Anis Matta bersama Jhon de Rantau (Sutradara) dan Agus Purwanto (Aktivis KA KAMMI)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Dalam Pemilu Internal Bacapres PKS, Anis Matta masuk urutan ketiga (20,34%) dibawah Aher urutan pertama (31,72%) dan HNW urutan kedua (24,70%). Sedangkan Presiden PKS berada diurutan kelima (4,5%).

Aher adalah Gubernur Jawa Barat 2 periode dan Jawa Barat memiliki kader PKS terbanyak se-Indonesia, Aher juga masih menjabat salah satu Ketua Bidang di DPP PKS. HNW sampai hari ini adalah Wakil Ketua MPR RI dan juga sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro PKS. Sedangkan Anis Matta setelah lengser dari Presiden PKS relatif tidak menjabat jabatan struktural di PKS, memang ada jabatan Anis Matta tercantum sebagai Ketua Badan Kerjasama Internasional, tetapi dalam faktanya jabatan ini tidak punya posisi yang jelas.

Anis Matta yang relatif tidak dilibatkan lagi secara aktif dalam kepengurusan DPP PKS justru masuk peringkat ketiga dalam Pemira Internal PKS adalah suatu kejutan. Ternyata kehadiran atau kerinduan kader PKS terhadap sosok kepemimpinan Anis Matta sangat diharapkan kader. Dan bukan sebagai presiden PKS tetapi diharapkan menjadi Presiden RI.  Ini menggambarkan bahwa informasi Anis Matta adalah masa lalu PKS dan sudah tidak akan muncul lagi merupakan kedustaan.

Kutub yang suka Anis Matta dan yang tidak di antara kader PKS sudah terpolarisasi, itu adalah hal yang wajar. Keputusan MS PKS tentang 9 orang bacapres PKS sudah jalan tengah, kita tunggu kompetisi sehat diantara mereka. Kompetisi sehat ini bukan sekedar mendapatkan tiket capres PKS saja, tetapi juga meningkatkan popularitas dan elektabilitas masing-masing bacapres dan yang lebih penting juga mengembalikan elektabilitas PKS ke posisi yang signifikan.

Hal ini menjadi penting dan strategis karena Pemilu 2019 adalah pemilu serentak antara Pileg dan Pilpres, sehingga capres yang di usung PKS juga akan menentukan elektabilitas PKS. Oleh sebab itu setiap partai akan seoptimal mungkin mencalonkan kadernya untuk menjadi capres/cawapres. Apalagi President Trashold sudah dikuatkan oleh keputusan MK, dimana syarat pencapresan minimal 20% kursi atau 25% suara hasil Pemilu 2014. Artinya untuk pencapresan partai-partai harus berkoalisi karena suara partai tidak ada yang mencapai 25% atau 20% kursi.

Dengan situasi tersebut maka tugas bacapres PKS bukan saja hanya meningkatkan popularitas dan elektabilitas dirinya dan juga PKS, tetapi juga harus bisa mencari partai teman koalisi dalam pencapresan nanti. Memang gabungan kursi DPR RI PKS (40 kursi) dan Gerindra (73 kursi) sudah cukup untuk mengusung Capres/Cawapres, karena syarat pengusungan Capres/cawapres minimal 112 kursi, tetapi kalau hanya mengandalkan ini saja sedangkan yang di lawan adalah Jokowi maka ini menjadi sesuatu yang riskan. Atau memang PKS hanya mengincar menjadi cawapresnya Prabowo?

Pada akhirnya, bacapres PKS harus bisa melakukan komunikasi bukan hanya terhadap publik tetapi juga kepada partai-partai agar mendapat teman koalisi, dan itu butuh keluwesan dan keluasan pergaulan politik. Selain itu juga dibutuhkan manajemen negoisasi sehingga setiap kepentingan masing-masing partai terakomodasi.

Keluwesan dan keluasan pergaulan politik dan manajemen negosiasi secara teknis sudah pernah dilakukan Anis Matta sehingga terbentuklah KMP (Koalisi Merah Putih), Memang KMP kalah dalam Pilpres, tetapi KMP berhasil menguasai parlemen, sehingga terjaga demokrasi karena ada keseimbangan kekuatan antara legislatif dan eksekutif. Di kemudian hari KMP bubar jalan itu persoalan lain, tetapi KMP terbentuk pada saat itu adalah manuver politik yang cerdas dalam menjaga demokrasi di Indonesia.

Upaya-upaya Jokowi dalam memborong semua partai-partai untuk mengusung kembali dirinya sebagai Presiden kembali di 2019 sudah terlihat, sedangkan sosok Prabowo untuk di capreskan kembali belum tampak signifikan elektabilitasnya, bahkan cenderung stagnan. Pada situasi ini rakyat butuh capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo, harus ada figur pemecah kebuntuan politik. Apalagi pasca Pilpres 2014 polarisasi perseteruan antara pendukung Jokowi dan Prabowo semakin terlihat dan tajam di semua lini terutama di jagad sosial media. Kondisi ini tidak sehat untuk demokrasi ke depan. Sehingga capres alternatif selain Jokowi dan Prabowo harus segera hadir menjadi darah segar demokrasi Indonesia.

Anis Matta adalah figur bacapres alternatif yang layak ditawarkan oleh PKS ke publik. Anis Matta punya narasi dan visi untuk perbaikan bangsa, Anis Matta juga tahu jalan menuju kemenangan, dia tahu caranya, dia belajar sejak 1999, 2004, 2009 dan 2014, semoga dengan pembelajaran itu Anis Matta mampu membawa posisi PKS ke puncak prestasi politik sebagai partai papan atas dan memimpin bangsa ini dan bukan hanya sekedar follower.

Amari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.