Ilustrasi Horizon Samudera / Freepik

Semalem dalam sebuah perbincangan tiba-tiba guru kami bertanya pada kami semua, coba sebutkan nama pejabat dan pengurus di jamaah ini yang intriktif? Sebutkan juga yang sombong? Mau saya doakan dengan khusyuk malam ini, kata beliau.

Kami yang ada disana tidak banyak yang bicara, tidak berani pula menyebutkan nama, khawatir tidak tepat, khawatir salah.

Dan memang itu rupanya tujuan pertanyaan beliau. Bahwa kita benar mengkhawatirkan jamaah ini, banyak memikirkan jamaah ini, tapi tidak bisa memetakan lawan. Kita terus berkutat dalam hati, dalam pikiran, bahwa mungkin ada orang yang kita curigai mencelakakan jamaah ini. Melubangi kapal kita secara diam-diam. Bukankah orang-orang munafik merupakan musuh yang nyata.

Andai kita bisa memetakan seseorang mungkin tidak hanya kita doakan, mungkin kita berusaha keras untuk menghentikannya, melenyapkannya atau paling tidak mungkin sudah kita ajak ribut.

Lalu ada yang berkomentar, jika kita tahu siapa orangnya baiknya kita doakan supaya cepat masuk surga, sebelum itu doakan supaya tobat dari kesalahannya.

Tapi guru saya justru mengatakan soal dunia kita selesaikan di dunia, tak perlu kita bawa ke akhirat. Tak perlu pertikaian kita di dunia ini berlanjut ke surga. Mungkin kita akan bertemu mereka pula di surga, lain urusan itu, itu urusan akhirat.

Dan saya setuju dengan hal itu, begitulah seharusnya, urusan dunia tak perlu kita sumpah-sumpahi semoga dia masuk neraka. Cukup selesaikan di dunia. Ayo, cukup selesaikan disini, sekarang ini.

Tinggalkan Komentar