Jakarta, Jurnalpublik.com – Papa Setnov kembali membuat heboh, dalam kesaksiannya di pengadilan menyebut nama Puan Maharani dan Pramono Anung menerima dana korupsi e-ktp. Kesaksian dibawah sumpah adalah kesaksian yang serius.

Kesaksian Setnov ini merupakan babak baru konstelasi politik ke depan, bahkan mungkin saja mempengaruhi konfigurasi politik ke depan terutama dalam koalisi pencapresan. Ditambah lagi respon Hasto selaku Sekjend PDIP yang cukup menyinggung petinggi Partai Demokrat.

Kesaksian Setnov yang menyentuh ring 1 PDIP dan ring 1 Presiden Jokowi akan membawa beberapa konsekuensi politik ke depan;

Pertama, kesaksian Setnov ini membuat PDIP semakin tersandera oleh Jokowi, sehingga ketergantungan PDIP terhadap Jokowi semakin kuat. Ini bisa dimanfaatkan oleh Jokowi untuk memastikan tiket capres PDIP untuk dirinya.

Kedua, pernyataan reaktif Hasto yang membuat tersinggung Partai Demokrat bisa mengganggu hubungan harmonis PDIP-Demokrat. Dalam konstelasi ke depan kemungkinan paket Jokowi-AHY mungkin saja kandas di awal.

Ketiga, Setnov membuktikan dirinya masih sebagai “play-maker” dalam perpolitikan nasional, bahkan dari balik jeruji.

Keempat, KPK akan semakin mendapatkan tuntutan publik agar bersikap tidak tebang-pilih, apakah KPK berani mengusut ring 1 Presiden dan ring 1 PDIP?

Kelima, nyanyian Setnov mengaburkan semua kalkulasi politik linier, dinamika politik kembali cair dan dinamis. Masing-masing capres punya peluang yang sama dan terbentuknya koalisi semakin zig-zag.

Upaya Jokowi untuk melawan kotak kosong sepertinya akan menemui batu karang, polarisasi pro Jokowi dan anti Jokowi kembali cair, ditambah hasil survei Jokowi yang tidak naik-naik elektabilitasnya padahal dia petahana.

Issue ganti presiden 2019 semakin menguat, partai-partai pendukung Jokowi yang sejak awal deklarasi Jokowi capres 2019 mulai ragu-ragu. Bagaimanapun tiket capres punya partai, sedangkan hari demi hari situasi bangsa menurun.

Pada situasi saat inilah saatnya capres alternatif harusnya muncul memutus kebuntuan politik, sekaligus membawa arus baru issue tentang pencapresan.

Nama-nama segar harusnya sudah muncul ke permukaan dan percaya diri tampil ke publik. Anis Matta yang sudah pasang spanduk dan baliho dimana-mana saatnya tampil ke publik, begitu juga Jendral Gatot yang akan menjalani masa pensiun mulai tampil ke publik. Atau Bang Yusril yang berhasil mengembalikan PBB ke kontestasi Pemilu 2019 harus juga tampil ke publik. Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang sekarang punya panggung sudah saatnya percaya diri mencari tiket capres dari partai politik.

Politik itu zig-zag tidak linier, politik itu seni mendesai peluang dan kemungkinan-kemungkinan.

Publik harus disuguhkan channel pencapresan yang banyak, tidak melulu Jokowi dan Prabowo, Indonesia harus punya banyak pilihan, biarkan ummat mencari jodoh pemimpinnya dan itu tidak hanya Jokowi dan Prabowo.

-irfanenjo-
Kabid Politik Kakammi

Tinggalkan Komentar