Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari Lahan Basah Sedunia diperingati setiap tanggal 2 Februari. Konvensi Lahan Basah Internasional pertama di Ramsar, Iran pada tanggal 2 Februari 1971. Isi konvensi lahan basah internasional berkaitan dengan perjanjian antar negara untuk berkomitmen pada perlindungan lahan basah yang bernilai penting bagi dunia internasional dan melakukan pemanfaatan secara bijaksana sumber daya alam hayati yang ada di dalamnya. Urgensi penanganan perjanjian ini terutama pada pengelolaan lahan basah yang secara ekologis membentang melintasi lebih dari satu negara, termasuk di dalamnya perlindungan terhadap burung air migran yang memiliki lintasan terbang antar negara. Di Indonesia sendiri telah terdapat 6 situs Ramsar, yaitu TN Rawa Aopa Watumohai Sulawesi Tenggara, TN Sembilang, TN Berbak, Danau Sentarum, TN Wasur dan Pulau Rambut.

 Lahan basah penting bagi kehidupan masa depan manusia. Tidak terbayangkan jika di masa depan kelak, manusia hidup tanpa lahan basah. 

Ironisnya, dari tahun ke tahun, luas lahan basah di seluruh dunia mengalami pengurangan yang signifikan. Menurut hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa 64% dari lahan basah di seluruh dunia telah menghilang sejak tahun 1900. Bahkan di beberapa kawasan, terutama Asia, laju pengurangan itu lebih tinggi. Saat ini luas lahan basah di dunia diperkirakan lebih dari 8,5 juta km2. Jumlah ini setara dengan lebih dari 6% dari total luas permukaan bumi.

Untuk mengingat pentingnya lahan basah bagi kehidupan manusia, perlu kita uraikan kembali manfaat lahan basah untuk kehidupan manusia, diantaranya;

a. Lahan Basah Pemasok Air Bersih
Sebagaimana diketahui, dari total air yang terdapat di bumi hanya 3% saja yang berupa air tawar. Itupun sebagaian besar berupa air beku. Padahal, manusia membutuhkan antara 20-50 liter air perharinya untuk memenuhi segala kebutuhan dasarnya mulai dari minum, memasak, hingga mandi. Lahan basah menjadi wilayah yang kaya akan air tawar. Lahan basah menampung air hujan hingga dapat dimanfaatkan manusia bahkan membantu peresapan air ke dalam tanah sebagai cadangan air bersih di dalam tanah bagi manusia. Tak perlu melakukan penyulingan dengan biaya yang besar untuk mendapatkan air bersih.

b. Lahan Basah Menyaring Air dari Limbah Berbahaya
Aktifitas manusia menghasilkan banyak limbah berbahaya. Tidak sedikit limbah-limbah berbahaya tersebut yang kemudian tercampur ke dalam air. Akibatnya, air menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Lahan basah dengan berbagai macam jenis tanaman yang tumbuh di dalamnya mampu menyaring dan membersihkan air dari limbah-limbah yang berbahaya. Penyaringan air dari limbah berbahaya berlangsung dengan gratis tanpa biaya apapun.

c. Lahan Basah Sumber Pakan Manusia
Padi sebagai penghasil beras (makanan pokok miliaran orang) tumbuh di sawah. Berbagai lahan pertanian yang mengandalkan saluran irigasi. Ikan yang setiap orang mengkonsumsinya hingga rata-rata 19 kg pertahun, tumbuh dan berkembang biak di rawa-rawa, hutan bakau, hingga muara sungai. Sawah, irigasi, rawa-rawa, hutan bakau, hingga muara sungai adalah sedikit contoh kawasan lahan basah yang keberadaannya menopang ketersediaan pangan bagi manusia.

d. Lahan Basah Pusat Keanekaragaman Hayati
Lahan basah menjadi tempat hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Sedikitnya 100.000 spesies air tawar mendiami lahan basah. Jutaan jenis burung air (di Indonesia saja tercatat hampir 400-an spesies) tergantung pada kelestarian lahan basah. Belum termasuk berbagai jenis hewan dan tumbuhan lainnya. Dan keberlangsungan setiap spesies tumbuhan dan hewan adalah juga merupakan bentuk keberhasilan kehidupan manusia.

e. Lahan Basah Peredam Bencana Alam
Lahan gambut, rawa-rawa, dan jenis lahan basah lainnya mampu menampung, menyerap, dan mengelola air hujan hingga tidak menjadi bencana banjir. Kemampuan menampung air hujan inipun mencegah terjadinya bencana kekeringan. Tumbuhan dalam hutan bakau mampu meredam hantaman tsunami dan abrasi akibat gelombang air laut. Lahan basah mampu berperan sebagai peredam berbagai bencana alam yang mengintai manusia.

f. Lahan Basah Memerangi Perubahan Iklim
Lahan gambut, salah satu jenis lahan basah, mampu mengikat dan menyimpan karbon (salah satu pemicu perubahan iklim) hingga 2 kali lipat dibandingkan seluruh hutan di dunia. Lahan basah di daerah pesisir seperti mangrove, mampu meredam badai dan tsunami.

g. Lahan Basah Sumber Mata Pencarian
Puluhan juta orang menggantungkan hidupnya dari perikanan yang sebagian besar terdapat di lahan basah. Berbagai jenis kayu bangunan, tanaman obat, pakan ternak dihasilkan dari lahan basah yang dikelola secara berkelanjutan dan lestari.

Akan sulit membayangkan sebuah masa depan tanpa lahan basah.

Melakukan pemulihan lahan basah merupakan pekerjaan yang tidak mudah, persoalan utamanya terletak pada pemahaman manusia itu sendiri terhadap pentingnya lahan basah.

Di Indonesia, Badan Restorasi Gambut didirikan tahun 2015 untuk memulihkan sekitar dua juta hektar lahan gambut di tujuh provinsi dalam waktu lima tahun. Ada sekitar 300 sekat kanal yang sudah dipetakan dan siap dibangun di taman hutan rakyat Berbak, Jambi. Namun, memulihkan lahan gambut berarti juga harus memahami bagaimana gambut digunakan oleh masyarakat sekitar. Ketika kanal ditutup, masyarakat yang ada di sekitar harus mendapatkan penggantinya. Masyarakat melihat seolah-olah ada lahan yang tidak dimanfaatkan, lalu kenapa lahan itu tidak dikeringkan agar bisa ditanami. Dan masalah menjadi semakin pelik ketika lahan basah dikeringkan justru berpotensi terjadinya kebakaran lahan.

Namun menentukan bagaimana lahan tersebut bisa digunakan agar tak dibakar lagi, juga tidak mudah. Pasalnya, belum ada pemetaan atau pendataan menyeluruh tentang kondisi sosial masyarakat di sekitar gambut.

Dari sekian banyak program pemulihan lahan basah, beberapa hal dibawah ini cukup tepat dilakukan, diantaranya;

a. Pendekatan kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya lahan basah bagi kehidupan manusia
b. Pendataan dan pemetaan masyarakat sekitar lahan basah untuk bisa mengelola lahan basah sehingga dapat menopang ekonomi masyarakat disekitarnya namun tidak merubah fungsi lahan basah itu sendiri
c. Menggabungkan pertanian dan peternakan dengan tetap mempertahankan lahan gambut
d. Melakukan konservasi lahan gambut dengan melakukan penanaman tanaman yang quick income bagi masyarakat sekitar
e. Melakukan pemberdayaan lahan tanpa mengganggu habibat tumbuhan dan hewan
f. Dukungan yang besar dari pemerintah dan aparatnya untuk melakukan pemulihan dan perlindungan lahan basah serta penataan kota yang sesuai dengan fungsinya.

Hutan semestinya tidak lagi dipandang sebagai sumber pendapatan ekonomi, melainkan sebagai sumber daya yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap sumber produksi lainnya dan lingkungan. Selain itu, upaya reboisasi atau penghijauan secara alamiah sangat sesuai untuk rehabilitasi hutan lindung, hutan lahan basah dan taman nasional. Vegetasi yang tumbuh terdiri atas bermacam-macam jenis sesuai dengan kondisi tanah dan iklim daerah masing-masing. Dengan cara itu, keragaman hayati yang selama ini hampir punah secara perlahan bisa hidup dan keberlanjutan dan ekosistem lahan basah kian terjamin.

Tinggalkan Komentar