Jakarta, Jurnalpublik.com – Kemarin, agak lama rapat bersama Fahri Hamzah. Sekitar 4 jam. Biasanya, hanya sekitar 1 jam saja. Malah, lebih singkat lagi, hanya 7 menit. Datang, mendengar sedikit, langsung bicara dan pergi lagi. Kayak kultum, bukan rapat. Konsentrasi mendengar Bang Fahri itu hanya 3 menit.

Maka, ini pertama kali dalam sejarah Keluarga Alumni (KA) KAMMI. KA KAMMI baru masuk tahun kedua. Belum seumur jagung. Banyak yang menduga, KA KAMMI ini adalah cikal bakal berdirinya partainya Fahri Hamzah. Walau Fahri sendiri mengumumkan partainya itu PMS (Partai Marbot Sejahtera), bukan KA KAMMI. KA KAMMI murni kelanjutan lembaga KAMMI.

Dengan intensitas rapat begitu, terang saja dugaan itu keliru. Tapi, yang namanya dugaan, siapa yang bisa melarang? Barangkali ketokohan Fahri Hamzah, dianggap memenuhi kriteria itu. Satu sisi itu poin, tapi sisi lain, bisa juga cara internal PKS, semakin yakin dengan keputusannya.

Dalam rapat itu, Bang Fahri terasa dekat. Bukan berarti selama ini tidak dekat, tapi terasa semakin dekat. Guyon-guyonannya terasa cair dan lepas. Teman-teman juga benar-benar tertawa lepas. Gangguan, tetap saja ada. Tamu yang harus ditemui. Tapi, tidak terlalu lama dan balik lagi.

Walau cair dan lepas, ada juga yang mengganjal. Sebetulnya, nasib Bang Fahri itu seperti apa? Itu yang melayang-layang, di alam pikiran teman-teman. Bagaimanapun juga, situasi politik belakangan, tak terlalu menguntungkan. Posisi Fahri Hamzah, kembali digugat PKS. Kosongnya kursi Ketua DPR bisa dijadikan alasan buat melakukan pergantian posisi Fahri Hamzah sekaligus.

Walau ada putusan sela, putusan pengadilan negeri, pengadilan tinggi, tapi dengar-dengar di kasasi, PKS sangat yakin akan menang. Ini dibuktikan dengan pernyataan-pernyataan elit PKS. Ditambah, pernyataan Presiden PKS, soal adanya komunikasi politik intens dengan Golkar-PDIP.

Beredar pula rumor, bahwa posisi Fahri Hamzah itu, “dilego” dengan partai-partai koalisi dalam pilkada 2018 ini. Apapun akan dilakukan demi tersungkurnya seorang Fahri. Agaknya, ini sudah menjadi pertaruhan hidup-mati. Dan pastilah, dukungan dari pegiat antikorupsi akan besar. Bak orang hampir masuk jurang, tapi bisa memegang akar-akar, kini akar-akar itu lepas satu-satu.

Bang Fahri bukannya tak tahu dengan yang mengganjal teman-teman. Makanya mungkin dia mau menyediakan waktu agak lama. Ini bukan soal dirinya, tapi cita-cita. Bukan soal jabatan, tapi keyakinan. Dia juga tak berjanji apa-apa. Situasinya memang sulit, dia ingin lebih rileks saja.

Sebetulnya, yang mengganjal teman-teman juga bukan soal jabatan. Tapi, jika Bang Fahri jatuh, maka cemoohan terhadap diri akan sangat sadis. Tak terbayang situasi itu, betapa sedihnya? Dalam posisi di atas saja, dia sudah dicemooh, apalagi di bawah. Maka, akan diinjak ramai-ramai. Ini bukti cinta. Sebab dua tahun belakangan, teman-teman inilah yang selalu setia bersama beliau.

Dan setahu saya, di luar kami, tidak sedikit yang berdoa, kalaupun Fahri Hamzah terjatuh, terjatuhnya itu, tidak dalam keadaan terhina. Bak pepatah, “terjatuh tertimpa tangga, lalu diinjak-injak pula.” Orang jahat saja diinjak-injak, rasa kemanusiaan kita terusik. Apalagi, ini orang baik.

Tidak hanya kepada kami, kepada orang lain pun, termasuk petinggi-petinggi partai, juga menanyakan hal yang sama, Bang Fahri menjawab begini: “Saya ini cuma ingin melampaui Anis Matta. Dulu, Anis Matta mundur, 1 Februari 2013. Kalau nanti saya terjatuh, terjatuhnya saya itu minimal 2 Februari 2018. Itu sudah membuat saya bangga karena sudah melampaui Anis Matta.”

Terkesan masih bercanda, tapi ternyata Bang Fahri serius dengan jawabannya itu. Dia tak mau terlihat kasak-kusuk. Dia tulus, baik terhadap teman-teman dekat maupun teman-teman jauh. Sepertinya peristiwa itu benar-benar dalam bagi dirinya. Peristiwa itu peristiwa batin, bukan fisik.

Dia ingin memberi makna, terhadap peristiwa itu. Walau berbeda jauh, Anis Matta turun dengan sebuah tanggung jawab besar, sementara Fahri turun karena diturunkan, dengan tuduhan pembangkangan. Tapi dengan hasil akhir yang hampir sama, yakni penyingkiran yang amat sadis.

Fahri Hamzah juga hadir dalam peristiwa itu. Dia menangis mendengar pidato 1 Februari, walau sedang di luar negeri. Jiwanya mendidih, sampai sekarang. Tapi apa daya. Jika Anis Matta dengan mudah tersingkir, apalagi dirinya yang di samping. Panas setahun, sirna oleh hujan sehari.

Tapi, bisa jadi juga keinginannya melampaui Anis Matta itu, hanya sekadar saling ledek-ledekkan saja dengan Anis Matta soal nasib mereka. Apalagi yang diseriuskan. Orang yang tidak berbuat apa-apa dimuliakan, sementara orang sudah berjuang hidup-mati, dianggap bukan siapa-siapa. Malah, dianggap orang stres. Ya, itu bukan pernyataan sadis, tapi humor yang paling lucu.

Ayo, 1 Februari itu hanya tinggal beberapa pekan lagi sejak hari ini. Kita lihat sama-sama apakah Fahri Hamzah kali ini bisa mewujudkan keinginannya melampaui Anis Matta. Kalau bisa, agaknya Fahri Hamzah cocok menjadi Ketua ILUNI UI.[]

Erizal Sastra

Tinggalkan Komentar