Lampung, Jurnalpublik.com – Kita memasuki zaman baru. Karena itu kita membutuhkan yang asli dan mengatakan tidak pada yang palsu.

Pertemuan ini, lanjut Fahri di acara Fahri Voice, adalah wadah bagi kita untuk bicara soal idealisme dan nasionalisme. Bukan sekedar bicara bangun jalan raya, yang sebetulnya kecil maknanya bagi persatuan bangsa. Yang besar bagi persatuan bangsa adala jalan pikiran. Dengan kata-kata.

Soekarno adalah figur simbolik yang merangkai Indonesia dengan kata-kata. Pendiri bangsa ini, kata Fahri, menyatukan ribuan ini bukan dengan jembatan dan jalan raya. Melainkan dengan kata-kata, narasi tentang imajinasi Indonesia.

Mengutip Bung Karno, Indonesia bukan saja satu kesatuan geografi, tapi Indonesia adalah tentang kesatuan cita-cita, kesatuan imajinasi dan mimpi tentang masa depan yang lebih baik.

Itu sebabnya, rangkaian kata-kata yang disusun oleh pendiri bangsa ini menjadi Undang-undang Dasar dan pembukaannya, menjadi pancasila, proklamasi. Sungguh ini kata-kata yang indah. Yang menyulap kita untuk bersatu dan bersaudara dalam bangsa Indonesia. Itu yang menyatukan Indonesia. Kata-kata. Ujar Fahri.

Ada banyak dunia yang pecah justru saat infstrukturnya sudah lengkap. Karena tak ada lagi jalan pikiran yang merangkai perbedaan masyarakat.

Malah, saat ini negara ini terjebak dalam adu domba. Bertegangan antara agama dan politik. Antara agama dan nasionalisme. Seolah ideologi hanya monopoli kelompok tertentu. Punyanya sendiri.

Ini kesalahan-kesalahan gimmick yang ditunjukkan oleh negara. Karena itu, ujar Fahri, saya setuju negara adalah sumber hoax terbesar. Karena ia memiliki perangkat yang lengkap untuk memproduksi hoax. Berita bohong. Mulai dari statistik sampai juru bicara. Lengkap.

Orang-orang yang memiliki hati akan menyadari bahwa itu adalah dusta. Dan, oleh karena itulah kita harus lawan. []

Tinggalkan Komentar