Jakarta, Jurnalpublik.com – Di tengah partai-partai mencari format koalisi, AHY muncul dengan pidato politik. Entah apa yang dibidik? Mengincar posisi capres dalam poros barukah? Ataukah hanya cawapres poros yang sudah ada? SBY tentu berperan memutuskan, apakah AHY harus berpidato kini, atau nanti?

Tak seperti biasanya, SBY muncul pada momen yang pas. Kali ini, nyaris tak ada kejutan berarti. Meski orang sedang menanti tokoh baru, di samping Jokowi dan Prabowo, tapi penantian itu belum memuncak. Orang sudah tahu AHY, tapi kekalahan di DKI, membuat dia belum dilirik.

Sudah ada popularitas dan elektabilitas, tapi masih kecil. Belum ada tanda-tanda, rebound. Belum ada histeria, belum ada gelombang, masih terlalu cair. Pidato hebat pun, akan dinilai biasa-biasa saja. Apalagi pidato yang memang biasa-biasa saja. Tanpa teks, tapi masih terlihat hafalan. Bukan yang spontan. Kata-kata kejutan, hentakan, nyaris tak ada. Masih mirip, lomba pidato saja.

Isinya bagus, normatif. Kayak lapangan pekerjaan, pendapatan dan daya beli, kemiskinan, hubungan negara dan rakyat, dan kerukunan sosial, keadilan, kebebasan dan keamanan, termasuk 9 strategi untuk meraihnya. Semuanya bagus, perlu, tapi orang belum memperhatikan secepat itu. Kesan SBY-nya masih terasa. Buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Bakat AHY tak bisa dipungkiri.

Apakah SBY sudah tak detail dan kalkulatif lagi? Bukan. Sepertinya SBY sedang melatih AHY, untuk lebih awal tampil. Bila di akhir-akhir, tak ada lagi waktu untuk memperbaiki. Hanya tinggal maju, tempur. Pilkada DKI Jakarta, adalah pelajaran berharga. Bahwa tak ada yang instan.

Momentum dapat, tapi tak ada persiapan, juga bumerang. Akhirnya juga kalah, walaupun sempat melambung setinggi-tingginya. Karena tak ada penyangga, akhirnya juga jatuh, nyungsep. Dan sepertinya, AHY adalah kartu terakhir SBY. Tak ada lagi orang yang dipersiapkan selain dia. Politik juga kayak sudah terkunci. Manuver-manuver baru tak mudah, bisa-bisa terkurung sendiri.

Ada rumor SBY sebetulnya cuma mementingkan keluarganya. Itulah hakikat dari strategi seorang SBY sesungguhnya. Jadi sudah tak menarik. Selain sah-sah saja, itu juga tak sepenuhnya benar. Anas Urbaningrum pernah menjadi Ketum PD, walau berakhir buruk. Tapi itu sudah bukti. Lawan-lawan politik SBY terlalu berlebihan. Tapi alasannya juga ada. AHY terlalu cepat dipetik.

Maka, berpidato kini lebih baik daripada nanti, karena tak ada pilihan lagi. Hanya besi ini, yang tinggal dibentuk, dipanaskan, ditempa. Apalagi usai kekalahan di DKI, AHY langsung road show ke daerah-daerah. Pidato mengakui kekalahannya sangat mengagumkan. Bukan isinya, tapi sikapnya. Ada beberapa “operasi politik” yang terasa kentara, tapi dia menutup rapat-rapat hal itu.

AHY terus melaju, tanggung berendam. Tak ada istilah mundur ke belakang setelah layar terkembang. Patriotismenya cukup, semangat mudanya lumayan, dan energinya, melimpah. Lari jarak jauh, masih kuat. SBY tentu, sudah mengevaluasi. Politik hari-hari, tak terlalu sulit digeluti oleh SBY. Setelah dua periode berkuasa, rasa itu masih ada. Tapi, SBY bisa lama larut dalam itu.

Tahun politik ini, pasti lebih keras, dan tak bisa main-main. Tak bisa, uji coba. Dua poros yang ada, sama-sama kuat. Prabowo memang belum menyatakan maju, tapi dia jadi poros sendiri, nyaris pasti. Membuat poros baru, tak mudah. Sama tak mudahnya, masuk dalam poros yang ada.

SBY akan benar-benar menghitung apakah akan bergabung ke Jokowi atau Prabowo atau malah membuat poros baru. Pidato politik AHY dalam Rakernas itu, membuat ketiga peluang itu sama-sama mungkin. Menariknya, SBY bisa main dalam tiga peran itu tanpa tersandera siapapun.

SBY atau Demokrat, hanya sekadar pendukung, rasanya itu mustahil. Bila takdir, itu beda lagi. AHY harus masuk keranjang. Makanya, jadwal pidato politik AHY dimajukan. Bila kurang, masih ada waktu memperbaiki. Syukur-syukur, umpan dimakan pemilih. Situasi ini yang sedang dibaca baik-baik oleh SBY. Raut wajah SBY serius, tak menoleh sedikitpun saat AHY berpidato.

Maka, sepertinya ini bukan menjadi pidato politik pertama dan terakhir bagi AHY. Akan ada pidato-pidato berikutnya, menjelang pendaftaran capres-cawapres, Agustus mendatang. Saat ini AHY sudah dihitung, tapi untuk maju nomor 1 atau dilirik dua poros yang sudah ada, rasanya belum. Entah, bila nanti? Politik masih dinamis, AHY mungkin masih berpidato lagi? Nanti saja.

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar