Aksi Bela Islam

Jakarta, Jurnalpublik.com – Baiklah, harus kita akui bahwa sudah begitu banyak ulasan yang mendedah perihal hikmah dan pelajaran berharga yang dapat diambil dari kasus penistaan agama oleh Ahok ini. Beberapa tokoh telah berulangkali memaparkannya. Namun, kali ini saya mencoba menawarkan sebuah alternatif pembacaan yang berbeda, sebuah bahan diskusi untuk dunia pergerakan pasca fenomena Aksi Bela Islam.

Jika kita telisik lebih mendalam, memang betul bahwa tidak ada satu ormas islam yang benar-benar paling berjasa dalam menggalang aksi bela islam ini. Sepenuhnya adalah kuasa Allah Swt. yang telah menurunkan kesadaran kepada hamba-Nya untuk membela aqidah islam. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata akan ikhtiar ormas-ormas besar yang telah mengorganisir gerakan ini, sebut saja FPI, MUI, NU, dan Muhammadiyah serta ormas lainnya. Jelas, sebagai islam kultural dan elemen yang telah mengakar, ormas-ormas ini memiliki agitasi politik yang juga besar dalam menggalang massa. Selebihnya aksi ini juga tidak lepas dari peran serta seluruh komponen umat Islam, baik dari kalangan ulama, santri, profesional, akademisi, praktisi hukum, kaum cendekia, pemuda dan mahasiswa,

Salah satunya, gerakan mahasiswa yang telah mengambil peran signifikan dalam membangun opini di media sosial, dan proses penyadaran kepada kelompok pemuda.

Banyak pengamat mengatakan, trend gerakan mahasiswa akhir-akhir ini cenderung mengalami pergeseran minat. Di kampus-kampus, gerakan mahasiswa telah banyak berubah. Hilangnya hirarki dan otoritas kekuasaan pasca reformasi menciptakan struktur politik yang kian mendatar, ditambah demokratisasi media yang menciptaan iklim masyarakat yang terbuka dan bebas berpendapat. Kecenderungan ini relatif menciptakan iklim sosial-politik yang seimbang, antara pemegang kekuasaan dan lawan politik. Tapi bukan berarti kondisi ini disebut aman dan sejahtera.

Aksi Bela islam yang telah sampai ke beberapa jilid ini setidaknya memberikan angin segar bagi dunia gerakan mahasiswa islam, meskipun berdampak secara tidak langsung. Wabilkhusus terhadap anak-anak muda kelas intelektual dan aktivis gerakan.

Kesadaran Identitas

Kesadaran kolektif  akan identitas diri sebagai bagian dari islam, memberikan kontribusi terhadap kesadaran politik umat islam. Berangkat atas kesadaran identitas inilah, kian banyak masyarakat peduli dengan sesamanya dan yang terpenting pada agamanya.

Kita mengenal ragam organisasi gerakan islam yang telah memberi warna bagi dunia pergerakan di Indonesia, diantaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gema Pembebasan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan lain sebagainya.

Gerakan mahasiswa islam ini sama-sama memiliki ciri identitas khusus yang tidak dimiliki oleh komunitas-komunitas lainnya. Setidaknya ada tiga kesamaan identitas itu, pertama, identitas aqidah, yang termanfestasikan dalam bentuk islam ideologi  sebagai jalan hidup. Kedua, identitas kebangsaan yang berwujud nasionalisme, dan ketiga identitas sosial, generasi muda terdidik. Islam, Indonesia, dan Muda.

Sebagai organisasi gerakan yang memiliki identitas khusus tersebut, maka secara otomatis gerakan-gerakan ini memiliki “tanggungjawab gerakan”. Diantaranya, pertama, tanggungjawab gerakan dakwah sebagai konsekuensi iman dan keberislaman. Sejatinya setiap organisasi pergerakan yang menjadikan islam sebagai asas dan entitas, maka disebut harokatuddakwah – terlepas dari beragam fikroh (pemikiran) dan toriqohnya (metodenya). Kedua, intelektual adalah bentuk konsekuensi kaum terdidik yang berfikir sistematis dan ilmiah. Ketiga, politik sebagai ekspresi atas agenda advokasi ektra-parlementer. Gerakan mahasiswa memiliki peran dalam mengawal proses demokrasi dari luar parlemen sekaligus penyambung lidah rakyat. Keempat, sosial sebagai konsekuensi kepedulian dan nilai kemanusiaan. Kelima, nasionalisme wujud atas semangat kebangsaan dan keindonesiaan. Dan keenam, pembebasan atas penindasan (mustad’afin) dan kemiskinan (dhuafa).

Aksi bela islam ini tidak luput dari berbagai macam tuduhan. Saya mencoba merangkum beberapa tuduhan tersebut. Diantaranya, satu, membela oligarki bukan membela islam, yaitu tudingan yang menyebut bahwa aksi bela islam tidak lebih hanyalah agenda politik yang didanai oleh kelompok elit politik tertentu dengan tujuan melancarkan kepentingan politik, dalam hal ini adalah pilkada DKI Jakarta.

Dua, politik transaksional, ini adalah istilah lama untuk menyebut kongkalikong antara pemilik modal (borjuis komprador) dengan elit politik tertentu. Tiga, fasisme religius, ialah frase untuk menyebut wajah islam politik yang haus kekuasaan.

Empat,  politik populisme, adalah istilah yang dikemukakan untuk menilai kadar agenda politik suatu kelompok, dalam hal ini ormas islam, yang hanya mengedepankan populisme tanpa gagasan dan esensi solusi. Lima, arogansi mayoritas, ini sebutan untuk tuduhan penindasan yang dilakukan kaum mayoritas (islam) terhadap minoritas.

Enam, rasisme, istilah yang sudah sangat familiar untuk menunjukkan sikap intoleran terhadap mereka yang berbeda dalam hal agama dan etnis. Tujuh, fanatisme buta, istilah lain dari kejumudan dan ikut-ikutan, tudingan ini ditujukan untuk menyebut mereka yang turun Aksi bela Islam tidak lebih hanyalah segerombolan pengekor.

Dari berbagai tuduhan ini, jelas ini merupakan tuduhan yang syarat dengan kepentingan politik. Bahkan tak sedikit dari penuduh ini adalah muslim. Faktor utama adalah persoalan ideologis, selebihnya perkara niat yang hanya Allah yang tahu motif dari berbagai tudingan ini.

Dari ulasan diatas, Pada akhirnya kasus Ahok ini membuka tabir bagi gerakan islam perihal posisi lawan dan kawan.

Dalam politik kita kerap mendengar adagium: tidak ada teman sejati dan musuh abadi. Tetapi dalam prinsip perjuangan islam, teman sejati adalah ukhuwah islamiyah, sedangkan musuh abadi adalah kebathilan.

Bertambahnya dukungan publik

Selanjutnya, setelah mengenali lawan dan kawan, masyarakat islam Indonesia menemukan satu titik dimana mereka memahami arti penting dari kerja kolektif (amal jama’i). Kesadaran ini akan berdampak elementer bagi dunia gerakan pemuda dan mahasiswa, salah satunya semakin banyaknya publik muslim yang berpihak pada agenda gerakan islam.

Sinisme dan apatisme yang selama ini membelenggu perlahan terkikis dan menjadi semacam pemantik sense in-group sekalipun mereka tidak berpartisipasi langsung sebagai anggota organisasi. Secara statistik barangkali tidak bisa dijabarkan secara kongkrit, namun melalui ulasan ini, kita dapat sama-sama menangkap peluang pasca kasus Ahok ini untuk mengkapitalisasi publik non-partisipan ini menjadi pendukung gerakan.

Isu-isu dunia islam sejauh ini masih di monopoli oleh aktivis muslim, baik di tataran lokal maupun internasional. Misalnya, Isu-isu kepemimpinan dan syariat islam di tanah air, isu-isu aliran sesat, isu penindasan ummat islam di Palestina, pembantaian di Myanmar, penyingkiran di Thailand, perang di Afghanistan, konflik di Syria, dan di belahan bumi lainnya. Dengan adanya kesadaran ini, kerja aktivis muslim dalam menggalang dukungan dan aspirasi ummat semakin bertambah kuat. Sehingga isu-isu yang selama ini disuarakan tidak lagi menjadi garapan internal semata, melainkan menjadi isu bersama sebagai sesama ummat islam.

Melek Media dan Gerakan Netizen

Penghinaan terhadap islam ini telah menyeret berbagai kalangan untuk terlibat. Terutama masyarakat kelas menengah yang well-connected (terkoneksi) dan well-educated (terdidik). Mereka di dominasi oleh kalangan native democracy, generasi yang sejak lahir telah mengenal demokrasi. Khususnya kelompok netizen yang aktif di social media seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan lainnya – mereka menjadi palang pintu terhadap gempuran media sekuler anti-islam. Media sosial yang netral ini nampaknya telah menjadi ruang artikulasi politik bagi umat islam dalam meng-counter sikap anti-islam, sekaligus menjadi wahana yang ampuh untuk membumikan sikap umat islam.

Gerakan netizen ini salah satu bentuk kontribusi membela islam dan patut dicatat dalam sejarah, mengingat begitu besarnya gelombang dukungan terhadap aksi ini bahkan menjadi pembicaraan dunia.

Selain membumikan isu “tangkap penghina Alquran”, gerakan netizen juga telah membuka tabir persekongkolan media-media mainstream dalam membangun opini publik. Ini membuka kesadaran baru bahwa media tidaklah netral dan pasti memihak kepada pemilik modal, asing, dan aseng. Media bukanlah pilar demokrasi yang independen, melainkan aktor politik partisan (memihak). Bahkan peranannya melebihi capaian yang dilakukan oleh partai politik. Sensitifitas masyarakat terhadap hoax dan pelintiran berita telah menjadikan media-media pembohong sebagai common enemy. Di era ketidakpercayaan ini, masyarakat sudah semakin mengerti.

Situasi ini dapat menjadi peluang bagi publik muslim dan aktivis gerakan dalam memanfaatkan momentum untuk mengusung ide-ide perubahan lintas sektoral, di bidang kepemimpinan, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan keamanan dan isu-isu global.

Masyarakat kritis

Adanya interdependensi antar manusia dan antar informasi telah menciptakan keseimbangan baru: tidak ada pihak-pihak tertentu yang benar-benar bisa mengklaim kebenaran pengetahuan dan teknologi. Sehingga membuka peluang terciptanya adu argumentasi, pembaharuan-pembaharuan teori, dan  koreksi-evaluasi. Ini merupakan ciri dari masyarakat kritis.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan era sebelum globalisasi-modernisasi. Untuk menjelaskan sesuatu, dibutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar ketimbang saat ini. Sehingga akses ilmu pengetahuan dan teknologi hanya terbatas pada orang-orang tertentu. Sikap kritis-pun akhirnya dimonopoli oleh kalangan tertentu. Maka wajar, di zaman dulu, menjadi kritis adalah sesuatu yang istimewa.

Terciptanya masyarakat kritis ini pada akhirnya menciptakan iklim politik yang cenderung gaduh. Terlebih jika pelaksana kebijakan dan pemegang otoritas kekuasaan gagal dalam menjalankan amanat rakyat.

Aksi Bela Islam ini adalah ekspresi dari masyarakat kritis itu. Masyarakat yang sadar akan identitas sekaligus memahami cara mengekspresikannya.

Apabila terkelola dengan baik, potret kritisme ini akan menjadi suatu kekuatan besar. Meskipun sebagian besar massa dan simpatisan Aksi Bela Islam ini tidak terorganisasi dalam sebuah organisasi pergerakan. Massa dan simpatisan tak semuanya FPI, NU, Muhammadiyah, atau aktivis KAMMI.

Selanjutnya tinggal bagaimana kita menangkap semangat atas fenomena ini dan mengkonversinya menjadi agenda-agenda gerakan yang lebih besar dan kongkrit bagi masyarakat.

Islam adalah katalisator kemajuan, membela islam adalah membela kemajuan. Bertentangan dengannya berarti kemunduran. Karena didalamnnya terdapat nilai-nilai universal tentang segala hal urusan hidup manusia. Salah satunya tentang kepemimpinan, yang akhir-akhir ini menarik perhatian kita.

Adanya dampak elementer ini memberikan semangat dan optimisme bagi kita semua, bahwa masa depan gerakan islam akan menemukan momentum dalam memberikan kontribusi yang lebih besar bagi Indonesia.[]

Tinggalkan Komentar