Jakarta, Jurnalpublik.com – Sambil menunggu laga babak kedua Juventus versus Real Madrid, saya sempatkan menulis soal isu hangat yang sedang diperbincangkan beberapa hari ini, yakni tentang statemen Rocky Gerung bahwa Kitab Suci itu Fiksi.

Umat Islam sebaiknya jangan marah-marah dulu dan mudah terbakar seperti pentol korek. Digesek sedikit berapi-api. Kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi, sebenarnya para ahli Balaghah dan ahli Tafsir Al-Quran pun menyatakan hal yang sama.

Fiksi berbeda dengan fiktif. Fiksi adalah sebuah prosa naratif yang bersifat imajiner, namun tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran. Sedangkan fiktif adalah cerita bohong.

Bahasa Arab yang tepat untuk istilah fiksi adalah al-khayal atau al-tashawur, sedangkan bahasa Arab untuk cerita fiktif adalah asathir/usthurah. Di zaman dahulu, para penolak Al-Quran menuduh Al-Quran sebagai cerita bohong warisan nenek moyang (asatirul awalin).

Para ahli ilmu balaghah dan ahli tafsir menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapatkan cerita fiksi (qishatul khayal) untuk mengimajinasikan kiamat beserta sifat surga neraka, mendramatisasikan cerita umat terdahulu, dan hal-hal yang ghaib lainnya, sehingga seakan-akan dekat, hadir, tampak nyata, dan mudah dipahami oleh umat manusia. Unsur-unsur fiksi tersebut dikaji dalam bab Tasybih dan Isti’aroh yang berfungsi untuk menyerupakan dan mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Para ulama klasik yang mengkaji teori-teori tersebut antara lain Al-Jahid dalam kitab Al Kamil, Abdullah bin al-Mu’taz dalam kitab Al-Badi’, Musa Al-Ramani dalam I’jazul Quran, Abu Hilal al-Askari dalam kitab al-Shana’atayn, Al-Baqilani dalam kitab I’jazul Quran, dan Al-Jurjani dalam Asrarul Balaghah dan Dalailul I’jaz.

Dalam perkembangan kajian modern Al-Quran, Sayid Qutb dan Rasyid Ridha mengembangkan kajian fiksi tersebut dalam Teori Seni Imajinasi (Nadhariyatu Tashwir al-Fanni). Bahkan, mereka menilai, salah satu kemukjizatan Al-Quran terletak pada nilai sastra yang tinggi, antara lain keindahan dan kekuatan bahasa Al-Quran yg memanfaatkan seni imajinasi sehingga Al-Quran mampu menghadirkan hal-hal yang ghaib, kejadian masa lalu, dan masa depan dengan cara yg mudah dicerna oleh akal manusia.

Di era kontemporer ini, banyak juga para sarjana ilmu Al-Quran yang menulis hal itu, antara lain Muhammad Khalafullah dalam kitab Al-Fann al-Qashashi fil Qur’an (Seni Cerita dalam Al-Quran), Dr. Salman Ibn Fahd Al-Audah dalam artikelnya yg berjudul Tajribatu Al-Takhayul Al-Qurani (Eksperimentasi Fiksi Al-Quran) dan lain-lain.

Dengan demikian, Al-Quran memang kitab fiksi, sedangkan kemenangan Juventus hanyalah fiktif belaka hehehe.[]

Oleh : Irwan Masduqi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.