Almarhum Taufik Ridho bersama putranya, Hudzaifah

Jakarta, Jurnalpublik.com – Pekan lalu saya menulis di kolom ini. “Setahun Taufik Ridlo: Saksi Kunci yang Pergi.” (Singgalang, 10 Desember 2017). Awalnya, sebetulnya tulisan itu berjudul, “Saksi Kunci yang Hilang.” Lalu, saya mengganti kata “Hilang” dengan “Pergi”. Karena memang Taufik Ridlo tidak hilang, tapi sudah pergi. Kalau hilang tak tahu rimbanya, bisa kembali, bisa ketemu, tapi kalau pergi, tidak. Apalagi perginya kemana, juga jelas. Pergi untuk tak kembali. Walau memang saya tetap lebih suka kata hilang ketimbang pergi. Terdengar lebih enak saja.

Ternyata, setelah tulisan itu terbit, digantinya judul itu ada manfaat lain. Tidak hanya soal istilah, tapi lebih dalam dari itu. Sama sekali, itu di luar perkiraan saya. Pucuk dicinta, ulam tiba. Rezeki anak sholeh. Hehehe…

Seperti biasa, saya meng-upload tulisan itu ke akun Facebook saya. Dan seperti biasa juga, banyak yang berkomentar. Baik pro-kontra, maupun yang normatif-normatif saja. Yang pro, biasanya komentarnya pendek-pendek saja, yang panjang beberapa saja. Malah, tak sedikit yang provokatif. Yang normatif, lebih banyak mendoakan dan datar-datar saja. Tapi yang kontra, rata-rata tajam-tajam dan panjang-panjang. Mulai dari penghakiman, hingga penghujatan.

Malah, tak hanya soal tulisan itu saja, urusan di akhirat pun dibawa-bawa sebagai bentuk pertanggungjawaban terakhir. Seolah-olah, dia sudah selamat dari akhirat, saya belum, sama sekali terancam, malah tidak akan selamat. “Taubatlah!” tegasnya begitu. Astagfirullah al ‘adzim.

Saya biasanya menanggapi semua komentar yang masuk, walau hanya sekadar tekan tombol suka saja. Jawaban saya pendek-pendek saja, jarang sekali yang panjang. “Hehehe…aamiin…makasih…” Itulah jawaban khas saya. Kecuali, memang ada yang perlu dijelaskan. Itupun saya usahakan tanpa mendikte, apalagi memaksakan pendapat saya.

Lebih baik membuat tulisan baru ketimbang melayani perdebatan yang tak ada ujung. Itu prinsip saya. Penulis memang kerjanya menulis, bukan berdebat kusir. Karena hanya bikin capek dan stres. Apalagi terhadap orang yang sok tahu dan merasa benar sendiri. Dia saja yang paling tahu, paham, dan paling benar atas segala hal. Orang lain, salah.

Bagi saya, tulisan “Setahun Taufik Ridlo: Saksi Kunci yang Pergi” itu adalah antiklimaks bagi semua pengkritik atau penghujat saya. Entah, apa yang menggerakkan? Pagi-pagi saya buka Facebook, sudah bertengger tulisan dari Hudzaifah Muhibullah, putra ulung almarhum Taufik Ridlo, yang berada di Jerman. Itu berkah buat saya.

Dialah putra Taufik Ridlo, yang saya ceritakan di dalam tulisan itu, yang dadanya dibelah, untuk diambil separuh hatinya, tapi batal dilakukan karena kondisi ayahnya, memang tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan operasi. Adalah bekas sobekkan di dadanya itu, bukti cinta dan bakti seorang anak kepada ayahnya yang tak bisa dihilangkan.

Terus terang, saya terharu membaca tulisan Hudzaifah itu. Bukan karena dia sudah mengklarifikasi beberapa pertanyaan yang digugat dan menguntungkan saya; saya bukan tukang produksi fitnah, hoax. Penulis dogeng, sekadar maharu-haru saja.

Tapi juga, karena sosok almarhum kembali hadir dan melayang-layang rendah dalam ingatan saya. “Kalau saja Taufik Ridlo belum pergi?” Itu pertanyaan yang langsung menyergap. Tak usah satu perkerjaan besar akan selesai, menjadi salah seorang saksi yang baik atas terciptanya sebuah lagu nasyid yang bagus, heroik, itu sudah cukup, bagi saya.

Dan juga, nama Hudzaifah itu sendiri sudah membuat hati saya bergetar hebat. Sebab, dalam salah satu komentar terhadap tulisan saya itu, sudah ada pula yang mengkait-kaitkan saya, dengan kisah Abdullah bin Ubay, tokoh munafik paling populer di zaman Rasulullah SAW. Siapa yang tidak sedih dan pilu?

Menurut saya, enam poin yang disampaikan Hudzaifah, tidak saja membenarkan, juga mempertegas tulisan saya. Soal sakitnya almarhum, kedekatannya dengan almarhum, termasuk kedekatan almarhum dengan Anis Matta dan Fahri Hamzah, serta cerita seputar ketiganya dalam aktivitas politik dan pilihan-pilihan politik pada masanya.

Tulisan Hudzaifah terlihat lebih dekat, orisinal, tegas, dan tajam. Tulisan saya yang masih berputar-putar memilih kata, oleh Hudzaifah disampaikan apa adanya, jelas, to the point. Dan tentu saja runtut.

Bukan saya tidak bisa, tapi kadang memang tidak mau. Saya masih ingin pembaca yang menangkap arah atau substansi dari tulisan saya, bukan saya yang menyampaikan. Kecuali, itu sudah menjadi rahasia umum. Begitu saja, masih banyak yang tak kuat membacanya. “Fitnahlah, sok tahulah, dan lain-lain.” Penulis tak boleh berbohong. Sesekali iseng, bolehlah.

Misalnya, soal sakitnya almarhum. Memang ada sakit, tapi karena rutin berolah raga, dia bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Tapi, juga tak menutup kemungkinan pemicu sakitnya pasca mundur dari Sekjen PKS. Dia mundur bukan karena mengurus bisnis, tapi karena memang ada masalah lain. Dia tidak mau menandatangi surat pemecatan Fahri Hamzah. Baginya, Fahri Hamzah tidak layak dipecat, karena rekam jejaknya.

Soal Anis Matta, Hudzaifah masih menutupi. Dia hanya bilang Anis Matta itu begini infaknya, begini ibadahnya, begini pemikirannya, begini-begitu. Sepertinya dia punya cerita lain yang tak mau diungkapkannya. Dia sudah menganggap keluarga Anis Matta sebagai keluarganya. Itu saja poinnya.

Dari tulisan Hudzaifah itu, saya bisa mengatakan bahwa ternyata saksi kunci yang pergi itu masih memiliki anak kunci, kunci cadangan. Itu karena saksi kunci yang pergi itu sudah bercerita banyak kepada anaknya. Saksi kunci itu belum pergi, masih ada.

Tapi, sayangnya, masih ada juga yang tak percaya setelah dijelaskan oleh anaknya, tentang ayahnya sendiri. Dia dianggap sebagai anak ingusan saja. Di situ saya kembali menjadi sedih dan pilu. Lalu Anda mau percaya siapa lagi?

Kalau hati sudah tertutup, kebenaran sekecil apa pun tak akan bisa masuk. Maka, penghakiman, hujantan, akan kembali hadir. Tapi kebenaran, akan tetap menang.

Oh ya. Setahun wafatnya Taufik Ridlo itu, nanti ya pada tanggal 6 Februari 2017. Kira-kira dua bulan lagi. Jangan lupa mengirim al-Fatihah buat beliau. Aamiin.

Erizal

Tinggalkan Komentar