Ilustrasi

Jakarta, Jurnalpublik.com – Kalau melihat kurun waktu berdirinya Theosophical Society/Masyarakat Teosofi Dunia, di New York pada 1875 oleh Madam Blavatsky. Kondisi global di paruh kedua abad ke-17 itu memang lagi genting-gentingnya. Selain antar negara-negara Eropa saling berebut kavling geo-ekonomi di kawasan non Eropa.

Pada saat yang sama negara-negara Eropa yang kapitalis dan mulai semakin kemaruk untuk menjajah negeri negeri di Asia, Afrika dan Timur Tengah, menghadapi sebuah penghalang yang sulit ditakllukkan, yaitu Dinasti Utsmaniah Turki. Yang waktu itu berada dilam kekuasaan Sultan Abdul Hamid II.

Sayangnya, di dalam negeri Turki sendiri saat itu mengalami kerapuhan dan pelemahan internal dari dalam. Kalangan reformas Turki berhasil dibujuk Inggris agar mendesak Sultan Hamid II membentuk parlemen ala Wesminster Inggris. Maka kemudian muncullah Gerakan Turki Muda yang pada dasarnya merupakan gerakan kaum liberal yang merongrong kekhalifahan Utsmani.

Di tengah serangan asimetris Inggris melalui proxy agent-nya di dalam negeri Turki, berakibat lemahnya kekuatan angkatan bersenjata Turki dalam menghadapi serangan militer dari pihak asing.

Dalam kurun waktu antara 1876-1891, beberapa wilayah yang masuk dalam kedaulatan Turki di Afrika Utara dan Timur Tengah, lepas ke tangan Asing. Pertama, Mesir jatuh ke tangan Inggris. Tunisia dan Maroko, jatuh ke tangan Prancis. Disusul oleh Suriah ke tangan Prancis. Dan Libya jatuh ke tangan Italia.

Kembali ke berdirinya Theosophy Society, yang semula di New York Amerika, lalu berpindah ke Madras, India, nampaknya harus dibaca sebagai gerakan paralel menduking skema besar blok Barat, melalui serangan nonmiliter. Pelemahan negara-negara yang dipandang sebagai sasaran penguasaan melalui sarana sosial-budaya.

Hal ini terlihat dari beberapa tesis pokok berdirinya masyarakat teosofi ini. Pertama, di Eropa semakin meningkatnya egoisme dan materialisme, sehingga menjlema jadi kapitalisme dan kolonialisme.

Namun kalau jeli kita baca cetak biru alasan berdirinya perhimpunan ini, egoisme dan matrialisme hanya jadi dalih untuk pembenaran alasan berdirinya organisasi ini. Yaitu menghidupkan kehidupan batiniah melalui ilmu gnostik dan okultisme. Seakan-akan organ ini didirikan sebagai kekuatan batiniah menghadapi gelombang matrialisme dan egoisme. Namun niat sesungguhnya kelihatan diembel-embeli dengan kalimat: Bahwa ini dilakukan untuk menjadi alternatif dari agama-agama konvensional yang sudah tidak memadai atau tidak bisa diandalkan lagi.

Jadi jelas organ teosofi ini digunakan untuk melakukan pelemahan internal di semua agama-agama yang ada, dan pastinya terutama adalah negeri-negeri Islam yang cukup mengakar sebagai sebuah peradaban. Yang paling jadi sasaran kala itu tentu saja adalah Turki Utsmani.

Rupanya, kalau membaca dari dokumen pendiriannya, ilmu gnostik dan okultisme sebagai Ilmu Batin yang jadi landasan gerakan kebatinan Theosophy Society ini, ternyata merujuk pada Ilmu Kabala/kleniknya Yahudi-Zionis, Yang mana ini kemudian semakin ekspansid ketika Blavatsky menjadi ketua perhimpunan organisasi ini.

Meskipun ketika Blavatsky semakin mempunyai pengaruh kuat di India kemudian merujuk juga pada hindu dan ajaran Krisnamurti sebagai landasan pengembangan Ilmu Gnostik-Okultisme-nya, namun kesan saya hal itu hanya membuktikan bahwa salah satu misi gerakan teosofi ini, adalah mempenetrasi dan menembus kelompok-kelompok aliran kebatinan atau klenik yang sejatinya lebih cenderung pada kepercayaan Paganisme daripada Ilmu Ketuhanan seperti Islam, Kristen dan Katolik.

Di Indonesia sendiri, gerakan teosofi ini mulai berdiri sekitar 1907-1909, dan mencapai puncaknya di era 1920-an. Yang mana sejarah nasional Indonesia menggambarkan era ini sebagai era kebangkitan Nasional. Karena berdirinya Budi Utomo, Sarikat Islam, Indische Partij, dan sebagainya.

Namun kalau saya cermati perkembangannya di era masa penjajahan Belanda kala itu, kehadiran gerakan teosofi ini tetap dalam bingkai misi yang ditetapkan oleh Masyarakat Teosofi Dunia yang didirikan Madame Blavatsky pada 1875 lalu itu. Yaitu dengan dalih semakin maraknya egoisme dan matrialisme, perlu adanya gerakan kebatinan berskala internasional, sebagai alternate agama-agama yang ada.

Jadi kalau kita cermati di Indonesia, gerakan ini meskipun tidak pernah meluas dan mengembang, namun nampak sekali bertujuan untuk menggerogoti dari dalam. Dengan cara melakukan penetrasi dan penyusupan ke organ-organ yang dipandang mengakar secara sosial-budaya. Dan salah satu sasaran utama adalah kelompok-kelompok Islam.

Makanya sempat diupayakan untuk merangkul dan memasukkan berbagai kelompok kecenderungan Islam ke dalam apa yang mereka istilahkan Muslim Bond. Namun agaknya upaya tersebut gagal total. Alhasil, gerakan ini kalau kita cermati dari beberapa bahan kepustakaan yang ada, hanya berhasil merekrut dan membina kalangan keluarga-keluarga bangsawan atau kerabat Kraton Jawa.

Memang sempat disinggung beberapa nama yang notabene bukan dari kalangan bangsawan namun kelak dikenal sejarah nasional sebagai para tokoh sentral pergerakan kemerdekaan Indoensia. Seperti Haji Agus Salim, Dokter Rajiman Widyodinigrat, Dokter Tjipto Mangunkusumo, bahkan budayawan asal Minang Sanusi Pane.
Bukan itu saja. Raden Mas Sukemi, ayahanda Bung Karno, yang kelak menjadi Presiden Pertama RI, disebut-sebut juga sebagai anggota teosofi ini.

Menurut saya, adanya opini bahwa nama-nama tersebut merupakan rekrutan dan binaan Gerakan Teosofi ini, saya kira itu mis-persepsi yang sengaja dibuat. Dan mengada-ada.

Seakan-akan itu merupakan keberhasilan gerakan ini mengkader dan membina orang-orang hebat Indonesia. Sehingga kelak para tokoh ini menjadi ujung tombak pergerakan kemerdekaan Indonesia berkat jasa dari Kelompok Teosofi ini.

Kalaupun ada jasa dari kelompok teosofi ini, bukan karena para tokoh nasional tersebut secara sistematis dan terencana berhasil dipengaruhi alam pikiran dan ajaran teosofi ini. Melainkan hanya terinspirasi dan terilhami oleh atmosfer atau udara intelektual yang sadar atau tidak, kemudian mereka hirup.

Sehingga ketika beberapa tokoh seperti Bung Karno, Pak Tjipto, Haji Agus Salim dan Sanusi Pane tumbuh dan berkembang menjadi tokoh nasional dengan bobot intelektual yang cukup tinggi. Hal itu semata-mata hasil olah pikir dan olah jiwa mereka sendiri. Pada tataran ini, gerakan teosofi ini sekadar merangsang dan menginspirasi para tokoh nasional kita tersebut sebagai atmosfer atau udara intelektual yang mereka hirup dan hisap. Sehingga para tokoh nasional tersebut justru malah mampu mengembangkan potensi dan kekuatan kepribadiannya sendiri.

Bahkan kalau menelisik tesis pokok pikiran dan pandangan Bung Karno ketika menyusun konsepsi intelektualnya melawan pemerintah Kolonial Belanda, seoerti bisa dibaca dalam dua bukunya: Indonesia Menggugat dan Mencapai Indonesia Merdeka.Nampak jelas justru berlawanan dengan tesis pokok Theosophical Society, Bahwa bukan matrialisme dan egoisme yang menjelma jadi kapitalisme dan kolonialisme.

Justru kapitaliksme dan kolonialisme itulah, hulu penyebab terciptanya budaya materialisme yang kemudian kawin-mawin dengan feodalisme. Dan gaya hidup hedonisme. Artinya, ini merupakan kontra skema terhadap skema Iluminati dan Freemasonry yang berada di balik gerakan masyarakat Teosofi dunia tersebut.

Lantas bagaimana dengan kiprah Haji Agus Salim dan Dokter Rajiman yang dianggap anggota Teosofi? Memang beberapa dokumen sempat menyebut awalnya Agus Salim dikirim pemerintah Belanda untuk mengawasi dan menginteli HOS Cokroaminoto, Ketua Umum Sarikat Islam Indonesia. Namun sejarah kemudian membuktikan, Agus Salim malah takjub sama Pak Cokro. Dan kerjasama keduanya semakin solid. Apalagi ketika kelompok yang berada dalam pengaruh komunis Belanda, mulai mengobok-obok Sarikat Islam dengan memunculkan Sarikat Merah. Namun Agus Salim lah yang paling tegas menyingkirkan elemen elemen SI Merah tersebut.

Dokter Rajiman, ketika pada fase-fase paling menentukan menjelang Indonesia merdeka, merupakan Ketua Sidang Pleno Badan Usaha Persiapak Untuk Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahu membahu dengan Bung Karno dan Bung Hatta, yang 22 tahun lebih muda, memotori penyusunan landasan negara kebangsaan Indonesia, yang kelak kita kenal sebagai Pancasila dan UUD 1945. Yang mana kalau kita cermati isi dan pikiran pokok dari kedua pusaka nasional tersebut, sama sekali steril dari pengaruh gagasan pokok gerakan teosofi internasional. Apalagi besarnya pengaruh para ulama besar kita saat itu seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Haji Agus Salim, Abikusno Cokrosuyoso dan an lain sebagainya.

Hendrajit
Global Future Institute 

Tinggalkan Komentar