Jakarta, Jurnalpublik.com – Mereka menganggap diri membela agama; tapi mereka tidak paham agama, umumnya mereka tidak punya ulama, tidak punya maroji’ (rujukan), tidak bermazhab, tidak paham bahasa Arab, tidak punya organisasi, sosial atau politik, juga tidak pernah haji atau umroh.

Mereka, setelah meninggal biasanya baru terungkap; hidupnya tertutup, jarang bergaul, jika perempuan bercadar, dikenal sebagai orang biasa saja, dan lain-lain identitas yang intinya adalah bahwa ia “punya dunia sendiri” yg tidak pernah tidak terlacak.

Tapi katanya perempuan mereka bercadar, lelaki mereka memakai celana cingkrang, berjenggot, jidatnya hitam, dll. Tetapi mereka tidak mengerti Islam; menyerang rumah ibadah, membunuh ibu dan anak-anak dan semua hal yang dilarang dalam perang dan damai.

Memang mudah menumbuhkan jenggot, gak usah dicukur, atau berpakaian untuk mengelabui manusia, tapi Allah Maha Tahu. Sebab jika memang mereka ingin mati sebagai syuhada, mengapa menyerang tempat yg diharamkan agama? Mengapa tak menunggu mati di bulan suci?

Jangankan syariat dalam perang sementara syariat dalam hidup yang damai aja mereka gak paham. Sehingga mereka bukan orang Islam, mereka robot yang diprogram untuk misi merusak nama agama Islam secara simbolik.

Betulkah mereka robot? Saya ingin menceritakan robot lain: “Suatu hari George Bush Jr, menyerang Iraq dan membunuh Saddam Husen serta membuat perang sipil dan pengungsian yang mengorbankan jutaan jiwa dengan alasan fiktif: senjata pemusnah massal.”

Apakah fiksi George Bush JR soal “Weapon of Mass Destruction” dan “Crusade” itu sudah kita hentikan? Apakah nyawa jutaan manusia akibat fiksi perang kaum ultra kanan bisa dilupakan dan sudah terbayar? Apakah kita bisa menghentikan khayalan orang sakit jiwa?

Jadi, orang gila itu ada di pucuk pimpinan, yang memerintahkan perang, dan menyiapkan regulasi bagi peperangan, ada juga yang menjadi robot yang menyiapkan diri untuk kematian yang konyol… siapa yang salah? Yang penting kita jangan jadi korban!

Indonesia ini, bukan saja tidak boleh jadi korban, tetapi harus menjadi penemu jalan baru bagi perdamaian dan dunia yang aman, yang hakiki. Maka, kita tidak boleh ikut-ikutan apalagi mengikuti jejak kebodohan dan kekalahan. Kita punya jalan sendiri.

Indonesia, bangsa yang memandatkan “ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial…” ini tidak boleh melayani birahi para penggiat perang yang mendapatkan keuntungan rupiah dan dolar dari tumpahnya darah…

Kita punya jalan sendiri, akal sehat kita dan jiwa kita yang tenang. Bahwa kita punya jalan kehidupan. Amanah ini harus menjadi visi peradaban Pancasila kita. Menuju dunia yang damai dan tenang. Maka kita menolak meregulasi perang. Kita meregulasi kehidupan.

Pikiran ini, pikiran para pendiri bangsa. Jika ada yang tak paham maka memanglah bukan dia yang layak di depan. Indonesia ini raya. Tempat benih kebaikan agama dan negara dipersatukan. Tempat timur dan barat bercumbu menemukan cintanya yang sejati. Khalifah Bumi.

Minggir lah yang tak sanggup. Amanah ini berat. Biarkan yang lain yang punya pikiran dan yang sanggup memikul beban. Ada yang ingin mengalihkan perhatian. Kegagalan negara ingin dikompensasi dengan perang. Akal sehat kita berkata tidak!

Bismillah, ini harapan menjelang Ramadhan. Tapi jika kalian tetap ingin menulis dalam aturan bahwa agama dan simbol-simbolnya adalah perkakas perang, maka aku akan melawan. Aku berdoa agar Tuhan membuat perhitungan dengan kalian.

Indonesia bukan tempat kalian. Indonesia akan melawan sakit jiwa kalian. Orang-orang gagal yang ingin selalu mencari alasan. Mencipta kehancuran tapi membangun pencitraan. Semoga Ramadhan mendatangkan kesadaran.

#MarhabanYaRamadhan!

Twitter @Fahrihamzah 14-15/5/2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.