Foto : Agung Pribadi

Jakarta, Jurnalpublik.com – Jumat 1 Desember pukul 18.30 sehabis solat Maghrib pulang ke rumah badan menggigil. Aku minta tolong kepada istri untuk membuatkan air hangat. Akupun mandi air hangat, badan hangat sebentar. Tapi pas adzan isya badanku menggigil lagi.

“Bun! Ayah mau berangkat jam 2.30 dini hari ke monas ikut reuni 212, tapi badan kedinginan begini”.

“Ya udah nanti ayah berangkat abis Shubuh aja. Ini juga lagi sering ujan. Nanti keujanan malah tambah sakit!”

“Ya udah liat nanti malam!”

Akupun bangun jam 3 pagi. Sudah tgl 2 Desember nih. Hari reuni 212. Biasanya aku langsung mandi jam segitu.Ternyata….

“Brrrrrrrr!!!! Dingiiiiin banget… ujarku ketika air mengenai kaki.

Aku tak jadi mandi. Sehabis Sholat Shubuh baru aku bisa mandi.

Rasa beeraaaat sekali mau berangkat.

Aku teringat rumus dari Pak Ustadz kalau terasa beraaat dan malas mau berangkat ibadah yaitu “Allahumma Paksain!” Iya memang badan ini harus pakai rumus itu. Paksain!

Teringat pula aku dengan surat At Taubah ayat 41, “Berangkatlah kamu untuk berjihad baik terasa ringan ataupun berat!”

Teringat pula dengan kisah sahabat Nabi, Kaab Bin Malik yang lebih memilih bersantai-santai di rumah, ketika Nabi pergi dalam Perang Tabuk. Kaab pun akhirnya menyesal, takut dosanya tak diampuni.

Aku tak mau menyesal! Lagipula aku sangat rindu dengan para pembela Al Qur-an para pembela ulama, alumni 212.

“Brrrrrr… Bang tumben banget angiinnya dingin banget nih Bang, padahal saya sudah pakai baju dobel nih Bang!”

“Iya pak akhir-akhir ini memang banyak angin dan dingin banget Pak! Mau ke mana Pak!”

“Ke MONAS Pak. Reuni 212. Tapi udaranya dingin banget kalau naik motor gini Pak!”

“Ayo Pak lawan! Paling 15 menit sampe stasiun, Pak!”

Singkat cerita aku sampai stasiun DEPOK lama. Langsung membeli tiket PP ke Gondangdia.

Ketika sedang membeli tiket kereta arah Jakarta-Kota sampai.

Waduh biasanya berhentinya sebentar nih! Aku mulai panik. Dengan bantuan tongkatku, langkahku terseok-seok mengejar kereta.

“Pak satpam! Tolong bantuin Pak,nanti keretanya keburu berangkat. Ayo Pak cepat Pak! Tolongin!”

Dengan sigap 2 satpam stasiun Depok membantu menggotongku menaiki kereta commuter line sehingga aku bisa menaiki kereta sebelum keretanya berangkat. Akupun duduk dan 2 satpam itu mengawal sampai jauh ternyata! SAMPAI STASIUN GONDANGDIA! Salut dengan PT KAI!

Ketika turun aku dibantu satpam itu dan dua orang berseragam Majelis Dzikir yang juga akan ke Monas. Allahu Akbar! Suasana Ukhuwah mulai terasa.

Begitu turun kereta…

Pak ini nasi kotak buat bapak-bapak semua! Gratis!

“Terima kasih ukhti!” Ukhuwah makin terasa!

Tiba – tiba aku kebelet pipis, etapi toilet di Gondangdia ada tangganya! Aku yang tadinya mau pipis, gak jadi pipis. Akupun turun tangga stasiun dibantu Pak Satpam Sasiun Gondangdia. Ada juga beberapa ikhwan yang mau membantu kata pak Satpamnya gak usah.

Akupun memesan grab car. Ternyata drivernya mengirim chat. Pak! Saya terjebak macet di Gambir, cancel saja Pak. Baik pesan Grab bike saja!

Akupun memesan grab bike dan diantar sampai gambir.

“Udah mentok Pak! Macet! Motor gak bisa masuk!”

Akupun turun di Gambir dan mencoba mencari toilet. Ternyata antrian toilet panjaaaaaang sekali!

Setengah jam barulah selesai urusan toilet. Aku yang belum sarapan ini memesan kopi di kedai di Gambir, sambil memakan nasi sumbangan dermawan di Stasiun Gondangdia tadi.

Sehabis makan langsung jalan kaki menuju monas. Ya Allah jauuuuh sekali! Mana jalannya berupa con block jadi banyak lobangnya. Berkali-kali aku kejeblos di con block ini.

Laskar FPI mendekat dan menjabat tanganku.

“Assalamu alaikum. Allahu Akbar! Bisa Pak?”

“Bisa!”

“Alhamdulillah! Semangat Pak! Salut! berjihad terus pak! Kalau butuh bantuan panggil laskar saja Pak!”

“Baik akhi!”

Tidak lama ada lagi yang mengucap salam. Setelah nggobrol-ngobrol dia melakukan Live di Facebook.

“Assalamu alaikum saudara-saudara. Saat ini saya sedeang berjalan bersama Bapak Agung seorang difabel. Beliau berangkat sendiri dari Depok! Luar biasa! Ayo yang badannya sehat kakinya kuat berangkat semua sekarang ke Monas!!!!”

Diapun mengakhiri siarannya. Sesampai di tengah -tengah massa aku bertemu teman kuliah dan teman di Majalah Sabili dulu, Nurmah yang berangkat bersama suaminya Henra yang juga kamerawan di salah satu TV Swasta Nasional.

Akupun mengikuti ceramah demi ceramah’ Ada dua orang yang menyalamiku lalu mengajak foto bareng!.

“Salut akhi! Semangat!”

Suasana hatiku saat itu biasa saja. Tiba-tiba ada bendera Arroya raksasa melewatiku. Akupun memegangnya.

Entah kenapa tiba-tiba aku menangis sejadi-jadinya. Datangnyya sangat mendadak! Seperti sebuah rasa rindu yang amat sangat. Rindu Rasulullah SAW. RRIndu persatuan umat!

Yang memegang berlainan jaket berlainan bendera, tapi semuanya disatukan dengan kalimat tauhid!

Apalagi kemudian orator bercerita tentang Abdullah Bin Rawahah dalam perang muktah memegang erat panji Rasulullah SAW ini. Kemudian ditebas tangan kanannya. beliau ganti memegang dengan tangan kirinya menjaga bendera ini jangan sampai jatuh! Musuhpun menebas tangan kirinya. Beliaupun memegang dengan sisa-sisa lengannya, sampai kemudian musuh menusuk dadanya dan iapun syahid! ALlahu Akbar! Makin deras air mataku.

Rasa cinta ini yang membuat kita semua berkumpul di sini! Ini yang tidak dmengerti oleh orang-orang yang nyinyir!

Tidak lama kemudian selesailah rangkaian acara reuni 212. Akupun bertemu dengan teman kuliah, Syarif Budiman. Kamipun ngobrol banyak hal, panjang lebar. Sambil dia membelikan makan dan minum. Diapun mengantarkanku sampai naik kereta. Ketika kereta datang, ternyata keretanya tinggi sekali,dan akhirnya aku naik dan merangkak di dalam kereta.

“Ayo siapa mau beramal menyumbangkan kursinya untuk bapak ini?”

Seorang anak berusia kira-kira 12 tahun pun bangun dan memberikan kursinya.

“Alhamdulillah. Anak sholeh ya,nak” kata sahabatku.

Akupun duduk nyaman sampai Depok lama. Di stasiun ini 2 orang satpam dan 2 orang berpakaian koko putih dan berjaket majelis taklim menggotongku sampai keluar kereta.

“Terima kasih akhi jazakallah!”

Terima kasih Allah, sekali lagi pada hari ini hamba merasakan manisnya ukhuwah Islamiyah. Semoga bertahan terus Ya Allah! Aamiin. Wallahu A’lam bish Shawab.

Agung Pribadi
Penulis Best Seller Gara Gara Indonesia 

 

Tinggalkan Komentar