Ayah dan putri - putrinya

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan yang intinya seorang istri atau ibu tak perlu merasa resah meski rumah berantakan, ambillah alQuran lalu mengaji tenangkan hati. Saya tidak sepakat dengan tulisan itu.

Saya berfikir, lantas hanya sebatas itu kah jihad seorang istri, jihadnya seorang ibu, menyerah pada rumah yang berantakan?

Dan kalimat selanjutnya yang berkata ambillah alQuran lalu mengaji dan tenangkan hati. Saya rasa ini kalimat yang tidak pada tempatnya. Bagaimana bisa seorang ibu tenang mengaji sementara rumah berantakan dan suaminya tak nyaman. Bukankah kewajiban istri adalah menurut pada suami dan menyenangkan hati suami? Saya pikir hampir semua suami sama, mereka ingin merasa nyaman berada dirumah, dan rumah berantakan membuat suami tidak nyaman.

Sesekali ketika kondisi istri tidak memungkinkan mungkin tidak apa membiarkan rumah berantakan. Dan sesekali itu saya rasa tidak bisa dimasukan dalam hitungan ibu yang tidak mengurusi rumah yang berantakan atau dimasukkan dalam hitungan ibu yang tidak tenang karena lelah mengurusi rumah, karena hari-harinya seorang ibu adalah mengurusi rumah. Itulah jihadnya seorang istri, jihadnya seorang ibu.

Dan saya rasa banyak sekali diluar sana ibu-ibu yang sangat senang sekali ketika mengurusi rumah. Sangat banyak ibu-ibu yang mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan hati tenang. Sangat banyak ibu-ibu yang membuncah berbunga-bunga hatinya mempersembahkan cintanya dengan selesai mengurusi rumah.

Selamat hari ibu untuk ibu-ibu di dunia ini yang tak pernah lelah berhenti berjihad di rumahnya, dalam rumah tangganya. Mari kita lanjutkan jihad-jihad kita dengan hati senang dan tenang seperti biasanya hari-hari kita mengurusi rumah. Selamat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.