Pontianak, Jurnalpublik.com – #NgopiBarengFahri yang ke 19 sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat (8/5/2018).

Dalam Orasi politiknya, Fahri menyebutkan gelombang-gelombang yang sudah dilalui Indonesia.

“Tahun 1908 ada gelombang Boedi Oetomo dengan keinginan agar bangsanya tidak dijajah, mereka membangun gerakan sosial dan pendidikan untuk menyadarkan bangsanya. Tahun 1928 para pemuda mengidentifikasi diri sebagai Indonesia melalui sumpah pemuda. Tahun 1945 gelombang kemerdekaan. Tahun 1948 datang ujian terhadap ideologi negara melalui pemberontakan PKI. Tahun 1968 awal berdirinya Orde Baru. Tahun 1998 Orde Baru tumbang,” kata Fahri.

Fahri menerangkan bahwa Indonesia terus mengalami siklus 20 tahunan.

“Setiap awal 20 tahunan ada ide yang muncul. Dan itulah yang menjaga Indonesia seperti gelombang,” tutur Fahri.

“Apa kata mahasiswa 20 tahun yang lalu, Orde Baru sudah tidak cukup untuk memimpin Indonesia, bangsa ini terlalu besar kalau harus diserahkan kepada satu kekuatan absolut. Anak-anak bangsa ini mulai percaya diri, bahwa kami bangsa Indonesia punya pikiran untuk membawa bangsa ini lebih baik, lebih besar, karena itu enyahlah sistem otoriter, enyahlah otoritarianisme, enyahlah segelintir elit yang ingin memimpin Indonesia tanpa kebebasan, tanpa ekspresi, tanpa kemerdekaan berserikat berkumpul dan menyatakan pendapat,” jelas Fahri.

“Dan tahun 2018 ini kita akan menghadapi siklus 20 tahunan dengan memperingati 20 tahun reformasi,” terang Fahri.

Menurut Fahri kini Indonesia sedang mengalami stagnansi berfikir.

“Saya berkesimpulan bahwa saat ini sedang terjadi stagnansi pikiran. Para elite tidak lagi memahami cara tentang bagaimana membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Maka stagnansi ini berbahaya, merugikan dan merampas semua yang kita punya,” kata Fahri.

“Reformasi 20 tahun yang lalu adalah hasil kerja mahasiswa dan pemuda yang menghendaki perubahan. Reformasi cukup untuk mentransformasi Indonesia yang otoriter menjadi Indonesia yang demokratis,” jelas Fahri.

“Tapi setelah itu stagnansi terjadi. Indonesia seharusnya bisa terbang tinggi, tapi tidak terjadi sebab tidak ada lagi pikiran-pikiran baru,” tegas Fahri.

Tinggalkan Komentar