Fahri Hamzah ditengah para ulama dalam reuni 212

Jakarta, Jurnalpublik.com – Fahri Hamzah menggoncang kembali publik dalam orasinya di hadapan massa 212 di Monas.

Baca :

Fahri Hamzah di Reuni 212 : Kita Yang Akan Menjaga Republik Ini

Orasi Fahri Hamzah mampu membangun relasi atau koneksi dengan emosi hadirin dan juga emosi publik. Dalam orasinya Fahri Hamzah menyampaikan dua ayat dalam Al Quran yang dibacakan dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Bogor yang juga dihadiri Presiden Jokowi, para menteri dan pejabat negara lainnya

Dua ayat itu adalah Surat Al Baqarah 143 dan Surat Al Fath ayat 29. Dalam Surat Al Baqarah ayat 143 Fahri Hamzah menggaris bawahi pada istilah “ummatan wasathon” ummat pertengahan. Tidak akan ada bangsa Indonesia yang beribu-ribu pulaunya, beribu-ribu budayanya, beribu-ribu bahasanya, kalau bukan karena adanya ummat Islam sebagai ummatan wasathon.

Dalam surat Al Fath ayat 29, Fahri Hamzah menggaris bawahi tentang karakter ummat Muhammad SAW adalah keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Fahri Hamzah menegaskan bahwa yang akan menjaga Republik ini adalah umat islam dengan darah dan jiwa mereka. Orasi Fahri Hamzah membuat merinding jutaan publik yang datang pada 212 di Monas siang ini, Fahri Hamzah kembali menjadi juru bicara ummat dan penyambung lidah ummat.

Orasi Fahri Hamzah berbeda jauh dengan Shohibul Iman. Shohibul Iman dalam rilis resminya menyampaikan bahwa spirit 212 bukan hanya tentang penistaan agama, tetapi harus lebih dari itu. Shohibul Iman mengatakan bahwa gerakan 212 harus menjadi gerakan membangun kemandirian ummat, mengatasi darurat ketimpangan ekonomi serta jihad melawan koruptor dan pendukung-pendukungnya.

Tampaknya Shohibul Iman harus belajar banyak dari Fahri Hamzah, walaupun Fahri Hamzah sudah dipecat oleh Shohibul Iman dari PKS tetapi tidak ada salahnya Shohibul Iman belajar dari Fahri Hamzah, bukankah Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Sejarah 212 adalah sejarah pembelaan ummat terhadap penistaan agama bahkan penistaan Al Quran. 212 adalah pembelaan ummat terhadap agamanya, pembelaan ummat terhadap ‘izzahnya. Kemenangan Anis-Sandi yang diusung oleh PKS partainya Shohibul Iman dalam Pilgub DKI tidak bisa dilepaskan dari aksi 411 dan 212.

Pernyataan Shohibul Iman mengaitkan 212 dengan kemandirian ummat, ketimpangan ekonomi atau pemberantasan korupsi sah-sah saja. Tetapi justru itu menggambarkan ketidak pahaman Shohibul Iman dengan spirit 212 beserta latar belakangnya.

Wajar saja hal itu terjadi karena pada Aksi 411 pada saat itu Shohibul Iman setengah hati mendukung aksi 411, ini terbukti adanya larangan kader-kader PKS di beberapa daerah untuk mobilisasi ke Jakarta ikut aksi 411. Berbeda dg Fahri Hamzah yg ketika aksi 411 bersama jutaan ummat islam diatas podium dari Masjid Istiqlal sampai ke Istana.

Mengembangkan issue 212 kepada issue-issue yang keluar dari konteks spirit dan latar-belakangya adalah menjadi tidak relevan apalagi dikaitkan dgn pemberantasan korupsi dimana tokoh-tokoh Islam menjadi target kriminalisasi kasus pemberantasan korupsi, termasuk mantan Presiden PKS LHI

Tidak ada salahnya Shohibul Iman belajar kepada Fahri Hamzah tentang 212, karena Fahri Hamzah sejak awal mengawal spiritnya dari gedung parlemen. Atau tidak ada salahnya Shohibul Iman turun ke lapangan dan turun ke jalanan lagi bersama ummat agar lebih mengerti aspirasi ummat zaman now.

Terlepas dari itu semua, Shohibul Iman, Hidayat Nurwahid dan Fahri Hamzah ada dalam satu panggung di panggung 212 adalah pemandangan yang indah. Mungkin moment 212 ini saatnnya momentum Fahri Hamzah dipanggil kembali oleh Shohibul Iman dan Hidayat Nurwahid ke pangkuan PKS dan bersama-sama menyongsong kemenangan PKS di 2019.

Kalau 212 bisa menjadi pemersatu dan ishlah ummat Islam, kenapa 212 tidak bisa menjadi momentum ishlah di PKS? Semoga.

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar