Dari kiri ke kanan : Mahmud Altun, MAEd, (Sillicon Valley United Nation Association Co-Chair Advocacy) , Michael M. Honda, (U.S. House of Representatives, State of California), Bruce Balter (Supreme Court Judge of New York) , Prof. Din Syamsudin (Utusan Indonesia untuk UKP-DKAAP), Wendi Taylor (Global Youth Food Project), Tom Taylor (House of Representatives, State of Georgia)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Dalam kesempatan pertemuan kerjasama keagamaan dan peradaban antara Amerika dan Indonesia yang ditemui oleh Prof. Din Syamsudin sebagai utusan Indonesia untuk Dialog dan Kerjasasama Antar-Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), salah satu tamu kehormatan dari Amerika Serikat yaitu Mahmud Altun, MAEd menyampaikan permohonan kepada pihak Indonesia yaitu Prof. Din Syamsudin untuk menjadi penengah  konflik yang terjadi antara Presiden Tuki, Erdogan dengan Gerakan Hizmet setelah peristiwa kudeta gagal di Turki lebih dari setahun yang lalu.

Mahmud Altun yang juga berasal dari Turki ini menyampaikan Gerakan Hizmet yang dipimpin oleh Fethullah Gulen mendapat tekanan dari Presiden Turki , Erdogan , sehingga banyak pengikutnya atau yang disebut dengan Gulenis ditangkap dan lembaga – lembaga dibawah gerakan ini ditutup termasuk sekolah.  Menanggapi hal tersebut, Prof Din Syamsudin berjanji akan menyampaikan hal ini kepada Presiden Joko Widodo atau Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“kalau saya bependapat, sebagai pengamat dunia islam bukan sebagai utusan UKP-DKAAP, saya kira tidak demikian, Gerakan Hizmet ini hanya berdakwah, mirip dengan Muhammadiyah, hanya lebih hebat dari Muhammadiyah dimana mereka bisa mendirikan lembaga sekolah, universitas di 180 negara termasuk Equador dan , sayang jika kelompok ini kemudian mendapat tekanan, dan saya kira ini tidak bagus unuk Turki juga untuk dunia islam itu sendiri” terang Prof Din Syamsudin

Meski demikian , Polis Akademisi Yavinlari di Turki telah merilis 43 halaman laporan penelitian tentang keterlibatan Gerakan Hizmet terhadap kudeta gagal di Turki berjudul A New Generation of Terrorism an Analysis of Feto. Dimana Feto ini merupakan kepanjangan dari The Fethullahist Terrorist Organization.

Selain membicarakan permintaan agar Indonesia menjadi penengah antara Gerakan Hizmet dengan pemerintahan Turki, Prof Din Syamsudin juga menyimpulkan tiga langkah strategis yang menjadi mandat dari hasil pertemuan yang belangsung di Sekretariat Negara Selasa (28/11) tersebut untuk memperkuat keberagaman umat di Indonesia. Pertama, mewujudkan dan mengembangkan kerukunan umat beragama di dalam negeri. Kedua, mempromosikan kehidupan berlandaskan pancasila, rukun, damai dan bersatu.

“Terakhir saya diminta menjadikan Islam yang wasathiyah, Islam yang rahmatal lil alamin sebagai pedoman untuk menyebarkan Islam moderat serta agama membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat baik di dalam negeri maupun dunia” jelasnya.

Adapun utusan dari Amerika Serikat yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Mahmud Altun, MAEd dari Sillicon Valley United Nation Association Co-Chair Advocacy, Michael M. Honda dari U.S. House of Representatives, State of California, Bruce Balter dari Supreme Court Judge of New York , Wendi Taylor dari Global Youth Food Project dan Tom Taylor dari House of Representatives, State of Georgia.

Tinggalkan Komentar