Anis Baswedan

Jakarta, Jurnalpublik.com – Dalam teori ekonomi sumberdaya (resource economics) kita sangat familiar dengan istilah eksternalitas. Eksternalitas merupakan manfaat (benefit) tidak langsung yang diberikan dari suatu pihak akibat aktivitas ekonomi. Bahasa pasarnya, eksternalitas adalah dampak dari aktivitas ekonomi. Jika seseorang mengkonsumsi barang publik (public goods) maka akan menghasilkan sebuah eksternalitas. Menurut Fisher (1996), eksternalitas sangat penting untuk diketahui karena akan menyebabkan alokasi sumberdaya yang tidak efisien. Oleh sebab itu, banyak pelaku ekonomi menghindari terjadinya eksternalitas karena berdampak negatif. Walaupun ada juga eksternalitas dapat menimbulkan dampak positif.

Ada kejadian menarik (baca : eksternalitas) yang menjadi viral dimedia sosial beberapa waktu yang lalu antara Presiden RI (Jokowi) dan Gubernur DKI Jakarta (Anies Baswedan). Hal tersebut menurut saya adalah sebuah “Tragedy of the Commons” bagi bangsa Indonesia karena di satu sisi kita mengagung-angungkan demokrasi Pancasila (baca : politik kedewasaan) namun disisi lain kita masih menggunakan cara-cara kekanak-kanakan dalam berpolitik. Tragedi pencekalan Paspampres terhadap Anies Baswedan diacara Piala Presiden (Persija Jakarta vs Bali United) merupakan bentuk eksternalitas yang sungguh menunjukkan kapasitas kepemimpinan nasional kita saat ini yang sedang mengalami krisis.

Di tahun politik sekarang ini seharusnya para pembisik Jokowi berhati-hati jangan sampai salah dalam memberikan masukkan yang dapat menimbulkan eksternalitas. Sebab hal tersebut akan menyebabkan alokasi Sumberdaya politik Jokowi sebagai Incumbent akan menjadi tidak efisien (eksternalitas negatif) yang ujung-ujungnya berdampak pada elektabilitas. Ibarat asap rokok (eksternalitas negatif) dan asap sate (eksternalitas positif), tragedi tersebut menyebabkan Jokowi terkena asap rokok (bisa menyebabkan kanker, gangguan kehamilan & janin jika terhirup) sedangkan Anies Baswedan terkena asap sate (harum & bikin lapar jika terhirup).

Meskipun pihak istana telah melakukan klarifikasi (pembelaan) namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tragedi tersebut telah menjadi tontonan rakyat. Para netizen pun mulai menggalang aksi simpatik dimedia sosial mengenai tragedi tersebut. Jika tim sukses Anies Baswedan mampu mengelola “issue” ini dengan baik maka bisa menjadi momentum yang baik bagi Anies Baswedan untuk naik panggung di pertarungan Pilpres 17 April 2019 melawan Jokowi. Sehiggga akan mengulang “political accidentally”, seperti yang dilakukan SBY dalam memanfaatkan momentum pemecatannya oleh Megawati.

Pada akhirnya saya teringat kata-kata yang diungkapkan oleh Jenderal Dostum (Wakil Presiden Afghanistan sekarang) dalam film box office “12 Strong”. Jenderal Dostum mengatakan kepada sekutunya (Amerika) di medan perang ketika melawan pasukan Al-Qaidah : “Today is a Friend, Maybe Tomorrow is the Enemy”. Foto-foto klarifikasi pihak istana yang memperlihatkan Jokowi bersalaman dengan Anies Baswedan ketika menyambut gol Persija beberapa detik sebelum tragedi tersebut terjadi, menjelaskan kepada kita bahwa didalam politik bahkan lebih kejam dari pada medan perang sekalipun, karena setiap detik teman bisa berubah menjadi lawan.

Ahmad Fadhli
Pegiat Ekonomi Sumber Daya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.