Ketua Kebijakan Publik Pengurus Pusat KAMMI , Abdussalam

Jakarta, Jurnalpublik.com – Pemerintah melalui BUMN Pengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis Pertalite senilai Rp 200 per liter. Kenaikan harga berlaku mulai, Sabtu (24/3/2018) pukul 00:00 WIB.

Dampak kenaikan BBM paling besar dirasakan oleh rakyat kecil. Ketika BBM naik maka inflasi ikut naik yang berakibat harga-harga kebutuhan pokok juga ikut naik. Naiknya harga kebutuhan pokok akan membuat tingkat konsumsi rakyat miskin menurun bahkan bisa menambah jumlah rakyat miskin Indonesia yang kini mencapai 26,58 juta jiwa (Data BPS Per September 2017).

Kesengsaraan rakyat akan bertambah apabila harga BBM terus naik mendekati bulan suci Ramadan. Siklus tahunan harga kebutuhan pokok akan naik menjelang Ramadan semakin menggerus daya beli jutaan rakyat miskin Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Kebijakan Publik Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Abdussalam menegaskan bahwa KAMMI menolak kenaikan harga BBM yang menyengsarakan rakyat.

“Kami menuntut pemerintah untuk menjaga ketersediaan BBM subsidi bagi masyarakat miskin” ujar Abdussalam.

Dirinya menambahkan bahwa KAMMI menuntut pemerintah hadir dan mengembalikan kewenangan harga BBM kepada pemerintah.

“Kami juga mengintruksikan kepada seluruh pengurus daerah dan pengurus wilayah untuk melakukan aksi serentak nasional menolak kenaikan BBM,” Tegas Abdussalam.

Baca juga : Peserta Aksi KAMMI Kalimantan Selatan Ditahan Polisi

Tinggalkan Komentar