Pontianak, Jurnalpublik.com – #NgopiBarengFahri yang ke 19 sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat (9/5/2018).

Fahri Hamzah dalam orasi politiknya memyampaikan saat ini sedang terjadi stangnansi pikiran di Indonesia sehingga kita butuh reformasi berikutnya di Indonesia.

“Saya melihat, tenaga para pemimpin kita untuk membangun kemajuan kita sudah tidak ada. Pikirannya stagnan, pemimpinnya kemana-mana bicara bekerja, bekerja, bekerja. Yang dia lakukan itu eksploitasi sebetulnya. Tidak ada reformasi ide. Tidak ada aspirasi untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang tambah hari tambah kaya, perbendaharaan kita tambah kaya, lingkungan kita tambah bersih, laut kita tambah rapi, hutan kita tambah makmur, sumur dan tanah kita tambah sejahtera untuk memberikan kehidupan kepada manusia ini. Ini yang disebut stagnansi,” kata Fahri.

“Persoalan ideologi masih diungkap,” tutur Fahri.

“72 tahun Indonesia merdeka kita masih seperti bersengketa, seolah-olah masih ada persoalan agama, seolah-olah masih ada masalah etnis, masih ada masalah SARA yang seperti diungkit-ungkit kembali. Kita masih disuruh bertengkar. Partai politik belum mapan, kehidupan politik belum stabil, ekonomi seperti yang saya gambarkan tadi, sangat terpuruk,” jelas Fahri.

Menurut Fahri Indonesia membutuhkan pemikiran baru.

“Maka yang dibutuhkan adalah reformasi berikutnya. Indonesia memerlukan pikiran baru. Demokrasi kita ini sebagai sebuah sistem sudah baik, tapi kita memerlukan pemikiran untuk meningkatkan kemampuan demokrasi kita dalam melayani rakyatnya. 20 tahun lalu saat kita memutuskan untuk berdemokrasi, kita berharap demokrasi akan memberikan kesejahteraan, membuat pembangunan lebih merata, kesejahteraan lebih meluas, kebebasan lebih produktif demi kemajuan bersama dan mimpi kita terkejar oleh masing-masing tapi itu tidak terjadi. Demokrasi ada tapi kapasitas tidak bertambah,” terang Fahri.

Fahri menambahkan, pemimpin seperti smartphone yang harus bisa memakai semua fitur Indonesia dengan lengkap.

“Itulah yang sering saya katakan, demokrasi itu seperti smartphone tetapi pemimpin kita yang memakai smartphone itu terbiasa menggunakan telepon jadul yang cuma bisa telepon dan sms, padahal smartphone itu bisa dipakai untuk belajar, membaca e-book, beli tiket, memotret peta, GPS, melacak tempat orang, main game, hiburan, belanja dan seterusnya,” kata Fahri.

“Demokrasi adalah sebuah sistem dengan fitur lengkap. Tapi kalau kapasitas kita dalam menjalankan demokrasi rendah, maka tidak ada yang kita capai. Akhirnya kita kelihatan canggih dipuji sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia namun rakyatnya hidup stagnan,” tambah Fahri.

“Pertumbuhan ekonomi tidak naik dari 5% dan 5% itu adalah eksploitasi alam. Lihat pendapatan kita 75% dari pajak dan 75% dari pajak tersebut adalah pajak hasil bumi. Itu artinya yang kita makan ini adalah warisan nenek moyang kita. Yang kita makan bukan hasil karya otak kita tapi warisan dari nenek moyang dan itu akan habis. Jika itu semua sudah habis maka kita akan saling bantai karena kita sudah tidak punya apa-apa lagi, Ini yang perlu kita jaga dan waspadai,” tegas Fahri.

Diakhir orasinya Fahri menyampaikan bahwa presiden Joko Widodo tidak berjodoh dengan demokrasi.

“Karena itu tesis saya yang keras adalah; pak Jokowi tidak berjodoh dengan sistem demokrasi kita, karena itu jangan diteruskan. Siti Nurbaya sudah tidak kuat lagi, plis datuk Maringgih tau diri,” tutup Fahri.

Tinggalkan Komentar