50 Juta Data Akun Facebook Bocor

Jakarta, Jurnalpublik.com – Facebook tengah mendapat kecaman dikarenakan sejumlah data akun penggunanya bocor ke pihak yang tidak berhak. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 50juta akun.

Sebuah perusahaan analis data yakni Cambridge Analytica (CA), dilaporkan terlibat dalam skandal terkait kebocoran data puluhan juta pengguna aplikasi Facebook.

Usut punya usut, perusahaan yang pernah  bekerja dengan tim kampanye Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, itu dianggap telah memanfaatkan jutaan data guna membuat sebuah program software yang hebat sehingga dapat memprediksi serta mempengaruhi pemilihan suara.

Seperti yang dilansir dari The Guardian pada hari Selasa 20 Maret 2018, terkait bagaimana CA menggunakan informasi personal diambil tanpa mendapatkan izin di awal tahun 2014 silam yang dimanfaatkan untuk membangun sebuah sistem yang bisa menghasilkan profil pemilih individual Amerika Serikat.

Hal tersebut dilakukan untuk menargetkan mereka dengan sejumlah iklan politik yang sudah dipersonalisasi. Diketahui, CA merupakan sebuah perusahaan yang dimiliki oleh miliarder Robert Mercer yang pada saat itu dipimpin oleh penasihat utama Trump, Steve Bannon.

“Kami mengekspolitasi Facebook dan “memanen” jutaan profil orang-orang. Kami membuat berbagai model untuk mengeksploitasi apa yang kami tahu tentang mereka dan menargetkan ‘isi hati’ mereka. Itulah dasar keseluruhan perusahaan dibangun,” Kata Wylie, seorang narasumber yang bercerita pada The Guardian.

Saham Facebook Anjlok

Buntut skandal Cambridge Analytica, ternyata merugikan pihak Facebook. Kabar bahwa perusahaan analisis data tersebut membantu Donald Trump naik ke kursi presiden dan mampu menghimpun data 50 juta pengguna Facebook tanpa izin telah menjatuhkan nilai Facebook hingga USD 50 milyar sejak Jumat (15/3) pekan lalu.

Angka tersebut adalah torehan terburuk saham mereka dalam dua hari perdagangan. Saat bursa ditutup hari Selasa (20/3), harga saham Facebook USD 168 per lembarnya, turun 10 persen dibanding hari Jumat. Hari Selasa kemarin juga menandai jual beli saham Facebook terbesar sejak 2014, dengan total 129 juta lembar saham Facebook berpindah tangan.

Di tengah terjadinya krisis Facebook, Mark Zuckerberg belum juga kelihatan batang hidungnya ataupun memberikan pernyataan resmi terkait kebocoran data tersebut. Berbagai pihak mendesak agar sang CEO segera memberi penjelasan, termasuk hadir di parlemen Amerika Serikat.

Ajakan Menghapus Facebook

Skandal ini mendapat perhatian banyak pihak, salah satunya mantan pendiri WhatsApp yang menyerukan ajakan “menghapus Facebook”.
Melalui akun Twitternya, Brian Acton menuliskan tagar #DeleteFacebook (hapus Facebook). Kemudian tagar tersebut dibicarakan dan di-retweet oleh lebih dari 1.800 pengguna Twitter.

Brian Acton adalah salah satu pendiri WhatsApp yang bekerja bersama Jan Koum mengembangkan aplikasi ini. Brian sempat bekerja selama kurang lebih empat tahun setelah WhatsApp diakuisisi oleh Facebook.

Ia kemudian meninggalkan Facebook dan mendirikan aplikasi pesan instan melalui Signal Foundation. Pria yang dikenal telah lama berkecimpung di bidang enkripsi dan privasi data ini tidak menjelaskan secara rinci alasannya menuliskan tagar tersebut. Meski sebenarnya sangat jelas, tagar ini berhubungan dengan skandal bocornya 50 juta data pengguna Facebook.[]

Tinggalkan Komentar