Surabaya, Jurnalpublik.com – Zaman tiba-tiba berubah. Lawan bisnis tak terlihat “bergentayangan” dan menyerang dalam satu hentakan. Pemain baru seperti Go Jek sanggup menurunkan 42% laba bersih Blue Bird tahun 2016 silam. Tak hanya itu. Nilai valuasi Go Jek tahun 2016 mencapai 17 triliun. Padahal Garuda Indonesia yang terlihat raksasa dan jauh lebih senior hanya 12,3 triliun. Inilah yang disebut Rhenald Kasali sebagai disruptif. Yakni sebuah fase membuat hal baru sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman, kuno, dan tak terpakai. Siapa yang lambat, bukan hanya akan tertinggal, akan tetapi juga akan tergantikan.

Model bisnis terus berubah. Hari ini kita masuk industri 4.0 dimana model bisnis menjadi berbasis Internet of think (IoT). Dimana ruang dan waktu nyaris tak lagi menjadi hambatan. Lalu bagaimana dengan ekonomi Islam yang notabene menjelma dalam perbankan syariah? Diakui atau tidak, bank syariah sangat terlambat. Di saat masyarakat sudah terikat oleh layanan ATM dan internet banking Bank Konvensional X, bank syariah baru saja memulai investasi dilayanan tersebut.

Dan, mirisnya, di saat yang sama bank Konvensional X tersebut justru sudah menyiapkan layanan lain yang jauh lebih maju daripada ATM dan internet banking. Bahkan kemungkinan model bisnisnya pun akan berubah. Bisa jadi tidak lagi berbentuk bank, mungkin. Yang jelas, bank syariah tetap ada di Belakang. Kondisi ini diakibatkan banyak faktor. Regulasi, dukungan Pemerintah dalam pengelolaan dana umat Islam, hingga kepercayaan masyarakat.

Coba kita berpikir sejenak. Sistem perbankan didirikan untuk melawan bank konvensional yang merajalela. Meskipun belum 100% bebas riba setidaknya mudharatnya lebih kecil dibandingkan bank konvensional. Namun faktanya sudah 27 tahun sejak digagas Majelis Ulama Indonesia (MUI), hasilnya belum memuaskan. Malah ada kesan di masyarakat bank syariah hanyalah secondary banking.

Apakah sudah tepat melawan sistem ribawi dengan menggunakan “kendaraan” perbankan? Nampaknya agak sulit bank syariah menguasai market share 10% jika tidak didukung oleh “sentuhan” politik. Misalkan dibiarkan bertarung sendiri di pasar pasti hanya akan menjadi “golongan bawah”. Dan sistem ribawi tetap mengibarkan bendera kedzolimannya. Lebih celakanya lagi, masyarakat semakin terjerat.

Sudah saatnya mengevalusi ulang dan mencari “kendaraan” lain yang lebih mumpuni. Seorang pakar Sejarawan Islam, Budi Ashari, berkali-kali selalu mengingatkan, bahwa Rasululullah SAW. tidak meniru sistem yang dipakai Persia dan Romawi untuk menaklukan keduanya. Ini karena sistem dalam Islam sudah sangat lengkap. Tinggal tugas kita menggali sistem mana yang tepat dalam konteks saat ini.

Dengan bahasa lain, bisa jadi ekonomi Islam saat ini sulit berkembang karena hanya menjadi follower business model yang sudah ada. Tidak berusaha riset mendalam dan mencari business model “asli” dari Islam. Atau, menggunakan business model lain yang tanpa harus terlalu jauh “melenceng” dari sistem ekonomi islam yang seharusnya.

Kembali lagi pada pembahasan disruptif. Saat ini sah-sah saja menciptakan model bisnis yang benar-benar baru, tak terlihat, dan serangannya mematikan. Tak perlu mengkhawatirkan belum ada regulasinya. Toh pada akhirnya jika sudah terbukti sistemnya adil, konsumen terpuaskan, lapangan kerja terbuka lebar, regulasi bisa dibuat belakangan. Yang perlu diingat, dakwah ekonomi Islam lewat bank syariah hanyalah kendaraan, bukan tujuan. Dan era ini bisa jadi peluang.[]

Uman Miftah Sajidin/Praktisi Perbankan Syariah

Tinggalkan Komentar