Jakarta, Jurnalpublik.com – Seperti halnya keilmuan yang terus berkembang, begitulah pengetahuan, tidak berhenti di satu tempat, tak berstandar.

Meskipun Darwin mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, tapi kini tidak ada yang percaya teori itu. Itu hanyalah penelitian satu orang.

Seperti juga Colombus mengatakan bahwa Amerika adalah benua temuannya, kini itu terbukti salah, benua Amerika bukan temuan tanah kosong.

Meskipun beragam teori ekonomi dibakukan, toh masih ada invisible hand, semua tak pasti. Tidak ada standar yang baku.

Begitulah otak manusia, begitulah manusia.

Dan seperti itulah sebuah kecerdasan.

Bertahun-tahun pemerintah membuat standar baku kecerdasan siswa, toh hari ini hal itu dibantah oleh sekian banyak sekolah swasta dengan konsep pendidikannya. Entah itu sekolah alam, entah itu sekolah berbasis hapalan, entah itu sekolah asrama, entah itu homeschooling, entah itu yang tidak sekolah. Tidak ada yang baku.

Meskipun Jepang bangga dengan konsep pendidikan sekolah dasarnya, toh selain itu mereka juga malu dengan tingginya angka bully dan bunuh diri di tingkat pelajarnya.

Meskipun Finlandia bangga dengan tidak ada PR bagi muridnya, toh siswa dengan seabrek piala kecerdasan kini lebih banyak diboyong anak-anak Asia.

Dan bagaimana dengan anak yang akselerasi. Bagaimana dengan anak yang fokus pada satu keilmuan dan kuliah diusia SD tapi tidak belajar ilmu lain, cerdas satu ilmu. Saya tidak bilang anak ini bodoh di ilmu lain, tapi jangan tanyakan dia tentang ilmu lain, dia tidak akan mengerti.

Sebagian orangtua merasa sedih ketika anaknya tidak menjadi hafiz seperti anak-anak di Palestina, mereka mungkin lupa lingkungan membentuk. Cobalah tanya pada psikolog bagaimana jiwa anak yang dipaksakan dalam belajar, apapun motivasinya. Toh kita tahu hukum menghapal alQuran.

Sebagian orangtua merasa sedih ketika anaknya tidak juara, padahal entah sudah berapa banyak sang juara tapi hidup sederhana. Kalau kaya yang dikejar yang saya maksud. Bukankah kini kekayaan adalah lambang kesuksesan.

Tidak ada standar yang baku dalam kecerdasan. Seseorang yang berpikir runut dengan otak kirinya tidak lebih baik dari seseorang yang berpikir melompat dengan otak kanannya, bukankah kita juga perlu lompatan-lompatan berpikir.

Apapun tingkat kecerdasan anak anda terimalah, syukurilah, dan biarkan dia berkembang sendiri. Biarkan dia belajar dengan gayanya sendiri, tak perlu dipaksa, tak perlu dibuat rumit. Tak perlu membebani anak.

Selamat menempuh ujian akhir semester bagi anak-anak Indonesia, belajarlah, bermainlah, bahagialah.

Tinggalkan Komentar