Kolase Helmi Hasan (Kiri) dan Dani Hamdani (Kanan) / Jurnalpublik.com

Bengkulu, Jurnalpublik.com  – Persaingan ketat diprediksi akan terjadi dalam Pilkada Walikota bengkulu pada 27 Juni 2018. Setidaknya, ada 4 bakal calon walikota yang akan berkompetisi yaitu Helmi Hasan, Patrianan Sosialinda, Erna Sari Dewi dan Dani Hamdani.

Dari hasil survei Bengkulu Survei Information Center (B-SIC), persaingan keempatnya ditampilkan. B-SIC melakukan survei terhadap 440 responden dengan metodologi multi stage random sampling dengan margin error 3,5 persen.

Dari tren survei ‘Top of Mind’ tanpa alat bantu nama dan gambar figur kandidat, Incumbent Helmi Hasan 25,5 persen unggul tipis dari Dani Hamdani 24,1 persen.

Sedangkan saat survei dilakukan dengan menyodorkan 8 nama kandidat. Hasilnya, apabila Pilkada Walikota digelar hari ini maka Dani Hamdani berada di posisi pertama dengan 29,5 persen, disusul Helmi Hasan 19,5 persen, kemudian Erna Sari Dewi 9,1 persen dan Patriana Sosialinda 7,2 persen. Sedangkan, responden yang belum menyatakan sikap (undecided voters) 5 persen.

Direktur Eksekutif B-SIC Sepri Yunarman dalam keterangan pers menyebutkan perebutan suara pemilih akan sangat kompetitif dengan peluang terjadinya pergeseran pilihan selama 6 bulan sebelum pemungutan suara.

“Masih sulit menentukan siapa kandidat yang pasti menang, meskipun sosok Dani Hamdani cukup memberikan kejutan dengan tren Elektabilitas yang mengungguli Incumbent, tetaplah jarak 6 bulan pemungutan suara nanti menjadi waktu yang menentukan kerja kerja tim sukses mereka” ujar Sepri.

Sepri menegaskan waktu 6 bulan sebelum hari pencoblosan lebih dari cukup untuk memacu meningkatkan aspek keterpilihan, kesukaan dan popularitas kandidat, dengan pelbagai strategi seperti upgrade personal branding kandidat, kinerja positif mesin politik yang terdiri dari mesin Parpol dan relawan serta pergumulan isu-isu seputar kandidat seperti kasus dan prestasi kandidat dan tidak lupa untuk mengenali karakteristik perilaku pemilih yang berbeda.

“Durasi 6 bulan masih memungkinkan terjadi geseran yang signifikan, seperti di Kota Jakarta berubah dalam seminggu. Paparan informasi di kota lebih melimpah dibandingkan Pemilu sebelumnya besar pengaruhnya untuk pemilih, pergerakan pemilih independen yang tidak lagi mengikuti preferensi kata tokoh, karena semakin cerdasnya pemilih, serta kerja tim untuk menutupi kasus atau kelemahan dengan prestasi atau sisi positif kandidat, menjadi kunci pergerakan menuju kemenangan 2018” pungkas Sepri.

Laporan : Imron Hasyim

Tinggalkan Komentar