Anis Matta bersama istri , Anaway Mansyur

Jakarta, Jurnalpublik.com – Anis Matta berbaur dengan jutaan massa di Aksi untuk Palestina kemarin di Monas Ahad 17 Desember 2017. Dengan kemeja putih, syal Al Quds dan sepatu ala generasi milennial, tampilan casual saja.

Tidak ada ajudan, pengawal apalagi bodyguard berseragam, cukup dikawal istri dan anak-anak tercinta.

Jalan kaki bersama keluarga dari bunderan HI menuju patung kuda sekitaran Monas kemudian lanjut menuju kadutaan besar Amerika Serikat, kemudian masuk areal Monas.

Anis Matta tidak diatas panggung atau podium aksi apalagi orasi. Tapi pagi hari itu beredar di sosial media tulisan panjang Anis Matta dg judul :

SATU ABAD TRAGEDI KEMANUSIAAN PALESTINA
DARI BALFOUR KE TRUMP

Link :

https://m.detik.com/news/kolom/d-3773328/satu-abad-tragedi-kemanusiaan-palestina-dari-balfour-ke-trump

Tulisan bernas dengan berbagai informasi, fakta, data dan analisa yang tajam. Para peserta aksi yang membaca tulisan Anis Matta dalam perjalanannya akan semakin membuncah geloranya dan berkobar ghirohnya untuk membela Palestina.

Memang semangat dan gelora pembelaan ummat Islam terhadap Palestina harus diiringi dengan pengetahuan yang cukup tentang Palestina, Alhamdulillah tulisan Anis Matta pagi itu mencerdaskan ummat Islam tentang Palestina.

Tiba di sekitaran patung kuda tanpa disangka banyak massa antri minta selfie/welfie bersama Anis Matta dan keluarga, seperti ada wajah-wajah kerinduan dari mereka. Cipika-cipiki dan peluk hangat dari para massa ikhwan menggambarkan kehangatan Anis Matta dengan mereka.

Tegur-sapa bersama massa, selfie/welfie bersama masyarakat, jalan long-march bersama keluarga, melihat riuh massa di jalanan, Anis Matta terlihat menikmatinya.

Sampai di depan kedutaan besar Amerika Serikat, perjalanan Anis Matta dan keluarga semakin tersendat, terlalu banyak massa yang minta selfie/welfie, bahkan tidak kenal tempat, di depan gerobak, samping asongan atau di samping metromini, tidak bisa dibendung.

Tampaknya massa yang mengenal sosok Anis Matta tidak mau terlewat ber-selfie/welfie dengan Anis Matta. Bahkan ada anak muda tergopoh-gopoh membawa keluarganya dan wanita tua di atas kursi roda hanya untuk welfie dengan Anis Matta.

Ada juga hal yang unik dan spesial saat itu, Anis Matta selalu mencium ubun-ubun anak-anak, dan orangtua yang anak-anaknya di cium ubun-ubunnya langsung mendadak “sumringah” (ceria) wajahnya.

Sambil mendengarkan orasi dari para tokoh melalui speaker besar yg di pasang panitia, melayani selfie/welfie massa dan membalas tegur-sapa massa, Anis Matta dan keluarga terlihat berbaur dan bercengkrama dengan massa.

Setelah aksi di tutup doa, Anis Matta beranjak pulang dengan long-march bersama keluarga menuju bunderan HI, ditengah jalan Anis Matta berpapasan dengan mobil sound massa buruh yang ikut aksi, dan dari atas mobil sound Anis Matta di sapa dengan hangat “Apa kabar Ustadz Anis Matta, salam dari kami para buruh”, Anis Matta tersenyum dan melambaikan tangan ke arah podium sebagai tanda menjawab salam dari para buruh.

Pagi itu Saya bersyukur bisa menemani Anis Matta bukan sebagai Sekjen atau Presiden PKS, bukan juga sebagai pejabat negara, tetapi menemani Anis Matta sebagai orang biasa yang punya kesan luar biasa.

Irfanenjo

Tinggalkan Komentar