Jakarta, Jurnalpublik.com – Terkait ramai di sosial media tentang beredarnya video seorang santri yang digeledah oleh aparat kepolisian dan seorang wanita berhijab diturunkan dari bus, Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia angkat bicara.

“Kita prihatin dan sedih dengan aksi teror bom di Surabaya, oleh karenanya kami menuntut aparat kepolisian segera mengusut secara terbuka dan transparan tentang motif, pelaku dan aktor intelektualnya. Tapi kami juga prihatin dengan adanya persekusi terhadap seseorang yang hanya karena penampilannya memakai sarung dan wanita bercadar,” kata Ketua Bidang Hukum KAKAMMI dan sekaligus praktisi hukum, Slamet, di Jakarta (16/5/2018).

Slamet menjelaskan adanya hukum exclusionary rules yang dapat melindungi hak asasi setiap orang.

“Sejak tahun 1914 di Amerika sudah dikenal exclusionary rules, adalah istilah yang awalnya dikenal dalam hukum Amerika Serikat terkait perolehan alat bukti yang berasal dari filosofi perlindungan atas penggeledahan dan penyitaan sewenang-wenang,” tutur Slamet.

“Sederhananya exclusionary rules adalah suatu aturan yang melarang (aparat-red) negara melakukan penggeledahan dan penyitaan secara ilegal. Penggeledahan sewenang-wenang adalah pelanggaran hak asasi manusia. Bahkan alat bukti yang dihasilkan melalui penggeledahan dan penyitaan yang ilegal jika nantinya dipakai di pengadilan tidak sah,” jelas Slamet.

Di Indonesia tindakan penggeledahan ada tata caranya, yaitu penggeledahan dapat dilakukan jika ada izin dari pengadilan negeri, sesuai Pasal 33 KUHAP. Jika pun dalam keadaan mendesak, penggeledahan dapat dilakukan tanpa izin pengadilan negeri, tapi harus segera melaporkan ke pengadilan negeri setelah selesai penggeledahan, Pasal 34 ayat (1) KUHAP.

“Seseorang dapat menolak dilakukan penggeledahan terhadap dirinya, apabila penggeledahan itu dilakukan dengan melanggar hukum,” tegas Slamet.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.