Philippe Coutinho senang dengan kepindahannya ke FC Barcelona

Jakarta, Jurnalpublik.com – FC Barcelona merekrut Philippe Coutinho di bursa transfer Januari. Los Blaugrana, sebutan Barcelona, memboyong bintang asal Brasil tersebut dari tim liga Inggris, Liverpool. Coutinho direkrut persis pada tanggal 6 Januari 2018. Untuk menebus sang pemain, Los Blaugrana harus mengeluarkan uang sebanyak 160 juta euro atau setara dengan Rp 3,32 triliun. Nilai transfer yang dimiliki Coutinho, membuatnya masuk dalam deretan pemain mahal di dunia. Coutinho hanya lebih murah 62 juta euro dari Neymar yang saat ini memiliki predikat pemain termahal di dunia setelah pindah dari Barcelona ke Paris Saint Germain pada musim panas lalu seharga 222 juta euro.

Yang menjadi banyak pertanyaan kalangan adalah, apakah harga Coutinho sebanding dengan kemampuannya? Jika melihat performa Coutinho selama merumput di Liverpool, sepertinya wajar-wajar saja. Berikut statistik Coutinho selama bermain di Premier League: Coutinho tampil sebanyak 137 kali di Premier League. Total gol Coutinho di Premier League adalah 31 gol. Torehan assist yang dibukukan Coutinho di Premier League adalah 33 assist. Coutinho telah memenangi delapan penghargaan tahunan Liverpool dalam dua musim terakhir. Tahun 2014-2015, Coutinho juga menjadi bagian dari tim terbaik Premier League versi PFA (Professional Footballers’ Association).

Meski sukses mendapatkan Coutinho, pertanyaan lain yang harus dijawab Los Blaugrana adalah kemana peran akademi La Masia yang selama ini selalu menjadi andalan Barcelona dalam proses regenerasi pemain-pemainnya. Nama-nama besar seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez adalah produk jebolan La Masia yang sukses membawa Barcelona menjadi kampium di Spanyol bahkan Eropa.

Kegagalan Akademi La Masia?

Apa yang kita ingat tentang Barcelona dimusim 2014/15? Luis Enrique sukses merengkuh Treble winners? Atau trio Messi – Suarez – Neymar (MSN)? Itu sangat mudah diingat. Namun, kemungkinan besar tak ada yang mengetahui jika Barcelona B (tim cadangan Barca) harus degradasi dari Divisi Segunda A (kompetisi kasta kedua sepakbola Spanyol, di bawah Divisi Primera) menuju Divisi Segunda B (kompetisi sepakbola kasta ketiga sepakbola Spanyol). Di saat tim utama mereka meraih kesuksesan, Barcelona B harus menelan pil pahit degradasi.

Kondisi ironis tersebut lebih menyesakkan karena tim Barcelona B, di musim 2013/14, hanya menduduki posisi ketiga di klasemen akhir musim. Posisi ketiga di Divisi Segunda A sebetulnya tidak berhak mengikuti babak play-off untuk promosi ke Divisi Primera La Liga. Namun, karena sebuah klub tidak boleh memiliki dua kesebelasan dalam satu divisi kompetisi, maka Barcelona B belum mengikuti babak play-off musim 2013-2014.

Musim 2013/14 sebenarnya tim Barcelona U-19 memboyong trofi perdana UEFA Youth League (Liga Champions-nya tim U-19) ke Camp Nou. Namun itu cerita lama. Musim 2014-2015, Barcelona B terdegradasi, tim Barcelona U-19 tidak mampu berbuat banyak di UEFA Youth League dan kandas di babak 16 besar, dan Barcelona terkena sanksi FIFA perihal perekrutan pemain muda. Sukses lalu kandas, begitu gambaran Barcelona di musim tersebut.

Barcelona B yang terdegradasi di musim 2014-2015 dan sekaligus sanksi FIFA yang menderanya ternyata membuat efek besar bagi kelangsungan para pemain akademinya. Hal ini diakui langsung oleh salah satu direktur Barcelona B, Albert Soler. “Sanksi FIFA berakibat buruk bagi tim-tim di akademi kami, bukan hanya di tim utama Barcelona saja. Bahkan itu juga menjadi mata rantai yang akan melukai Barcelona B juga secara langsung”, ungkapnya.

Pasca degradasi, Barcelona B sulit bangkit meski mereka melakukan penggatian pelatih. Pasca transfer embargo dicabut musim dingin 2016 lalu, Barcelona B tak segan melepas delapan pemain yang merupakan jebolan La Masia dan menggantikannya dengan sembilan pemain luar akademi yang sedikit lebih berpengalaman. Hasilnya tentu masih jauh dari harapan.

Jangan lupa juga, tidak setiap tahun ada talenta berbakat seperti Pedro, Busquets, atau Xavi misalnya. Maka akan selalu ada pemain yang waktunya promosi tapi nasibnya akan terombang-ambing menjadi pinjaman sana-sini. Jika kini Barcelona membeli pemain mahal seperti Coutinho, terima saja Cules! Generasi Messi, Xavi, Iniesta, Pedro, dll. mungkin memang hanya muncul satu abad sekali.[]

Tinggalkan Komentar