Warren Harding

Jakarta, Jurnalpublik.com – Sejak lama saya terkesan dengan kisah Warren Harding, Presiden Amerika ke 29. Perjalanan karir Harding meraih kursi orang nomor satu di Amerika memang tak mudah. Namun, ia memiliki segalanya, yang dianugrahkan Tuhan padanya: kharisma, gesture dan bentuk tubuh yang sempurna. Harding adalah contoh ideal bagaimana pesona akan bisa menghilangkan rasionalitas dalam sebuah hajatan elektoral. Dan itu sudah dibuktikannya.

Kisah Harding menjadi Presiden Amerika tak lepas dari campur tangan Harry Daugherty. Pria pelobi ulung serta ahli hukum ini, suatu pagi di tahun 1899, secara tidak sengaja bertemu dan berbicang dengan Harding.

Ketika itu mereka bersama-sama sedang menunggu sepatunya beres di semir di taman belakang Globe Hotel di Richwood, Ohio. Daugherty mendapati informasi Harding hanya sebatas bahwa ia adalah seorang editor di sebuah surat kabar di kota Marion. Kebetulan juga, Harding sedang ikut pemilihan untuk menjadi anggota senat.

Lama sekali Daugherty mengamati Harding ketika mereka duduk berdua. Pandangan matanya tak lepas dari perawakan Harding yang begitu mempesona. Dalam buku “Inside Warren Harding Tragedy” karya Daugherty diceritakan bagaimana sosok Harding yang sangat sempurna. Ia adalah sosok “Captain America” yang sempurna, di usianya yang ke 35 tahun kala itu. Caranya bertutur, melangkahkan kaki, serta mendengarkan pendapat orang lain, membuat Daugherty meyakini bahwa Harding punya kesempatan besar menjadi pemimpin di Amerika. Lelaki dengan perawakan kekar, maskulin, dan jantan inilah yang dibutuhkan Amerika, katanya dalam hati. Insting politik Daugherty tak pernah salah. Ia sudah berkali-kali menjadi bagian dalam dunia politik di Colombus, ibukota negara bagian Ohio. Ia selalu menjadi tokoh dibelakang layar dari tokoh-tokoh yang muncul di Colombus. Dan sekarang ia menginginkan Harding menjadi tokoh yang akan diorbitkannya menjadi Presiden Amerika.

Duet maut Harding dan Daugherty kemudian berbuah hasil. Harding duduk sebagai anggota senat. Tahun 1914, ketika Harding menjadi senator, ia malah tak hadir dalam debat tentang hak perempuan dalam pemilihan umum dan tentang Prohibition (undang-undang yang melarang pembuatan dan penjualan minuman beralkohol di AS)–dua masalah politik paling penting kala itu.

Sejujurnya, Harding bukan orang yang sangat cerdas. Ia hanya piawai bermain poker, golf, dan minum-minum sampai mabuk, dan hampir selalu, memanfaatkan ketampanannya untuk merayu perempuan.

Selama menapaki karier politiknya yang menanjak, ia tidak pernah sekali pun menonjolkan diri. Ia peragu dan plin-plan dalam hal-hal yang menyangkut kebijakan. Pidato-pidatonya kelak digambarkan sebagai “serangkaian ungkapan kosong yang baru sampai ke tahap mencari gagasan.”

Namun, ia naik pelan-pelan dari karir politik yang semula hanya di Ohio semata-mata karena didorong oleh istrinya, Florence, dan ketika tampil di panggung diatur oleh si pintar Daugherty, juga karena, sewaktu usianya bertambah, ia semakin tampak tampan.

Alisnya yang lebat kontras dengan rambutnya yang keperakan memberinya kesan perkasa, sedangkan bahunya yang bidang dan kulitnya yang kecoklatan memberinya kesan bugar.” Harding, menurut Francis Russel–penulis biografinya, tinggal diberi toga dan tampil di panggung kalau kita ingin membuat drama berjudul “Julius Caesar”.

Kegantengan Harding kemudian membuat banyak media memberitakan sebagai “calon presiden yang tampan”, “sosok sempurna untuk presiden” di Pemilu Presiden Amerika tahun 1920. Daugherty meyakinkan Harding untuk maju mengikuti konvensi partai Republik.

Harding kemudian berhasil menyingkirkan lima calon lain dengan pidato “ungkapan kosong tanpa makna“, tapi dengan gaya dan pembawaannya yang mempesona!! Dan calon presiden Harding, yg asalnya dari desa, menjadi Warren Harding, Presiden Amerika.

Harding menduduki jabatan sebagai Presiden Amerika (1921-1923) selama dua tahun sampai meninggal secara tiba-tiba karena stroke. Kebanyakan sejarawan setuju bahwa ia salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah Amerika.

Tulisan singkat ini saya tulis tanpa bermaksud apapun. Diatas, saya sudah menyatakan bahwa saya sangat terkesan dengan Harding dan perjalanan karirnya. Sejak kuliah di UI dulu, saya selalu mengingat baik-baik perjalanan karir Harding dan selalu menjadikannya contoh ketika mengajar di kelas. Demikian!

Aulia Andri

Tinggalkan Komentar