Jakarta, Jurnalpublik.com – Kegagalan dalam perubahan sistem penjadwalan crew yang diimplementasikan oleh PT. Garuda Indonesia pada bulan November 2017, menyebabkan sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan. Mencapai puncaknya pada awal desember 2017. Kebijakan ini berdampak pada pendapatan usaha dan nilai saham Garuda Indonesia yang turun drastis. Demikian rilis yang dikirim oleh serikat karyawan PT. Garuda Indonesia kepada jurnalpublik.com.

Nilai saham Garuda Indonesia (GIAA) yang terus merosot dari harga saat IPO tanggal 26 Januari 2011 sebesar Rp 750 hingga saat ini dengan harga penutupan tanggal 25 April 2018 pada nilai Rp 292 per lembar saham.

Serikat karyawan Garuda Indonesia juga menilai Direktur Kargo tidak diperlukan karena sebelumnya unit kargo hanya dipimpin oleh pejabat setingkat Vice President. Hal ini dikarenakan Garuda Indonesia tidak memiliki pesawat khusus kargo (freighter
aircraft). Dengan dipimpin oleh seorang direktur sejak tahun 2016 kinerja direktorat kargo tidak meningkat dan hanya ada peningkatan biaya organisasi.

Melihat data di atas, serikat pekerja Garuda Indonesia mengusulkan beberapa usulan untuk menjaga kelangsungan bisnis PT. Garuda Indonesia, di antaranya adalah :

Pertama, merestrukturisasi jumlah Direksi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari 8 orang menjadi 6 orang dengan berpedoman pada peraturan penerbangan sipil Republik Indonesia/ Civil Aviation Safety Regulation.

Kedua, melakukan pergantian Direksi dengan mengutamakan profesional di bidang penerbangan yang berasal dari internal PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, karena lebih memahami permasalahan yang terjadi di
perusahaan.[]

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.