Kendari, Jurnalpublik.com – Dala (50) adalah seorang guru SD di Desa Waindawula yang menyambi jadi petani. Perawakan Dala mirip orang Eropa. Tubuhnya tinggi, rambut pirang, kulit putih, dan matanya berwarna biru. Begitu pun anaknya bernama Ariska Dala (15), juga memiliki mata biru.

Dala tinggal di Siompu Timur, salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Buton Selatan (Busel). Pulau Siompu, begitu masyarakat Sulawesi Tenggara menyebutnya. Jika berangkat dari Pelabuhan Topa, Kota Baubau, hanya membutuhkan waktu 40 menit perjalanan laut menggunakan speed boat untuk sampai ke pulau ini. Ada dua pulau yang dilewati yakni Pulau Kadatua dan Pulau Ular. Setelahnya, barulah Pulau Siompu. Sebelah Pulau Siompu, itu sudah masuk Pulau Batu Atas. Jadi pulau ini terletak di antara Pulau Ular dan Pulau Batu Atas.

Keluarga ini tidak terlalu gamblang menerima kedatangan orang asing. Saking tertutupnya, Dala menolak untuk diabadikan gambarnya.

Versi Dala, pada abad 16 atau sekira awal tahun 1600-an, Pulau Siompu menjadi tempat persinggahan pelaut dari Eropa. Termasuk dari Portugis. “Itu jauh sebelum datang Belanda,” ujarnya.

Bentuk persahabatan antara warga Siompu dengan Portugis kala itu, pemimpin Portugis mempersunting gadis bernama Waindawula. Gadis ini adalah cucu dari La Laja, seorang bangsawan Wolio. Salah seorang keturunan La Laja ini yakni La Ode Ntaru, Lakina Liya (Raja Liya) yang berkuasa tahun 1928. Memang saat saya berkunjung ke Benteng Liya (Wakatobi, red), perawakan La Ode Ntaru ini mirip orang Eropa. Tapi tidak ada warisan pigmen pada turunannya di Wakatobi yang bermata biru.

“Sebenarnya banyak yang kawin mawing (kawin silang) dengan pasukan Portugis ketika itu. Keturunan mereka juga banyak bermata biru. Kalau tidak biru matanya, biasanya rambutnya yang berwarna pirang. Tapi yang tahu persis, itu kakak saya yang di Ambon itu cerita lengkapnya,” ungkap Dala mengisahkan cerita leluhurnya yang turun temurun terkait asal muasal mata biru.

“Masih banyak sebenarnya yang mewarisi mata biru ini. Hanya mereka banyak yang pindah,” imbuhnya.

Dari hasil penelusuran sementara, di Desa Waindawula, tersisa tiga rumpun yang masih mewariskan pigmen keturunan Perancis. Mereka hidup di desa tersebut sebagai petani. Kurang lebih 10 orang yang bermata biru, termasuk Dala dan anaknya. Sementara, keturunan lainnya, matanya tidak biru tapi rambutnya pirang dan kulitnya tetap putih. Jumlah penduduk di Desa Waindawula sekitar 20 KK. Jarak rumah di desa ini saling berjauhan satu sama lain. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kebun. (Kendaripos)

Tinggalkan Komentar