Lampung, Jurnalpublik.com – Acara #NgopiBarengFahri disambut antusias warga Bandar Lampung. Bahkan beberapa peserta berasal dari luar Bandar Lampung sengaja datang menempuh jarak berjam-jam dari luar kota.

Seperti biasa, Fahri memulai obrolan dengan santai. Sebelum akhirnya semakin menukik dan tajam. Dimulai dari fenomena media, Fahri bercerita.

“Jarak kerinduan kita saat ini menjadi semakin pendek. Karena kita terlalu cepat dalam menjawab (pertanyaan publik). Perdetik kita berkomunikasi. Ini juga merambat kepada kesetiaan yang semakin dangkal”. Ujarnya.

“Dulu, ketika kita menulis surat kepada seseorang, dan anda menunggu jawaban, anda meredam rindu yang dalam sekali. Hingga surat itu datang kepada anda, dan anda membacanya lembar demi lembar dengan tetesan air mata. Setelah dibaca, suratnya ditaruh di dada. Menangis. Lama sekali. Akhirnya tak bisa tidur. Kerinduan itu lama sekali. Karena itu, kesetian itu menjadi dalam sekali.” Tambah Fahri.

“Nah sekarang ini, karena terlalu interaktif dan instan, kerinduan itu semakin pendek. Dan kesetiaan semakin hilang”.

Sekarang ini ada jargon #MoveOn, bagi Fahri, ini pertanda kesetiaan yang semakin dangkal. Kita mudah berganti channel dengan beragam opsi media sosial. Ini sebabnya kesetiaan semakin dangkal. Dan kepahaman seseorang atas sebuah fenomena juga dangkal.

Fahri Voice atau acara yang akrab dengan sebutan #NgopiBarengFahri ini, kata Fahri,  diperuntukkan untuk menjawab kedangkalan masyarakat dari apa yang terkomunikasikan di media sosial.

Terkadang, kedangkalan ini pulalah yang membuat orang menjadi haters atau lovers yang tidak memiliki alasan yang kuat. Karena dangkal. Hanya sekedar like or dislike.

Pertemuan seperti ini, kata Fahri, adalah cara untuk mengeksplorasi lebih dalam “bisakah kita lebih “dapat” dari pada ini. Sehingga yang dangkal dari apa di media sosial itu, kita perdalam dari pertemuan ini. Kita menguji apakah anda layak menjadi haters atau menjadi lovers. Dengan alasan yang kuat. Bukan karena kedangkalan.

Saat ini, Indonesia membutuhkan kedalaman itu. Karena kemenangan pada pilpres yang lalu adalah media sosial. Yang dangkal yang terpilih. Yang dangkal disebut bercitra sederhana. Yang tidak bisa berfikir dicitrakan bekerja.

Pilihan dangkal ala media sosial itu telah menyeret masyarakat pada situasi yang bahaya. Karena manusia gampang sekali untuk menghias (make-up) dirinya. Topeng. Ternyata palsu. Janji-janjinya tidak terpenuhi. Untuk itu kita butuh kedalaman. []

Tinggalkan Komentar