Lampung, Jurnalpublik.com

ALHAMDULILLAH,
Malam ini di Lampung kita bersama teman-teman @Fahr1Voice merampungkan #NgopiBarengFahri yang ke-16, luar biasa!. Sudah 16 tempat kita datangi. Perjalanan yang tak terasa sudah cukup jauh. Ada ratusan tempat yang menanti dan kita terus mencoba meniti.

Tapi saya ingin menulis sebuah kesedihan, oleh sesuatu yang mungkin tak terbaca orang. Tetapi ada dinamika di lapangan. Saya ingin sampaikan agar terasa pula apa yang kita hadapi. Ini tentang saya dan para pihak yang berbeda paham. Biasalah…

Kejadian yang lucu karena seperti ada sebagian kawan yang ingin menghambat kegiatan #NgopiBarengFahri tetapi tidak bisa dilakukan. Fenomena ini Menarik dan layak baca. Mengapa pelarangan #NgopiBarengFahri oleh struktur Partai itu gagal?

Di Depok dilarang, malah meriah. Di Bogor dilarang, malah dihadiri @fadlizon. Di Duren Sawit dihalang-halang, grup ngaji malah pindah tempat ke kafe. Di Banten keras dihambat tapi tetap jalan juga. Di Lampung ini pun mau diboikot, anak muda pada dateng dari sudut-sudut Lampung yang jauh.

Ini sebabnya struktur partai setempat gagal ‘membubarkan’ #NgopiBarengFahri : pertama mereka ‘GR’ dikiranya panitia ngopi adalah para kader pembelot. SALAH. Panitia #NBF adalah kombinasi anak muda/ mahasiswa lokal, pemilik kafe dan para fans berbasis voluntarisme.

Kedua mereka ‘GR’ mengira yang hadir di acara NBF adalah semata kader jadi bisa dilarang. Padahal audiens beragam mulai Fatimah anak SMP di Depok hingga Kyai pengasuh ponpes di Bandung Barat.

Ketiga, ini yang paling saya yakini, bahwa terjadi pembelotan di bawah karena struktur di bawah tak lagi sepenuh hati melakukan tugasnya sebagai polisi internal partai. Orang muak dengan dikte dan pemimpin yang sok perintah.

Pemimpin yang menganut alam pikiran masa lalu sudah kehilangan panggung. Dikiranya dilarang maka acara akan sepi. Sementara yang hadir adalah lintas usia, agama, politik dan kepentingan. Ini era partai politik baru; terbuka dan berani.

Yang ada, kader merembes hadir bagaimanapun kondisinya. Yang akhwat pakai cadar. Yang ikhwan pakai topi. Banyak juga yang terang-terangan. Berbaur dengan massa lain yang mencari pencerahan dari #NgopiBarengFahri.

Tapi saya tetap sedih, bagaimana pemimpin partai bisa bersikap seperti itu? Kok bisa mereka membuat instruksi resmi dan melarang silaturahmi dan bahkan mengancam mereka yang ketahuan hadiri diskusi? Apa dasar dari semua ini?

Maka, akibat larangan itu, saya sedih karena ada banyak pesan yang masuk dari berbagai arah. Suara lirih yang menahan rasa rindu dan keinginan silaturahmi. “Akhi, maafkan kami tidak bisa hadiri acara #NgopiBarengFahri tidak enak dengan struktur”, demikian sebuah pesan.

“Maju terus, pada saatnya kebenaran akan terungkap, maaf gak bisa hadir karena ada taklimat”, sebuah pesan masuk. “Nanti saya hadir di belakang ya, nggak usah masuk TV”, dll kalimat yang beragam. Kader ini tertekan oleh sikap pemimpin yang tidak paham organisasi.

Ada pemimpin yang merasa puas jika kader mentaatinya untuk menghindari silaturahmi padahal itu adalah perintah yang salah. “Tidak ada ketaatan pada pemimpin yang melanggar”, melarang silaturahim jelas salah.

Ada pemimpin yang menganggap keputusannya mutlak se-mutlak firman Tuhan dan hadits nabi? Sehingga ketaatan itu final dan tidak mengenal diskusi. Mengancam akan menghukum kader yang tidak taat menjalankan perintah. Seolah partai adalah negara yang punya alat paksa?

Terlebih sedih saya, Kenapa partai sedang memproduksi sejumlah orang yang begitu takut karena menganggap bahwa dia Gak ada apa-apanya dan takkan punya masa depan jika tidak bersama partai dan tidak punya masa depan tanpa partai. Astagfirullah al-adzim .

Bukankan terlalu jauh kalau kita mengatakan bahwa “kita bukan siapa2 tanpa partai?” Atau mengatakan kita tidak punya masa depan Tanpa partai. Atau bahkan menganggap partai adalah segalanya? Bukankah ini bahaya?

Rasanya pimpinan perlu introspeksi manhaj dan tsaqofah karena sepertinya ada yang salah. Wajah kader yang saya temui dalam #NgopiBarengFahri bukankah yang ingin dibentuk oleh tarbiyah dan dakwah. Rasa takut mereka pada pimpinan sudah salah arah.

Tarbiyah melahirkan singa bukan anak kucing Anggora. Tauhid membuat kita tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Kebebasan adalah apabila kita tidak pernah lagi takut pada selain Allah apalagi manusia. Kita di-tarbiyah untuk menjadi manusia merdeka.

Hikmah di balik lahirnya #NgopBarengFahri besar sekali bagi pembentukan masyarakat terbuka. Partai politik harus sadar bahwa mereka hanyalah fasilitator suara rakyat belaka. Mereka bukan negara dalam negara.

Mari introspeksi kalau mau maju. Berhentilah minta ditaati. Berhentilah minta dipercayai karena ketaatan dan kepercayaan yang dipimpin adalah fungsi dari kapasitas pemimpin. Kalau gagal memimpin jangan minta ditaati. Perbaiki diri sendiri.

Sekali lagi, terima kasih kepada relawan @Fahr1Voice dan para perintis #NgopiBarengFahri di manapun berada yang sekarang sudah menjadi trending setiap aksi. Semoga Allah SWT anugerahkan keberkahan dan kemajuan bagi negeri dan diri sendiri. Amin.

Diambil daei Twitter @Fahrihamzah 23/4/2018

Tinggalkan Komentar