Fukuzawa Yukichi

Jakarta, Jurnalpublik.com – Peradaban suatu bangsa, bukan sekadar unsur luar, tapi juga unsur dalam. Yang kita kenal sebagai jiwa, semangat atau temparemen. Maka itu, mempelajari peradaban asing pun baik, sepanjang diniatkan untuk mempelajari saripati atau lapis dalam dari peradabannya, merupakan suatu kegiatan yang bernamfaat dan mencerahkan jiwa. Asalkan bukan sekadar mempelajiri lapis luar atau lapis kulit saja.

Inilah landasan pemikiran dari Fokuzawa Yukichi, bapak modernisme Jepang, ketika menganjurkan Jepang mempelajari peradaban Barat.

Yang menginspirasi saya ketika membaca karya Yukichi, Teori tentang Peradaban, anjurannya agar orang Jepang mempelajari saripati perdadaban Barat, bukan agar jadi peniru atau epigon budaya Barat. Tapi untuk membuka klep klep yang tersumbat dari jiwa orang Jepang di era peralihan dari Shogun Tokugawa ke era Restorasi Meiji pada 1867.

Ada cara penglihatan yang unik dari Yukichi dalam menangjkap krisis spiritual dan penyakit batin bangsa Jepang era itu. Orang orang Jeoang, dalam penglihatn Yukichi, dalam memperlakukn tradisi dan kebudyan Jepng yang sudah berlangsung berabad-bad, hanya sebagai pusak masa silam yang hanya disimpan belaka. Namun tidak dikembangkan dan disempurnakan untuk masa depan.

Padahal, tradisi dan khazanah budaya itu sejatinya merupakan pusaka masa silam sebagai anugrah buat masa depan. Alhasil, khazanah budaya dan tradisi yang sejatinya merupakan daya batin sebuah bangsa, justru jadi artefak dan benda mati.

Dengan mempelajari perdaban Barat sampai ke lapis terdalam, Yukichi berhrap orang Jepang justru dapat menemukn kembali jalan menuju jatidirinya. Menemukan unsur dalam atau daya batin dari kekuatan kebudayaan Jepng itu sendiri.

Bahkan menurut Yukichi, dengan mempelajari saripati peradaban Barat,orang Jepang lebih beruntung daripada orang orang Eropa itu sendiri. Karena orang Jepang mempelari Barat dalam semangat perbandingan. Sedangkan orang orang Eropa itu, hanya mempeljari dan mengalami peradabannya sendiri tanpa suatu perbandingan.

“Peradaban Barat jelas tidak sempurna, namun dari pengalaman saya sendiri, para cendekiawan Eropa memperlakukan khazanah budaya dan tradisi yang menjadi akar dan asal usul peradban Bart saat ini, bukan sekadar pusaka masa silam. Melainkan mengembangknnnya dan menyempurnaknnya untuk masa depan.” begitu penuturan Yukichi dalam sekapur sirih bukunya yang terbit pertama kali pad 1874. 8 tahun sejak dimulainya Restorasi Meiji.

Sebab itu, melalui jalan berpikir cenderkiawan sohor Jepng ini, maka pupuslah anggapn selama ini bahwa dia termasuk cendekiawan Jepang yang takjub dan tergila-gila pada Barat.

Dia cuma meminjam Barat untuk membantu menjelaskan jatidiri Jepang itu sendiri.

Ini pula yang menginspirasi saya dan kawan kawan ketika mendirikan Global Future Institute. Mengenal Dunia, untuk mengneli diri kita sendiri sebagai bangsa maupun sebagai masyarakat.

Sepertinya kita pun di abad 21 ini punya problem yang sama. Satu sisi, terlalu mudah takjub dan tergila-gila pada segala hal yang berbau asing. Dan sekadar meniru lapis luar dari peradaban asing. Nmun pada sisi lain, kita sekedar memberlakukan khazanah nusantara dan kearifan lokal sekdr sebagai pusaka masa lalu. Lupa, bahw pusaka masa lalu itu sebenarnya anugerah buat kita saat ini, dan buat generasi baru di masa depan.

Hendrajit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.