Mr Bean hendak mengambil gambar wajah dirinya sendiri (Ilustrasi)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Mati karancaan artinya merasa bagus, merasa cakap, padahal oranglain tidak perduli. Yang lebih parah orang mati karancaan memandang orang lain rendah. Kasihan sebenarnya orang mati karancaan ini, merasa sendiri, gila sendiri.

Mati karancaan bisa terjadi pada banyak hal, salah satunya dalam hal ketampanan atau kecantikan. Dia merasa tampan, sibuk menyisir rambut, menyiuli setiap perempuan yang lewat, menggoyangkan kaki menunjukan pakaian, merasa keren. Yang disiul cuma melengos, tak perduli. Biasanya oranglain yang menghadapi orang mati kerancaan seperti ini akan disauti siulannya dengan ucapan, “ndeh matilah”. Maksudnya bukan mati sebenarnya, maksudnya yang disiuli tak perduli, tak tertarik, muak, semacam itulah.

Mati karancaan lain bisa pada kesukuan, misalnya sampai hari ini masih ada orang Jawa yang berpikir bahwa pemimpin Indonesia harus orang Jawa, padahal orang suku lain di Indonesia sudah tak perduli. Padahal zaman sudah berubah. Tahun 1900-an mungkin orang kulit hitam dipinggirkan, tapi kemarin Obama menjadi presiden Amerika. Setiap orang Amerika kulit putih yang mati karancaan ternganga saat itu. Untuk Indonesia mungkin akan sampai masanya. Pada dasarnya dalam hal kepemimpinan memang bukan kesukuan yang terpenting, membuat kemajuan dan kesejahteraanlah yang terpenting. Benar bukan?

Mati karancaan yang lain terjadi di PKS. Pemimpinnya mati-matian memuji diri, bahkan baru-baru ini merendahkan orang, mengatai ada penghasut. Mati karancaan. Padahal kader sudah tak perduli lagi padanya. Yang kader pikirkan adalah bagaimana dengan dakwah yang tak jelas arahnya, kemana perginya narasi perjuangan Islam ditubuh partai ini. Kader sudah muak. Tapi dia tetap saja mati karancaan, “ndeh…”.

Tinggalkan Komentar