Warga Bandung Barat Belajar Pengelolaan Sampah ke Jatibaru

Bandung, Jurnalpublik.com – Lemahnya pengetahuan masyarakat tentang penanganan sampah disinyalir menjadi faktor hulu atas krisis sampah di berbagai tempat. Sampah-sampah yang tak dikelola dengan baik bisa menghasilkan kerusakan lingkungan, bencana alam, gangguan kesehatan pada manusia dan hewan, hingga rusaknya fasilitas umum.

Salah satu kawasan yang sedang menghadapi masalah sampah adalah kawasan ring satu PLTA Cirata di sekitar waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat. Merespon persoalan ini, PT PJB BPWC menggandeng mitra Yayasan Senyum Untuk Negeri (SUN) untuk menggelar program pengembangan masyarakat berbasis pengelolaan sampah di tiga desa terdekat, yakni Desa Sirnagalih, Ciroyom dan Ciharashas.

Rombongan warga dalam study tour CSR PJB BPWC

Pada Rabu (13/12/17), tak kurang dari 25 warga yang terdiri dari anggota Karang Taruna, Kelompok Tani Wanita (KTW) dan tokoh masyarakat turut serta dalam kegiatan study tour CSR PJB BPWC ke Rumah Kelola Organik (RKO) Jatibaru yang berlokasi di RW 17 Kampung Jatibaru, Desa Jati Endah Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kedatangan peserta mendapat sambutan meriah dari warga setempat. Bapak Rizqi selaku Manajer CSR PJB BPWC memberi penjelasan tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta berharap para peserta menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, agar sistem pengelolaan sampah yang dikembangkan masyarakat dan kader-kader lingkungan di RKO Jatibaru dapat diimplementasikan ke desanya masing-masing.

Selama kunjungan, peserta turut memparktikan sebagian treatment pengolahan sampah. Mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, hingga proses produksi berbagai produk daur ulang. Sampah organik menghasilkan bahan bakar gas yang telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik alternatif dan pengisian balon udara. Produk lainnya berupa pupuk organik. Suksesnya produksi pupuk lantas melahirkan program turunan, yakni budi daya sayuran dan toga di rumah-rumah. Sedangkan sampah anorganik didaur ulang menjadi produk kerjaninan.

Semua produk olahan berbahan baku sampah di RKO memiliki nilai ekonomi. Sebagian hasilnya untuk meningkatkan kesejahteraan warga, sebagian lagi untuk membiayai pengelolaan dan pengembangan fasilitas RKO.

Sekilas Tentang RKO

RKO atau Rumah Kelola Organik merupakan program bank sampah terpadu yang turut dikembangkan oleh Yayasan SUN di Kota Depok, Ciputat dan Pekanbaru.

Muatan program ini meliputi pembentukan komunitas swadaya masyarakat peduli terhadap lingkungan, pelatihan sistem kerja dan mekanisme bank sampah, memulai pengolahan sampah organik, implementasi sistem budidaya pertanian organik yang terintegrasi dengan bank sampah, serta pengembangan sarana dan pra sarana pendukung RKO.

Roadmap dari program RKO setidaknya memerlukan tiga tahun. Tahun pertama, sosialisasi program kepada masyarakat dan fasilitator lapangan. Tahun kedua, memasuki tahap implementasi program berupa pembuatan ratusan titik rumah hijau sebagai wadah pembudidayaan pertanian organik. Pada tahun ketiga, hasil dari dua tahap sebelumnya menelurkan gerakan mencintai lingkungan yang berkesinambungan serta pembukaan unit-unit pemberdayaan lain untuk menyokong kemandirian ekonomi masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.