Demiz - Syaikhu

Jakarta, Jurnalpublik.com – Akhirnya, turun tangan Prabowo berbuah hasil. PKS langsung merangkul Sudrajat, malah Demiz dibuang. Meski baru, PKS sudah tak peduli. Maunya Prabowo, harus diikuti. Itu sekaligus membantah rumor, “PKS Partaiku, Jokowi Presidenku.” Meski dalam politik, itu masih mungkin.

Buktinya di Jatim, PKS seperti akan istiqomah mendukung petahana Gus Ipul-Anas yang diusung PKB-PDIP. Proposal Gerindra membuat poros baru tak direstui. Meski PKS wanti-wanti mengatakan, bahwa koalisi PKS dengan Gus Ipul, bukan PDIP! Dan PKS, lebih dulu mendukung.

Agaknya, PKS risau betul dikatakan berkoalisi dengan PDIP atau Jokowi. Pada saat yang sama, juga risau dikatakan didikte oleh Gerindra atau Prabowo. Jadi, kemari risau. Dalam politik, mestinya tak usah begitu betul. Apalagi, fakta masing-masingnya sesuai dan menemui kenyataan.

Biarkan saja seperti air mengalir. Jadi, ingat Ruhul Sitompul, saya. Filosofinya, berpolitik seperti air mengalir. Katanya, itu yang dipelajarinya dari SBY. Tapi, SBY sudah ditinggalkannya. Dia mengalir ke Jokowi, lalu ke Ahok. Dulu, keduanya, juga habis dikata-katai. Politik, antirisau.

Sebagaimana mendukung Gus Ipul-Anas, mendukung Sudrajat-Syaikhu, sebetulnya biasa saja. Tapi, tiba-tiba membuang Demiz, merangkul Sudrajat, itu mengejutkan. Demiz itu petahana. Sudah bermitra pula selama ini. Di mana-mana, petahana itu dirangkul. Seperti di Jawa Timur itu.

Jangan lupa, kemenangan Aher periode lalu, sedikit-banyaknya karena nama besar Demiz. Ditambah, sosialisasi Demiz-Syaikhu sudah kemana-mana. Baliho, poster, stiker, liflet, termasuk iklan pengakuan Syaikhu atas keberhasilan Demiz, juga sudah beredar. Apa itu tak ada harganya?

Apalagi, yang bermanuver sejak awal itu adalah Gerindra di Jawa Barat atau “anak buah” Prabowo, bukan Demiz. Malah Syaikhu sendiri juga diragukan anak buah Prabowo. “Demiz mah setia aja ama Syaikhu.” Meski awalnya juga meragukan, karena jangkauannya terbatas di Bekasi.

Tapi akhirnya, Demiz menerima Syaikhu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Mana ada pasangan yang sempurna. Malah Demiz sendiri yang meyakinkan Demokrat, PAN, termasuk Gerindra sendiri awalnya. Sebetulnya, hubungan Demiz-Syakhu baik-baik saja. Tak ada masalah.

Penandatanganan Koalisi Demiz – Syaikhu

Dan ada kesan, langkah-langkah Demiz untuk mendekati Demokrat sangat didukung oleh Syaikhu-PKS. SK dukungan terhadap Demiz-Syaikhu, lebih dulu dikeluarkan Demokrat. Dan itu disambut baik Syaikhu-PKS. Lalu, salah Demiz di mana? Apa “pemberian” Prabowo lebih besar?

Bukannya risau “mengkhianati” Demiz, malah PKS risau dikatakan didikte oleh Gerindra atau Prabowo, dan risau tingkat dewa pula dikatakan berkoalisi dengan PDIP atau Jokowi. Meski sekali lagi, faktanya suai-suai saja. Beda-beda tipis, politik antirisau yang dianut PKS dan Ruhut.

Jangan lupa lho! Demiz itu seorang aktor besar dan legendaris. Dia bisa berperan sebagai apa saja. Dan dia akan total dengan semua peran-perannya itu. Tapi, sepertinya keaktoran Demiz bisa diimbangi elite PKS. Malah, film yang sudah selesai pun, bisa diulang dari awal. Hebat kan?

Beruntung betul, PKS punya kader-kader yang tsiqoh dan taat. Apa-apa yang diputuskan oleh pimpinannya selalu ditsiqohi dan ditaati. Hati dan perasaannya sudah diserahkan bulat-bulat. Malah, keputusan yang tak mungkin pun, ditsiqohi dan ditaati. Kebenaran itu bersama pemimpin.

Kader-kader PKS akan santai-santai saja mencabut baliho, poster, stiker, liftet yang sudah dipasang dan disebar kemana-mana. Yang sudah sempat direct selling menjual kehebatan Demiz, nanti akan kembali lagi dengan wajah tanpa bersalah menjual kehebatan Sudrajat yang jauh lebih berlipat-lipat dibandingkan Demiz. Syukur-syukur, tak diiringi dengan menjelek-jelekkan Demiz.

Tak ada lagi yang mengejutkan. Jangan Demiz, Fahri Hamzah saja yang sudah lebih dari separuh hidupnya di PKS, masih saja dianggap jelek di mata kader-kader PKS, hanya karena dia dipecat oleh pimpinan PKS. Apalagi, hanya seorang Demiz yang baru kemarin sore berinteraksi. Nanti akan muncul info begini-begana tentang Demiz, lalu semua berubah dan bumi serasa datar. Seketika kerisauan sirna.

Erizal
(Judul asli : Politik Anti Risau)

Tinggalkan Komentar