Ilustrasi

Jurnalpublik.com – Selepas reformasi 98, pers belum bisa dikatakan benar-benar bebas. Ketika era Orde Baru ada lembaga bernama Otoritas Bahasa. Mereka tahu bahwa bahasa itu salah satu kunci untuk berpikir, bicara, mengkritisi, dan menyampaikan pesan.

Maka begitu bahasa dikuasai, pikiran orang juga akan mudah dikendalikan. Otoritas Bahasa itu masih ada sampai sekarang. Hanya berganti nama menjadi Badan Bahasa. Tapi mereka hanya bekerja seputar pengembangan bahasa, ejaan, dan semacamnya, tidak memiliki kuasa mengatur seperti  dulu.

Sampai sekarang, jurnalis dengan pers masih sungkan bahkan takut menyampaikan berita sensitif tentang militer, agama, golongan etnik, atau tokoh-tokoh tertentu. Artinya ancaman pembungkaman masih ada.

Berangkat dari pengalaman buruk Orde Baru, jika ada media yang kemudian cenderung menghindari konflik dengan cara menyusun frame berita yang aman-aman saja, bagi jurnalis yang melewati betul masa 98, hal seperti itu dianggap sebagai bentuk pembungkaman. Mereka akan anggap media tersebut sebagai media yang hanya mencari aman.

Nah, lucunya, kebebasan pers yang berkembang sekarang justru banyak ditunggangi kepentingan. Di sinilah kemudian sastra berperan.

Mengapa Sastra?

Bila jurnalistik berbicara dengan fakta, maka sastra berbicara dengan kebenaran. Apa bedanya? Fakta bisa diembargo dan dimanipulasi.

Berbeda dengan kebenaran yang tanpa perlu diapa-apakan, dia akan muncul sendiri. Persis seperti fakta kejombloan yang coba ditutup-tutupi, maka kenyataan akan lebih dulu berbicara sebelum mulut berucap.

Sastra artinya karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. Sebetulnya sastra punya banyak definisi, tetapi secara umum, bisa dipahami dengan cepat dan mudah melalui pengertian itu. Sastra muncul dari keberanian berimaji, berpikir, kemudian dituangkan dalam bahasa. Dalam sastra, ada 3 kategori karya: prosa, puisi, dan drama. Fiksi dan nonfiksi masuk ke dalam prosa. Puisi dan drama berdiri sendiri.

Metode penyampaian yang selama ini -sepanjang sejarah- selalu berhasil menggugah kesadaran dan menggerakkan sisi kemanusiaan adalah sajian fiksi (cerpen ataupun novel) dan puisi. Mengapa? setidaknya ada 3 faktor:

  1. Sajian berupa cerita/kisah yang dekat dengan keseharian pembaca.
  2. Disusun dengan diksi yang indah, bukan mendayu-dayu. Dirangkai dengan kalimat yang bernas, bukan cengeng.
  3. Lahir dari imaji. Imaji lahir dari proses mental, mulai usia kanak-kanak sampai dewasa, sampai tua, di sepanjang hidup manusia. Nah, semakin dewasa seseorang, imajinya makin variatif tapi tidak ‘liar/abstrak’ sebagaimana imaji anak-anak. Imaji orang dewasa pasti akan banyak dipengaruhi juga oleh rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Berangkat dari latar belakang ini, imajinasi dalam karya fiksi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran. Barangkali imajinasi itu jadi fiksi, tetapi tetap kebenaran.

Kritik Tajam Lewat Karya Fiksi

Khusus fiksi, dianggap cukup bisa mengundang masalah sehingga perlu ditegur hanya karena berbau fakta. Sebuah karya fiksi (cerpen ataupun novel) bisa mengutip tesis/disertasi/jurnal yang sulit terbantahkan, tetapi dia tetap karya fiksi. Apalagi jika cerita di dalamnya cuma ‘berbau’ fakta. Turning point-nya di sini. Ini terlihat konyol.

Ternyata ada kecenderungan kuat untuk menganggap fiksi sebagai fakta. Kalau mau dibawa sampai ke pengadilan pun, tidak akan pernah ada fiksi yang disahkan sebagai fakta. Di sini lah sastra kemudian memunculkan kebenaran dan menggantikan peran jurnalistik yang dipaksa bungkam.

Kita tahu, bukti sah untuk menggugat suatu kasus ke pengadilan adalah dengan fakta. Kasus diproses karena ada bukti berupa fakta. Nah, bayangkan apabila seorang Tere Liye dibawa ke pengadilan hanya karena novel Negeri Para Bedebah misalkan.

Dalam sejarah, seorang penulis sastra yang dipenjara karena tulisannya memang ada banyak. Ini sebenarnya konyol. Tetapi di sini poinnya, sastra itu bisa ditakuti. Sama seperti film Alif Lam Mim yang sempat dilarang tayang karena beberapa pihak yang merasa disinggung di film itu merasa terancam.

Sedikit catatan, sastra memang dianggap mewakili kebenaran, akan tetapi kebenaran yang dimaksud bukan kebenaran tunggal, melainkan kebanaran yang tefragmentasi (terpecah) sesuai versi pembuat sastra.

Contohnya, ketika era demokrasi terpimpin Soekarno, sastrawan terpecah kedalam dua aliran, realisme sosial yang dikawal oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) -milik Partai Komunis Indonesia dan Parta Nasional Indonesia- dan idealisme universal yang dikawal oleh Front Manifestasi Kebudayaan -yang mendukung Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia-.

Keduanya menghasilkan karya sastra yang saling berlawanan, yang pertama menghasilkan ‘kebenaran’ yang membenarkan pemerintah, yang kedua menghasilkan ‘kebenaran’ yang kontra pemerintah.

Kalau sudah begitu, yang tersisa dari seorang penulis hanyalah kejujuran dan kebebasan. Jujur itu moralitas, dan bebas itu kondisi mutlak agar tulisannya bisa dipertanggungjawabkan oleh sejarah.

Maka seorang penulis –seharusnya- dinilai dari prosesnya, bukan hasil akhir. Ketika proses itulah penulis akan bertarung dengan nuraninya. Sebaik dan sejujur apa dia menuliskan kebenaran yang pada akhirnya nanti tetap akan muncul sendiri dan terlihat dari karyanya. Taentunya, hasil tidak pernah bisa membohongi proses.

Peran Puisi dalam Sejarah

Puisi banyak mengambil peran dalam sejarah. Zaman jahiliyah dulu, puisi dan penyair ditempatkan pada posisi tinggi dalam kelas sosial. Ada beberapa penyair jahiliyah yang hendak menyaingi keindahan Al Quran. Ada nama Imru’ al Qois, Abu Mihjan, dll.

Dari kalangan Sahabat Nabi ada penyair Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik. Salah jika orang yang bersyair disebut galau, curhat, dsb. Itu semacam menempatkan sastra yang dipandang indah oleh para sahabat, bahkan bunda Aisyah, tidak pada tempatnya.

Contoh epiknya peran sebuah puisi itu terlihat ketika Perang Mu’tah. Pasukan Abdullah bin Rawahah yang jumlahnya sekitar 3 ribu orang sanggup mengalahkan 200 ribu tentara Romawi. Apa rahasianya? Selain ruhiyah, ibadah, dan semacamnya, ada peran puisi di sana yang membangkitkan semangat juang.

Puisi menjadi senjata penggugah semangat yang digunakan panglima perang agar pasukan tidak mundur. Abdullah bin Rawahah menjadikan puisi-puisinya sebagai slogan perjuangan para sahabat yang ketika itu mentalnya gemetar, hatinya ciut melihat barisan tempur raja Hercules. Setiap melihat pasukannya hendak mundur, ia tampil gagah di depan dan menyenandungkan puisinya.

Duhai diri
Bila kau tidak terhunus pedang di medan juang
Suatu saat kau tetap akan gugur
Meski kau hanya tidur di atas ranjang

Banyak cendekiawan muslim terdahulu yang pandai bersyair. Jika sedang membutuhkan penyemangat dan hendak menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, mereka memakai puisi. Ini juga yang dilakukan penyair Indonesia angkatan 20-an/Balai Pustaka, angkatan 30-an/Pujangga Baru, angkatan 45, dst.

Jika jurnalistik bermain dalam ranah fakta dan logika, sastra (yang dalam proses menyentuh hati masyarakat didominasi oleh novel ataupun cerpen dan puisi) hadir bersama kebenaran, dibuat, dan ditujukan untuk menggugah empati dan nurani manusia. Segudang karya para sastrawan Indonesia itu terbukti menggugah bukan? Apalagi eranya Chairil Anwar, sastra menjadi salah satu motor semangat perlawanan.

Besar harapan, ke depannya orang-orang tidak melihat sastra dengan pandangan cengeng, melankolis, ataupun mendayu-dayu. Pembaca dan bahkan penulis sastra harus keluar dari tiga mitos. Apa aja mitos tersebut?

Pertama, sastra itu curhat yang membuat cengeng. Sastra bukan curhat, bukan karya yang membuat cengeng. Buku sastra tidak semata bentuk curahan hati cengeng dan ungkapan kegalauan penulisnya. Sastra itu perwakilan manusia dan kehidupannya.

Kedua, sastra itu bahasanya mendayu-dayu sehingga rumit dipahami. Sastra yang baik seharusnya ditulis dalam bahasa yang dapat dipahami oleh pembaca awam sekalipun. Karena kepada mereka lah sastra dituliskan.

Ketiga, sastra itu isinya petuah, pedoman hidup. Buku sastra bukan buku teori agama. Itu buku tentang manusia dan bumi yang dihuninya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.