Bandar Lampung, Jurnalpublik.com – Memperingati 20 tahun usia KAMMI, KAMMI Lampung, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mengadakan sarasehan dan beragam rangkaian kegiatan.

Sarasehan yang dilaksanakan pada hari Ahad, 1 April 2018 itu bertajuk “Refleksi perjuangan dan PEMILU 2019” ini menghadirkan beberapa tokoh dan alumni KAMMI yang telah lebih dulu mencium dan menghirup udara pergerakan sebelum dan sesudah reformasi.

Di antaranya para mantan ketua KAMMI Lampung dari generasi ke generasi, Ade Utami Ibnu, Handrie Kurniawan, Beni Sanjaya, Hadi Kurniadi, Hadi Prayitno, Rinaldi, Asis Budi Santoso, dan beberapa pentolan KAMMI lainnya. Bersama puluhan kader KAMMI Lampung, mereka saling bercerita.

**

Akhir-akhir ini, ada semacam the public mind yang terbangun di alam pikiran masyarakat Indonesia. the public mind itu menjelma menjadi tiga isu besar. Pertama, diskursus tentang politik identitas, yaitu melekatnya identitas kultural sebagai preferensi politik, terutama agama.

Kedua, hastag #2019GantiPresiden, sebuah gerakan di media sosial yang merupkan respon terhadap kondisi sosial-politik menjelang PEMILU.

Ketiga, Indonesia bubar 2030, sebuah kritik dan alarm yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto dalam melihat kondisi bangsa hari ini. ketiga isu ini mendapat respon yang beragam dari berbagai kalangan. Tak terkecuali, oleh KAMMI.

KAMMI, sebagai sebuah gerakan mahasiswa berada dalam pusaran itu. Sejak kelahirannya, ia telah menjadi teman dekat bangsa Indonesia dalam mengawal perjalanan reformasi. Refomasi bukan semata ’98, tapi tentang perjalanan panjang “Menjadi Indonesia”.

Ade Utami Ibnu memberikan komentar yang menarik soal reformasi, “Apa yang Terjadi hari ini tidak berbeda dengan  sebelum reformasi”. Ujarnya. “Aktor dan ‘elit politik lama’ kembali hadir di panggung politik kita. Mereka memakai jubah dan wajah lain. Tetapi pikirannya masih belum reformis”, tambahnya.

Menurut salah satu deklarator KAMMI dan ketua KAMMI Lampung pertama ini, dulu (sebelum reformasi) isu korupsi terjadi secara kasatmata, sebelum akhirnya terbongkar di akhir-akhir orde. Publik melihatnya secara jelas. Begitu juga dengan kekayaan negara, dulu dikuasai oleh elit tertentu, sekarang tetap sama. Setidaknya dua isu ini tetap terjadi di era ini. Masih sama. Seolah kita terjebak oleh frase “semangat reformasi” yang kita banggakan, tetapi sebetulnya pseudoreformasi.

“Saya meyakini, bahwa perubahan akan terjadi dan negeri ini akan membaik ketika kita tidak lagi berfikir tentang “ganti orang” atau “ganti nama era”. Melainkan mengganti secara keseluruhan. Istilah #2019GantiPresiden itu, tidak cukup. Kita mesti memperbaiki sistem dan bertransformasi menjadi Indonesia baru. Pertama value, kedua sistem. Ketiga tim yang kuat. Itu yang kita butuhkan”. Papar Ade.

Lanjutnya, untuk itu kita memerlukan the winning value (nilai yang unggul) yang membuat kita menjadi pemenang. Pertama, value itu, bagi kader KAMMI adalah aqidah. Dalam lingkup bernegara, Pancasila. Tak ada faksi antara keduanya.

Dalam sejarahnya, kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh semangat aqidah. “…. berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didrongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Reformasi juga mesti diisi oleh pelaku-pelaku yang kokoh akan value ini.

Ini harus menginternalisasi dalam diri kader KAMMI, dan pengawal reformasi di berbaga lini. Dia menjadi pribadi yang memiliki visi yang berfondasi Aqidah.

Ini pulalah yang menjadi fondasi prinsip perjuangan KAMMI yang berbunyi: “kemenangan Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI”. Value Islam yang unggul inilah yang kita tawarkan dalam setiap kerja-kerja gerakan kita.

Kedua, memperbaikinya secara sistemik. Segala bentuk kerancuan dan kegagalan negara tidak lepas dari kesalahan sistem. Ini soal mekanisme kerja dan aturan main. Masalah sistem ini, akan menentukan role model negara ini mau dibawa kemana. Sistem yang gagal, akan menciptakan teknis yang gagal pula.

Ketiga, the winning team. Kita tak bisa sendiri. Kemampuan untuk bersinergi dengan pihak lain harus di pahami oleh setiap pelaku gerakan. Reformasi ’98 saat itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh mahasiswa, semuanya juga terlibat. Petani, buruh, akademisi, dan laninnya terlibat. Segala potensi positif yang ada di dalam dan luar diri kita (KAMMI) harus dioptimalkan untuk mencapai performa gerakan yang kuat dan genuine dengan kebutuhan publik.

2019, tambah Ade. Kita akan menjalani hari-hari penting. Untuk itu, kita mesti bertransformasi menjadi Indonesia baru. Bukan sekedar #2019GantiPresiden. Politik yang kita usung, adalah gerakan untuk mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat, dan menghindarkan kemudhoratan. Serta membawa mereka kepada jalan keadilan. Tandas Anggota DPRD Lampung ini mengutip Ibnu Qoyyim Al-Jawziyya.

Di sesi pertama ini, pembicara kedua, Handrie Kurniawan memberikan pemaparan serupa namun dengan sudut pandang yang berbeda.

Menurut Een (sapaan akrabnya), menyikapi beberapa isu yang berkembang saat ini, kader KAMMI harus teguh pada identitas dirinya sebagai aktivis muslim dan seorang negarawan.

Isu Indonesia bubar 2030 itu misalnya, harus disikapi dengan sudut pandang muslim negarawan. Ini adalah alarm untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa harus ada yang diperbaiki di negeri ini. Kita, mesti bertransformasi menjadi Indonesia baru yang terarah.

Disinilah peran kader KAMMI akan di tagih oleh masyarakat Indonesia. kita harus terjun kepada mereka untuk memperkenalkan visi besar KAMMI ini.

Selain itu, anggota DPRD Kota Bandar Lampung ini menyebut, kader KAMMI telah menyebar ke berbagai sektor, ada yang di bidang profesional, ada yang menjadi guru, akademisi, ada juga yang menjadi politisi. Apapun posisinya di masyarakat, peran kita harus membawa visi besar KAMMI itu sendiri.

Di sesi kedua, Hadi Kurniadi memberikan pemaparan perjalanan KAMMI di Lampung dan memberikan gambaran bagimana dunia pergerakan di zaman itu dengan saat ini. Hadi menilai, “ada perbedaan mendasar dunia pergerakan zaman dulu dengan sekarang. Era media sudah mengambil peran vital organisasi gerakan (daam hal membangun opini publik)”. Terangnya.

“Tantangan di dunia gerakan semakin ketat. Gerakan mahasiswa, khususnya KAMMI di Lampung harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi hari ini. Saat ini, gerakan mahasiswa cenderung mengalami stagnansi, baik di bidang pengkaderan, maupun di bidang gerakannya (advokasi)”. Ungkap Hadi Kuniawan.

“Tantangan kita bukan saja di sektor politik, juga di sektor-sektor lainnya”. Tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Hadi Prayitno yang juga pernah menjadi Sekjen PP KAMMI mengatakan, “Aktivis KAMMI itu akan selalu berada dibarisan terdepan dalam meneruskan risalah perjuangan (dakwah) Rasulullah SAW. Selain itu, mereka mesti memiliki kapasitas keilmuan dan berdiaspora ke berbagai lini. Serta mampu membuka diri untuk bersinergis dengan pihak lain.” Ujarnya.

“Ingat, Kader KAMMI itu bukan Agent of Change. Bukan. Kita adalah Direct of Change. Kita tidak menunggu seperti agen (penyedia semata), tapi kita bekerja sebagai direktur (pengusung) perubahan.” Tandas Hadi yang disambut gemuruh takbir kader KAMMI Lampung.

Selanjutnya, Rinaldi, memberikan pesan, “kader harus bergerak atas dasar pemahaman. Kepahaman itu akan memberikan ruh bagi dirinya dalam melakukan aktvitas gerakan. Kepahaman itu adalah fondasi. Dan fondasi itu bisa dibangun lewat banyak membaca buku, berdiskusi, dan belajar dari generasi terdahulu.” Ungkapnya.

“untuk terjun ke masyarakat, kapasitas leadership mestilah ada dalam diri setiap kader, bukan semata kapasitas manajerial. Menjadi ketua, sekjen, bidang-bidang, itu masuk ke ranah manajerial, bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Tapi menjadi leader itu bisa dilakukan siapa saja, asalkan ia tidak terjebak oleh beban amanah yang ia emban. Sehingga membuat dirinya terkurung oleh tugas bidang nya semata”. Terang Rinaldi.

Di kesempatan terakhir, ketua PW KAMMI Lampung periode sebelumnya, Asis Budi Santoso berpesan, “Zaman boleh berubah, tapi ujian akan tetap sama. Yaitu ujian keistiqomahan. Kader mesti konsisten dengan visi besar perjuangannya. Jangan mudah terombang ambing oleh trend . Apalagi jenuh, lalu beralih meninggalkan gerakan”. Ujarnya.

“Kader KAMMI harus menjadi penggerak, bukan followers. Mengikuti zaman itu bukan berarti ikut arus (follower). Tetapi menciptakan “jalan baru”. KAMMI bukan tempatnya orang yang labil, tapi tempatnya orang yang stabil”. Papar Asis disambut tepuk tangan audiens.

**

Agenda ini di tutup dengan foto bersama dan pemotongan tumpeng secara simbolik oleh para alumni KAMMI.

Pagi sebelum acara diskusi ini di mulai, para kader menggelar acara perlombaan membuat dan menghias tumpeng, kontes foto, dan penampilan seni antar komisariat.

Sementara itu sehari sebelumnya, 31 maret 2018, PW KAMMI Lampung juga menggelar futsal competition yang diikuti 8 tim perwakilan dari 4 komisariat yang ada di kota Bandar Lampung.

“Harapan dari milad KAMMI ke-20 tahun ini, kita harus tetap ingat bahwa perjuangan itu akan terus berlanjut. Semoga rangkaian agenda Milad ini dapat mempererat ukhwah antar kader KAMMI se-Provinsi Lampung”. Ujar ketua PW KAMMI Lampung, Dian Putra.[]

 

Tinggalkan Komentar