Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Corps Puteri Muslimin Indonesia (COPMI)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Ketua Corps Puteri Muslimin Indonesia, Zahra menegaskan pilihan bercadar merupakan hak seseorang. Penegasan tersebut adalah untuk menanggapi isu di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta soal penggunaan cadar.

Zahra mengatakan pilihan mengenakan cadar merupakan hak individu. Dirinya bersama Copmi juga siap mengadvokasi mahasiswi yang dilarang memakai cadar di universitas tersebut.

“Saya kira, lembaga manapun harus taat pada hukum negara dimana warganya dibebaskan menjalankan syariat dalam agamanya masing – masing. Niqob (cadar, red) itu kan tentang perbedaan madzhab. Dalam Islam taat pada madzhab adalah wajib hukumnya. Yang saya ketahui, niqob wajib untuk madzhab Syafi’I paling rojih” Tegas Zahra.

Zahra juga meminta kepada pihak UIN Yogyakarta agar bijak dalam menerima perbedaan pandangan beragama.

Seperti diketahui Mahasiswi bercadar akan mendapatkan pembinaan dari kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui tujuh tahapan berbeda. Jika seluruh tahapan pembinaan telah dilampaui dan mahasiswi yang bersangkutan tidak mau melepas cadar, maka pihak UIN akan memecat mahasiswi itu.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi mengatakan jika sudah dilakukan pembinaan dan konseling bahkan sudah tujuh tahapan dilalui dan tetap menolak, maka mahasiswi yang bercadar akan dipersilakan pindah kampus atau keluar dari kampus.[]

Tinggalkan Komentar