Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo mengadakan diskusi publik, “Indonesia Memasuki Era Digital, Siapkah Masyarakat Kita?” (8/12) di Auditorium LPP Yogyakarta.

Dr. Sukamta sebagai pembicara pertama bercerita bagaimana perkembangan teknologi yang berkembang cepat di Cina. 80 persen dunia riset di Cina sangat aplikatif. Bukan lagi penelitian, tapi sudah diwujudkan dalam kehidupan nyata.

“Di Cina teknologi bukan lagi for fun, tapi sudah untuk hidup (life). Harus digeser dari digital literacy ke digital inklusi. Pemerintah dan masyarakat harus mengejar ketertinggalan dalam hal teknologi. Suka atau tidak suka, kita harus siap memasuki era digital ini”, tutup politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.

Pembicara yang lain, Prof. Henri Subiakto, SH., MA., menyampaikan 60 persen orang di Indonesia tidak memiliki rekening tabungan tetapi 85 persen memiliki smart phone. Masyarakat Indonesia paling tidak mengakses internet rata-rata delapan jam per hari.

“Di era disruption (meminjam istilah Pak Rhenald Kasali) model komunikasi bisnis juga berubah. Sebagai contoh Go-Jek bisa survive karena bisa menangkap masalah menjadi peluang. Bagaimana endorser-endorser produk bisa digantikan selebgram seperti Awkarin melalui instagram. Yang mengkhawatirkan di era digital saat ini adalah bisnis hate speech dan hoaks. Kondisi ini bisa merusak demokrasi. Untuk itulah diperlukan literasi komunikasi”, ungkap Henri yang juga staf ahli Menkominfo RI.

Pembicara terakhir, Drs. Bambang Nurcahyo, M.Sc. ahli IT UGM memprediksi lima sampai dengan enam tahun ke depan banyak pekerjaan yang hilang digantikan oleh teknologi. Bahkan sekarang sudah ada mobil tanpa menggunakan sopir. Bambang mengingatkan audiens semua agar kita ikut berubah mengikuti perkembangan teknologi ini.[]

Tinggalkan Komentar