Pemerintah melalui Pertamina, menaikkan lagi harga BBM Jenis Pertamax per tangal 1 Juli 2018

Jakarta, Jurnalpublik.com – Pemerintah melalui Pertamina kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite, setelah sebelumnya menaikkan harga BBM jenis Pertamax. Kenaikannya menjadi 7.800 – 8.150 rupiah. Pemerintah beralasan, kenaikan ini menyesuaikan kenaikan harga minyak dunia.

Ahmad Redi, pengamat hukum migas dari Universitas Tarumanegara memberikan pendapatnya terkait kenaikan BBM jenis Pertalite. Berikut pendapatnya :

“Kenaikan BBM (non subsidi) saat ini adalah akibat adanya liberalisasi barga BBM sesuai dengan mekanisme pasar. Liberalisasi ini sesungguhnya tidak cocok dengan landasan Konstitusional yang mengatur bahwa migas harus dikuasai negara termasuk penetapan harga BBM yang tidak diserahkan kepada mekanisme pasar. Peran Pemerintah seolah menjadi tukang cap (hanya menetapkan) apa yang terjadi di pasar (liberalisasi migas)”, ungkapnya.

“Selain itu, Pemerintah tidak memiliki terobosan yang baik untuk memitigasi kenaikan ICP (harga minyak mentah). Ketika harga minyak dunia naik, Pemerintah langsung siap-siap menaikkan harga BBM dalam negeri tanpa membuat formula agar kenaikan ICP ini tidak membebani rakyat. Bila hanya bussiness as usual dalam membuat kebijakan kenaikan harga, maka Pemerintah auto-pilot pun dapat melakukannya”, tambah Redi.

“Terakhir, tata kelola energi jangka panjang belum dimaksimalkan oleh Pemerintah. Pengembangan sumber-sumber energi nonfosil harus dilakukan secara konsisten dan cepat”, tutup alumni aktivis KAMMI ini.

Sementara itu di tempat lain, Ketua Corps Puteri Muslimin Indonesia (COPMI), Zahra menuntut Presiden Jokowi bertanggung jawab atas kenaikan harga BBM ini.

“Apa yang dilakukan rezim hari ini menyulitkan hidup rakyat. Beban rakyat tambah berat dengan kenaikan Pertalite ini, karena bbm bersubsidi jenis premium sudah sulit dicari sehingga mau gak mau rakyat membeli Pertalite. Sebaiknya Presiden Jokowi lempar handuk saja. Jangan kepedean mau maju lagi jadi Presiden. Sudah cukup!”, pungkasnya.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.