Ilustrasi

Lampung, Jurnalpublik.com – Sebagai warga pendatang, yang tak ber-KTP Lampung. Saya cukup prihatin dengan kontestasi politik di provinsi ini. Yah, saya amati sekitar beberapa tahun semenjak pertama kali injak kaki di Bumi Ruwa Jurai ini. Di Lampung, saya kuliah di Unila, aktivis kampus, kerja, dan udah wisuda, lalu pergi lagi ke kota lain.

Perang politik di Lampung ini memang garang. Kata kawan saya begitu. Meskipun tak seramai DKI dan Jabar, nampaknya Lampung layak mendapat sorotan.

Tambah kawan saya itu: main politik di Lampung mesti kuat body balance agar tak mudah terpental, sleding tackle yang bersih biar tak di kartu merah, daya penetrasi yang akurat ke kampung-kampung.

Faktanya, pilkada Lampung selalu riweh dan ramai. Penuh intrik. Medannya berat. Mulai dari saling sandera, tak ada kucuran dana pilkada (pernah terjadi pilkada 2014 ngaret dari jadwal semula, gegara tak dianggarkan. Entah uangnya kemana).

Belum lagi isu masuknya “korporat yang bermasalah hukum” ke dalam arena politik membiayai salah satu calon. Setidaknya ini cerita sejak pilkada 2014 hingga hari ini. Pilkada sebelum-sebelumnya juga begitu. Konon, ada calon yang sempat terpidana juga di jaman yang telah lalu. Klise.

Suatu hari saya tertawa, kata kawan saya: di Lampung ini tak usah perang ide. Cukup bisa bermain intrik dan manipulasi. Ajak cukong main. Biaya aman. Di beberapa daerah lain juga gitu. Pasti. Politik itu kejam, juga mahal. Jangan naif.

Begitulah kata teman saya. Saya protes. Memang pasti politik itu kejam dan mahal. Tapi daerah lain masih mending. Masih ada yang tawarkan gagasan menarik dan novelty (ada sisi baru).

Macam di Bandung, keren ruang keratifitasnya. Di Jabar, kita semua tahu, Kang Aher 13 hari sekali dapat piala selama dua periode kepemimpinannya. Di Sumsel sudah jaman baheula program Berobat dan Sekolah Gratis jalan, sudan beberapa kali jadi tuan rumah event Internasional. Di DKI ada ok-oce. NTB, kita semua nampaknya mendadak jadi fans gubernur sholeh ini. Banyak daerah lain juga maju setelah terpilih pemimpin baru.

Di Lampung, stagnan. Kita masih bangga saja sama jalan mulus dan jalan flyover. Atau perang sembako. Oke, fine ini perlu tahapan. Bolehlah dibantah. Tapi saya rasa, diantara banyaknya calon, yang berhasil menggagas ide yang rasional nampaknya tidak ada, kecuali program KJ4. Besutan Mustafa-Aja, yang sialnya, tengah diaduk-aduk sama KPK.

Saya tak mau bahas soal fakta hukum sih. Ini soal temuan via spy (intaian) yg etiketnya gak metodik. KPK semestinya menyidik pelaku korupsi berdasarkan audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), bukan sisa foundrising. Bangun daerah itu tak selesai pakai APBD plus bantuan APBN. Juga butuh dana talangan, atau fundrising yang tidak merugikan negara. Perlu penjelasan lagi? Kalau tidak ada kita kembali ke soal ide. Kalau saya panjangin nanti saya dikira dukung #BubarkanKPK.

Ingat yah, yang saya maksud itu “ide rasional”. Bukan yang melambung tinggi tak aplikatif. Tak bisa dijalankan. Yang masuk akal saja susah dijalankan, apalagi imajinasi liar.

KJ4 itu, bagi saya yang milih di pilkada Sumsel ini, adalah angin segar bagi warga Lampung. Ini baru. Khas dan menarik. Warga Lampung mesti ambil ini.

Program KJ4 yang novelty ini, isinya soal jaminan pendidikan, jaminan kesehatan, jaminan kesejahteraan, dan jaminan usaha dan kemandirian. Awalnya, saya kira ide ini hanya abstraksi semata. Ternyata mengerucut ke persoalan teknis. Turunannya banyak dan panjang kalau ditahbiskan dalam ulasan yang, aslinya, bukan untuk kampanye ini.

Jaminan pendidikan misalnya, selain mengurus soal pendidikan dasar dan menengah, program ini sanggup beri intensif bagi guru, mensarjanakan guru yang belum sarjana, sampai “satu rumah ada satu sarjana”. Ini menarik ditengah-tengah indeks pembangunan manusia Lampung yang masih rendah.

Jamkesnya juga tak tanggung-tanggung, ada 100.000 KK di Lampung ini, BPJS ditanggung semua. Keluarga pasien di tanggung makan, dan Rp. 1 juta untuk ibu hamil menyusui. Saya pikir orang sakit di Lampung akan tetap punya senyum kalau ini jalan.

Jaminan Kesejahteraan tawarkan motor untuk aparat desa, tunjangan guru ngaji, bantuan untuk keluarga miskin, jaga kemanan, dan bantuan benih dan pupuk bagi petani. Program ini secara elementer akan memperbaiki kinerja aparat, memuliakan guru ngaji, menjamin panen raya, dan menjaga keamanan masyarakat yang notabene Lampung dikenal sebagai daerah rawan.

Satu lagi, jaminan usaha dan kemandirian. Ini yang jarang. Sejauh ini ide-ide pembangunan masih sebatas memberi ikan, bukan memberi kail. Publik diberi janji-janji, tapi tak diberi space untuk berfikir bagaimana untuk hidup.

Maka ini jawabannya. Masyarakat diberi kesempatan untuk mengatur hidupnya sendiri, tanpa melulu berpangku tangan dari bantuan demi bantuan yang terkadang juga bikin miris. Ada presiden di suatu negara yang kasih bantuan pada rakyatnya dengan di lempar-lempar. Tak sebanding pula dengan kebutuan rakyat. Entah itu di negara mana? Kayaknya negara itu akan #2019GantiPresiden.

Konsep kampung ekonomi kreatif yang familir dengan sebutan “KeCe” ini akan menghidupkan ekonomi kerakyatan jika benar-benar jalan.

Dalam imaji, saya membayangkan, alangkah beruntungnya warga Lampung. Sangat disayangkan jika KJ4 hanya menjadi pajangan belaka pasca pilkada.

Memenangkan ide KJ4 ini, bagi saya, lebih penting ketimbang melihat wajah 4 pasang calon pilkada Lampung. Terlebih jika pertarungan politik ini tak di dasari dari niat yang lurus untuk “membantu dan menghidupkan” rakyat.

Untuk paslon lain, jika anda menang, anda mesti bertanya kepada Mustafa-Jajuli. Pelajari. Jalankan KJ4. Karena ide ini lebih rasional dan menarik untuk dijalankan. Ayo geh, Lampung!.

Tinggalkan Komentar