Ketua Umum Corps Puteri Muslimin Indonesia, Zahra. Bersama kader perempuan COPMI.

Maka inilah jawabanku kenapa Erdogan bersama Zionis, dia, melindungi rakyatnya, agar tidak disasar oleh Zionis, dia, sebrengsek apapun pilihannya, bertujuan melindungi rakyatnya. Agar bisa berlarian ke masjid dengan bahagia untuk mengaji, agar para perempuan dengan bahagia berada di taman sore hari. Agar mereka aman, didalam rumahnya, dinegerinya.

Sore tadi, saya berjalan kaki menuju masjid Tangkuban Perahu, Guntur Setiabudi. Perjalanan yang hanya butuh beberapa meter saja. Dibelakang masjid tersebut, ada tiga anak kecil yang berlarian menuju masjid, biasanya kalau itu ada di ruang sekolah, sudah kukatakan “Berjalan saja, kids”. Tapi wajah mereka tidak butuh perilaku cerewet guru TK seperti saya. Mereka butuh masa kecil yang bahagia.

Dibelakang masjid ada taman bermain yang juga bernama Tangkuban Perahu. Disekitarnya banyak tukang makanan dari rujak buah sampai ayam blonde, tau ayam blonde? Itu istilah anggota girls squad yang baru saja saya buat grup whatsappnya. Aslinya, ayam yang ditutup keju mozarela. Dan bukan hanya tukang jajan, tapi orang – orangnya juga, kebanyakan perempuan yang membawa anak.

Jalan kaki tersebut terasa nikmat, damai, dan jadi sedikit berterimakasih pada Jokowi yang menjaga negeri dengan damai. Saya melihat sekali lagi para perempuan dan anak – anak yang sedang asyik beraktivitas disana. Namun pegangan tangan saya menjadi menguat, jalan terhenti sebentar, jantung berdegup. Jangan ditanya suasana hati dan fikiran. Suasana perempuan dan anak – anak tersebut yang menjadi penghubung pertanyaan mengapa Turki berteman dengan zionis dalam situasi koalisi dunia untuk suriah dan cerita spontan Bang Fahri soal perempuan.

Tidak perlu ditanya, betapa saya berontak saat pertama kali mengetahui bahwa Turki adalah bagian dari Nato untuk persoalan Suriah, dengan pangkalan udara terbesar Amerika Serikat disana. Nato dan Amerika Serikat yang menjadi kaki tangan dari sebuah gerakan terkeji di dunia yaitu Zionis. Di meja redaksi tersebut, saya memandang pias kepada pemred yang sedang memimpin diskusi. Tidak bisa begitu, ini Erdogan, pemimpin favorit. Keluar dari meja redaksi, saya bolak balik keruangannya, meminta penguatan. Jawabannya sama, Erdogan sekutu Zionis.

Terbunuhnya DR. Sa’id Ramadhan Al Buthi

DR. Sa’id, ulama azhar Syahid dibunuh kelompok Jihadis yang anti Presiden Bashar Assad. Beliau wafat diserang bom bunuh diri tepat saat mengisi Ta’lim di Masjid Jami’ Al Iman di Kota Damaskus, Suriah, ba`da Maghrib Kamis, 21 Maret 2013.
Betapa tidak. Syaikh Sa’id Ramadhan yang sangat dihormati dan disegani sebagai salah satu ulama sunni di Suriah bahkan dunia ini dianggap ‘melindungi’ Presiden Bashar Assad yang dianggap otoriter dan ‘fasis’ oleh banyak ulama di sana saat itu.
Akibatnya, Syaikh Ramadhan yang kerap dijuluki “Al-Ghazali as-Shaghir” (Imam Al-Ghazali kecil) ini mendapat kecaman dari banyak kalangan soal pilihan dan ijtihad politiknya yang sangat berseberangan ini.

Mengapa Syaikh Sa’id Ramadhan membuat ijtihad politik untuk tetap ‘membela’ Presiden Bashar Assad? Memang keluasan dan kedalaman pemaknaan atas apa yang terjadi di Suriah -yang tidak banyak dipahami oleh sebagian ulama dan penduduk Suriah- membuat keputusan politiknya untuk tetap ‘dibelakang’ Bashar Assad tidak banyak diketahui dan dipahami.

Dengan memadukan ketajaman rasa dan kemampuan analisis ilmiahnya atas apa yang terjadi di negara yang sangat dicintainya itu, dia menyimpulkan telah terjadi sebuah proses propaganda dan fitnah yang sangat masiv yang bisa membuat perang saudara di negeri yang dicintainya. Terutama gesekan antara Sunni dan Syiah; Sunni dan Salafi; pro Bashar dan anti Bashar; bahkan gesekan antarulama Sunni sendiri.

Perlu diketahui bahwa dasar ijtihad politiknya diletakkan pada apa yang terjadi di beberapa negara Arab saat itu. Gejolak politik “Arab Spring” telah mengubah hampir sebagian wajah negara-negara di Timur Tengah. Ide besar “Arab Spring” (yang dibungkus dengan mantra demokratisasi itu) telah membunuh ratusan ribu, bahkan jutaan orang Arab. Demonstrasi, pemberontakan, perang antarumat islam, kudeta, rentetan senjata dan jatuhnya bom yang katanya demi terwujudnya demokratisasi justru jatuh pada penguasaan aset dan SDA oleh negara-negara tertentu.

Ide besar demokratisasi “Arab Spring” juga terjadi di Suriah. Puluhan ribu orang sudah meninggal sia-sia di sana. Sebagian besar mengungsi ke negara lain. Sesama umat Islam saling bunuh hanya untuk mengganti rezim otoriter Bashar yang kukuh tidak ingin digantikan oleh kelompok anti Bashar yang didukung langsung oleh beberapa negara yang dimotori (dan didanai) oleh Amerika Serikat.

Gesekan Sunni versus Syiah di Suriah adalah yang terparah. Maklum, rezim Bashar Assad sangat didominasi oleh Syiah. Sedangkan mayoritas penduduk Suriah (hampir 75 persen) adalah Sunni. Apalagi, sebagian ulama Sunni di sana sudah mulai ikut tergeret bermain politik.

Itu yang terjadi ketika demam “Arab Spring” mulai mencium Negeri Syam itu. Tentu saja ketika Syaikh Sa’id yang sangat lemah lembut itu mengumumkan ijtihad politiknya untuk tetap dibelakang Bashar Assad maka saat itu juga banyak ulama dan masyarakat mengecamnya. Syaikh Sai’id dikecam anti demokrasi, pro Syiah dan pro rezim otoriter.

Syaikh Said yang sangat produktif menulis buku ini sebenarnya sering menjelaskan bahwa dalang dibalik propaganda dan fitnah yang sangat masiv yang terjadi di Suriah saat itu adalah Israel dan Amerika Serikat. Kedua negara (dibantu dengan beberapa negara lain secara langsung dan tidak langsung) itu mendanai pemberontak termasuk ISIS dan Al Qaeda agar Suriah terjadi perang saudara.

Rakyat Sipil Menjadi Korban

Terlepas dari persoalan DR. Said Ramadhan Al Buthi, mataku tetap keras melihat Pak Pemred yang sangat idealis tersebut. Saya tegas mengatakan bahwa rakyat menjadi korban, bahwa Bashar adalah pembunuh. Tak kalah tegas ia menjawab, bahwa ini adalah perang. Dan adakah seorang pemimpin yang membunuhi rakyatnya? Tidak ada satupun, baik Presiden Bashar maupun Presiden Erdogan.

Pikiran soal Presiden Snow di film The Hunger Games menjawab semua, dia memang tiran, tapi yang menjatuhi bom kepada perempuan dan anak di negerinya saat perang berkecamuk bukanlah Presiden Snow, dia tidak membunuh tanpa maksud. Untuk apa membunuh perempuan dan anak dari rakyatnya sendiri? Lantas siapa? Yang menjatuhi bom justru adalah para pemberontak, memakai pesawat dengan “logo” Presiden Snow agar semua orang menghakiminya, benar, dengan cara tersebut Presiden Snow jatuh.

Maka inilah jawabanku kenapa Erdogan bersama Zionis, dia, melindungi rakyatnya, agar tidak disasar oleh Zionis, dia, sebrengsek apapun pilihannya, bertujuan melindungi rakyatnya. Agar bisa berlarian ke masjid dengan bahagia untuk mengaji, agar para perempuan dengan bahagia berada di taman sore hari. Agar mereka aman, didalam rumahnya, dinegerinya.

Perempuan di mata Fahri Hamzah

Dalam ruangan rektorat UIN Banten

Bang Fahri : Ayo kita masuk ke ruangan seminar (berdiri)

Zahra : Tunggulah bang, aku baru ambil sale pisang

Bang Fahri : (Duduk lagi) oiya saya lupa kalau sedang membawa perempuan

Zahra : (Agak malu, nyesal spontan bicara soal sale pisang)

Bang Fahri : (cerita didepan hadirin dalam ruang rektorat) bahwa perempuanlah yang membuat laki – laki berhenti. Laki – laki, bisa tinggal dimana saja, hidup dari perang satu ke perang yang lain, maka yang membutuhkan rumah adalah perempuan. Sehingga ada istilah Ibu Kota, bukan Bapak Kota. Dan laki – laki, betapapun jauhnya pengembaraan, dia akan pulang.

Zahra : (Cepat – cepat menghabiskan sale pisang)

Maka sore tadi, dengan pemandangan para perempuan yang dengan damai bermain di taman dekat rumahnya, sungguh telah memberi jawaban. Kitab Hizb saya pegang dengan erat, air mata menetes. Dan berharap, Presiden Indonesia dapat mengambil keputusan yang tepat.

Jelang Hari Kartini, 21 April 2018

Tinggalkan Komentar