Jakarta, Jurnalpublik.com – Ada satu juta manusia terdampar di tapal batas negara. Mereka tinggal di di bedeng plastik. Terusir dari tanah kelahiran. Sementara esok hari tidak jelas.

Mereka tidak punya KTP, negara manapun. Mereka tidak boleh keluar dari area camp pengungsian. Dijaga tiga lapis tentara. Ke tengah kota dan peradaban, mereka dilarang.

Makan dan minum menunggu PBB dan lembaga bantuan lintas negara antar bangsa yang datang seperti Indonesia dan Turki. Diantara beras, minyak. Juga dibangunkan bedeng baru–yang tetap dari plastik dan bambu.

Mereka satu juta manusia. Muslim pula. Menyembah dan menyebut Allah dalam bilik-bilik bambu sederhana. Mereka terusir, tertindas, teraniaya dan tanpa negara. Rohingya.

Maka, anda boleh saya berharap, buatkan pula #RohingyaRedLine. Agar dunia peduli, sebentar lagi badai Siklon tahunan mendera mereka. Hujan angin akan hancurkan bedeng dan longsoran tanah di bawahnya. Kemana mereka berteduh? Tak tahu.

Tangan kita perlu bergerak. Kita perlu peduli. Untuk peduli dengan Rohingya, Anda tak perlu jadi Muslim, Anda hanya perlu jadi manusia.[]

Amin Sudarsono

Relawan kemanusiaan. Dua pekan lalu baru pulang dari Cox’s Bazar, Bangladesh, camp pengungsi satu juta Rohingya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.