Jakarta, Jurnalpublik.com

Pendidikan Tak Pernah Lepas Dari Bisnis

Berapa banyak negara yang memudahkan anak-anak bangsanya untuk mengenyam pendidikan? Tak banyak. Jika ada, berarti maayarakat dalam negara tersebut sudah paham, bahwa pendidikan adalah hak anak bangsa, dan pendidikan adalah cara untuk meningkatkan mutu SDM bangsanya.

Jika ada negara yang tidak atau belum memudahkan anak bangsanya mengenyam pendidikan, berarti tujuan pendidikan negara tersebut belumlah untuk meningkatkan mutu SDM bangsanya. Lalu apa tujuan pendidikannya?

Beberapa waktu yang lalu ada yang menuliskan bahwa pendidikan adalah ajang bisnis. Laku ramailah kontra yang menjawab tulisan tersebut.

Sekarang saya menanyakan kembali kepada anda? Apakah anda yakin tujuan pendidikan sudah lepas dari bisnis?

Baru juga anak bisa berjalan, orangtua sudah bayar iuran sekolah, sekolah bermain, bukan main mahal harganya. Lalu PAUD, TK, SD, SMP, SMA, Kuliah. Hidup orangtua “dihantui” mahalnya mempunyai anak karena harga pendidikan yang tak kunjung turun, malah makin naik.

Di Indonesia kini biaya sekolah di gratiskan dan biaya penunjang diberikan, namun prosedurnya sungguh menyulitkan orangtua. Negara bahkan tak siap menanggung biaya sekolah anak sampai tingkat dasar.

Belum lagi apa yang diberikan sekolah tak pernah cukup, sehingga orangtua perlu menambah biaya les diluar sekolah.

Kenapa tak sekolah cukupkan semua yang dibutuhkan siswa-siswanya? Kenapa siswa-siswa perlu ikut les tambahan? Apa mungkin negara tak tahu sekolah tidaklah cukup untuk anak-anak bangsanya?

Atau mungkin pendidiknya yang tidak memenuhi kualifikasi penunjang peningkatan mutu SDM anak bangsa?

Semuanya bertalian, tak jelas ujungnya. Tapi satu yang pasti mutu SDM tak kunjung meningkat.

Orangtua Bukan Penentu Pilihan Pendidikan Anak

Dan satu yang lebih “parah” adalah, orangtua merasa paling tahu dimana anaknya harus disekolahkan. Semua orangtua yang atur. Dari sekolah dasar sampai kuliah.

Mungkin ada yang berkata, “ya kali anak kecil tahu mau sekolah dimana?” Dalam hal ini saya sepakat dengan sekolah dasar umum. Kenapa? Karena kita tidak perlu mengulang kesalahan pilihan pendidikan anak. Pola pikir orangtualah yang harus berubah, bahwa pilihan pendidikan anak adalah pilihan anak itu sendiri.

Dan terlebih lagi, jika anda salah memilihkan pendidikan anak anda maka anda akan mensia-siakan bakat anak anda.

Apakah anda tak percaya bakat?
Apa itu bakat? Bakat adalah pemberian Tuhan untuk setiap individu, yang jika bakat tersebut terus diasah maka mutu SDM akan terus meningkat. Yang tentunya tak akan bertolak dengan kecenderungan (keinginan) dan kemampuan anak tersebut.

Bukankah menikmati masa-sama bersekolah adalah hal yang luar biasa? Berapa banyak anak-anak bangsa yang bisa menikmati masa-masa sekolah mereka? Entah berapa banyak anak-anak bangsa yang tertekan dalam masa-masa sekolahnya.

Anda, orangtuanya bertanggungjawab terhadap hal itu. Bahwa apa yang sudah Tuhan tetapkan telah anda abaikan, lalu anda memilih sendiri menurut penilaian anda yang tujuannya belumlah tentu sesuai dengan tujuan Allah.

Salah satu contoh adalah anak yang dominan dengan otak kanan atau otak kiri. Begitu juga dengan dominan penggunaan tangan. Menurut psikologi, penggunaan tangan menentukan pola pikir seseorang. Jika anak anda kidal, tak perlu anda pukul tangannya jika dia menulis atau mengambil makanan dengan tangan kiri. Jika anda melakukannya, mungkin anda sudah mengganggu pola berpikir anak anda.

Marilah menjadi bagian yang turut meningkatkan mutu pendidikan anak-anak bangsa dengan tidak memaksakan apa yang menjadi penilaian kita haruslah anak-anak kita lakukan. Karena Rosul berkata, Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.