Jakarta, Jurnalpublik.com – Belakangan, Prabowo makin galak. Indonesia bubar tahun 2030. Elit di Jakarta umumnya tak ada yang baik. Intinya, semua brengsek. Ia juga mengaku hal yang sama, tapi mengaku sudah tobat. Sementara yang lain makin menjadi-jadi. Goblok, serakah, mental maling, hatinya beku, dll.

Prabowo galak, itu bukan berita. Makin galak, ini ada apa? Padahal pendaftaran capres di depan mata. Salah satu kekurangan yang mengantarkan kekalahan pada Prabowo dulu ialah, soal kegalakan itu. Lazimnya orang Indonesia tak suka yang galak-galak, sukanya yang santun-santun.

Galak, apa adanya, benar, tetap tak dipilih, dibanding santun, ada apanya, salah walau tak mampu, tapi tetap terpilih. Mestinya orang mencurigai orang yang santun atau diam itu, daripada galak-keras. Apalagi dalam politik. Santun bisa saja strategi, tapi bisa juga aslinya planga-plongo.

Prabowo pasti tahu itu, tapi ia tak berubah, malah menjadi-jadi. Apa Prabowo masih maju 2019 nanti? Masih. Konon April ini akan dideklarasikan, tapi batal. Targetnya sudah lewat walau sekarang masih April. Apa karena itu Prabowo makin galak? Berarti, ada masalah dengan koalisi.

Kalau dengan lawan koalisi, itu sudah biasa. Walau ada juga rumor yang bilang, Prabowo bisa saja berkoalisi dengan Jokowi. Probowo wakil. Sebagai rumor bisa-bisa saja, kalau kejadian, pecah main. Tak ada yang bisa disebut lagi. Prabowo membalikkan keadaan. Keras-keras, ngacar.

Mustahil, Prabowo begitu. Prabowo seorang patriot sejati. Bila itu yang terjadi, tak hanya Prabowo yang hancur, Gerindra juga akan hancur. Itu bukan lagi tikungan tajam, tapi membunuh. Rumor yang sengaja dibuat, biar mengaduk-aduk emosi. Makin galak makin dirugikan, dan jatuh.

Dengan koalisi, apa dengan PAN atau PKS? Mengingat, dua partai inilah yang ada dalam jangkauan. Terutama PKS, kerap disebut sekutu di muka umum. Artinya, tak hanya koalisi, lebih dari itu. Apa ada syarat dan ketentuan masih kurang, sehingga Prabowo harus menahan deklarasi?

PAN masih tegas mencalonkan Zulkifli Hasan. Semua tahu, itu berat. Malah, sangat berat. Tapi, itu juga tanda bahwa PAN tak mudah, tak murah, tak menyerah juga. PAN paling mungkin melompat ke Jokowi karena memang, masih dalam kabinet. Yang paling berat posisi Amien Rais.

Amien Rais juga makin galak, tapi ia tak mungkin nyapres. Jadi sudah betul. Apa ini juga tanda bahwa Prabowo tak akan nyapres? Entahlah. Semua sinyal politik dalam tahun politik yang makin mendekat ini, bisa diartikan macam-macam. Tenang saja, itu juga sinyal politik tak tenang.

Tapi, rumor Prabowo tak akan nyapres, juga sama kerasnya. Persis seperti Megawati dulu yang memberikan kepada Jokowi. Prabowo diprediksi sulit menang, tiga pasang, ataupun head to head. Ini terasa di lapangan, juga lewat survei. Tapi Prabowo angkat bendera, juga belum tampak.

Sementara PKS juga tak mudah, seperti biasa. Di DKI atau di Jabar. Memang PKS punya 9 capres/cawapres, tapi Prabowo mulai hafallah. Tapi kok saat ini agak rumit? Tak mudah pasrah dengan pilihan-pilihan. Bukan pula menolak dengan Gerindra-Prabowo, tapi caranya bagaimana?

Tak mungkin gratis, ‘kan? Prabowo capres, PKS cawapres, apa selesai? Tidak. Tak hanya di Prabowo dan Gerindra, di dalam PKS pun, tak akan selesai. Mengerucutkan 9 capres/cawapres menjadi satu, bagaimana? Apalagi internal PKS tak kalah rumitnya, rumor menjalar seperti virus. Hari demi hari, makin menjadi-jadi.

Ada gerakan di PKS #2019GantiPresiden. Itu menguntungkan Prabowo. Berarti, mustahil PKS ke Jokowi seperti PAN yang belum jelas. Tapi siapa yang menjamin dari pihak PKS tak ada yang diam-diam bertemu tim Jokowi atau Jokowi langsung? Yang namanya politik, apa pun bisa.

Apalagi, ada pimpinan PKS sedang tersangkut hukum UU ITE yang tak ringan. Apa yang bisa “mengurusnya”, jika bukan kekuasaan? Termasuk, kasus-kasus hukum yang bukan mustahil, bisa dijerat pada pimpinan yang lain saat menjabat dulu? Bersandar ke pohon kuat, lebih realistis.

Politik semakin terbuka dan keras. Bukan mustahil itu salah satu yang membuat Prabowo makin jengkel, dan makin galak, belakangan. Ia tak membuat pengecualian. Semua sama, tak ada beda, termasuk ia sendiri. Tapi ia mengaku sudah tobat. Lalu siapa yang mau menyusul Prabowo untuk tobat?

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar