Penandatanganan Koalisi Demiz - Syaikhu

Jakarta, Jurnalpublik.com – PDIP tersandung di Jawa Timur. Paling dulu diputuskan, paling akhir dituntaskan. Tiba-tiba di tengah jalan, Abdullah Azwar Anas mundur sebagai pendamping Saifullah Yusuf. Hebat betul dia. Keputusan Ketua Umum PDIP diabaikan begitu saja. Sudah itu, tak bisa dicegah pula.

Padahal, peluang menangnya besar. Saat diumumkan, orang berpikir bahwa pilgub Jatim sudah selesai. Saking kuatnya pasangan ini. Ketokohan, rekam jejak, pengalaman, basis massa, parpol pengusung, semua saling melengkapi. Tapi, Azwar Anas tetap mundur. Dia tak mau malu.

Dia mundur, karena beredar foto-fotonya bersama perempuan lain. Entahlah, apakah foto itu lengkap dengan video yang nggak benar, atau sekadar foto saja? Jika hanya foto, rasa-rasanya, belum seberapa dibandingkan yang lain. Sejak kapan pula standar moral politik kita terlalu tinggi?

PKS saja, yang kadernya maju di pilgub NTB dan video syurnya beredar di media sosial, santai-santai saja. Kadernya tak mundur dan PKS-nya tak memecat. Malah, muncul bantahan ini-itu, sekaligus tantangan bertarung secara ide. Lah, moral saja nggak beres lalu mau bertarung ide?

Jika PKS saja begitu, bagaimana PDIP? PKS terkenal dengan partai paling tinggi standar moralnya. Ada Dewan Syariah pula. PDIP tak ada. Dulu, ada kadernya ketahuan membuka video porno saat rapat paripurna, dia langsung mundur. Tapi itu dulu. Kader partai lain lebih parah lagi.

Artinya, PDIP bisa saja tetap mengusung Azwar Anas. Apa masalahnya? Prestasi Azwar Anas selangit, rasanya bisa dengan mudah menutupi kasus foto itu. Lagian, ini periode keduanya menjabat sebagai Bupati Banyuwangi. Sudah waktunya, dia naik tingkat. Tapi, dia tetap menolak.

Dia memilih mundur, tapi anehnya juga membantah. Entahlah, apa maknanya? Mestinya dia membantah, tapi tidak mundur. Dia akan berdalih macam-macam dan melancarkan serangan balik. Bukan hanya ajakan bertarung secara ide. Foto itu begini-begitu, dan dia terus saja melaju.

Kalau dia membantah, tapi malah mundur, orang menganggap bantahannya hanya pura-pura belaka. Mungkin ada yang lebih besar dari itu? Tapi, entahlah? Bertarung dengan kasus seperti itu memang melelahkan. Rasa-rasa ada saja yang mencibir. Mundur, adalah langkah tepat.

Tapi, itu membuat PDIP tak hanya terganjal, tapi juga marah. Sekjen PDIP bergemuruh, menangis, marah. Dia mengutuk pihak-pihak yang mengungkap kasus kadernya itu. Bukannya bangga, tapi marah. Aneh juga. Mestinya dia bangga karena kadernya punya standar moral tinggi.

PDIP dibikin susah mungkin itu yang dimarahkannya. Buktinya, kader PKS saja yang tersangkut kasus yang mirip, santai-santai saja. Tak ada Sekjennya menangis keras seperti Sekjen PDIP itu. Melolong-lolong di hadapan publik. Malah, melolong-lolong bahwa ini penjaga moral, ini partai nilai, dan lain-lain.

Banyaknya masalah yang dihadapi masyarakat pemilih, lama-lama juga akan lupa sendiri. Sebagaimana para koruptor atau mantan narapidana terpilih dalam ajang pilkada, apa salahnya juga pelaku mesum terpilih? Kalau yang waras terus-terusan mengalah, ya lama-lama kita ini akan dipimpin oleh orang-orang gila.

Erizal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.