Demiz - Syaikhu

Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari-hari ini partai politik di Indonesia disibukkan oleh kegiatan pemenangan di pilkada 2018. Tentu saja kesibukan ini juga termasuk hal yang biasa terjadi di pilkada yaitu koalisi.

Koalisi yang terbentuk idealnya haruslah berlandaskan kesamaan visi dan misi anggota koalisi, utamanya lagi seharusnya koalisi dibangun berdasarkan kesamaan ideologi. Sebab ideologi akan menjadi pijakan partai politik dalam menentukan agenda politik didalam koalisi. Jika partai didalam koalisi punya kesamaan ideologi maka akan jelaslah agenda dan tarhet politik yang akan dicapai.

Namun kenyataannya, koalisi partai saat ini tanpa dilandasi ideologi yang jelas. Semua partai dengan bermacam ideologi menjadi mungkin bersatu atas dasar kepentingan dan kekuasaan.
Tanpa kesamaan ideologi, koalisi yang terbangun hanyalah koalisi pragmatis yang hanya berdasar pada kepentingan belaka.

Maraknya koalisi gado-gado antar ideologi ini tidak lepas dari tidak jelasnya ideologi partai politik. Partai religius mengaku nasionalis sebaliknya partai nasionalis mengaku religius. Ada partai Islam tapi korupsinya kencang, ada pula partai wong cilik namun tidak membela hak wong cilik. Hampir dapat dikatakan semua partai di Indonesia ini tidak punya ideologi yang jelas, atau setidaknya tidak komitmen terhadap ideologinya.

Hal lain yang menjadi penyebab adalah keputusan partai hanya diputuskan oleh beberapa elite partai saja sehingga keputusan yang diambil disesuaikan dengan selera elite partai. Penyebab yang paling sering terjadi adalah besarnya nafsu berkuasa dalam setiap partai politik. Sehingga koalisi tidak lagi memandang kesamaan ideologi namun koalisi mana yang lebih berpeluang untuk menang.

Satu hal yang pasti bahwa koalisi tanpa ideologi tidak akan langgeng, setiap saat koalisi ini bisa saja bubar sebab dasarnya hanya kepentingan dan kekuasaan belaka.
Bagi kita rakyat awam, jangan banyak berharap akan terjadi perubahan kearah yang lebih baik Selama koalisi yang terbangun adalah koalisi tanpa ideologi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.