi, bersikap semena-mena, padahal posisi yang sedang kita duduki hanyalah didapat dari bantuan orang lain. Sebuah posisi yang didapat dari pemilihan dan penunjukan, posisi presiden, presiden partai, menteri, guru besar, anggota dewan, pimpinan dewan negara atau pimpinan dewan syariah partai atau posisi pimpinan lain yang didapat dari penunjukan dan pemilihan, bukankah itu didapat dari bantuan orang lain?

Itu hanyalah posisi sementara, yang masanya pun sudah dapat kita hitung kapan akan selesai, terpampang didepan mata, terjangkau tangan kapan selesainya.

Dan setelah posisi itu selesai apa laku? Menunduk malu karena berlaku hina.

Sebuah posisi yang didapat bukanlah sebagai given, apalah artinya.

Namun bahkan, posisi yang merupakan given sekalipun diabaikan oleh Allah, posisi Rosul yang jelas-jelas merupakan given untuk seorang Muhammad juga diabaikan Allah, dan digantikan dengan posisi yang mungkin kita anggap sepele, posisi sebagai seorang hamba.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Isra’ : 1).

Allak tak menyebut dengan kata Rosul, tapi menyebut dengan kata hamba-Nya. Hamba Allah adalah posisi sebenarnya yang patut kita banggakan. Bukankah kita dan Rosulullah setara mempunyai posisi yang sama sebagai seorang hamba Allah? Bukankah itu hal yang lebih membanggakan lagi?

Lantas mengapa masih saja kebanggaan kita akan suatu posisi yang dibantu oleh orang lain membuat kita lupa diri, membuat kita congkak dan berlaku tak terkira? Posisi Rosul saja Allah abaikan, apalagi posisi di dunia, bukankah kita sama dihadapan-Nya sebagai seorang hamba?

Lenny Hamdi
PN KAKAMMI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.